Serat Darmogandul Februari 25, 2008
Posted by eddycorret in Artikel.Tags: Darmogandul, kontrofersi, Majapahit, Prabu Brawijaya, Sabdo Palon, Semar, Serat Darmogandul, Sunan Kalijaga, Sunan Kalijogo, Walisongo
trackback
Ingatlah ketika kerajaan Majapahit diserang Raden Patah
Prabu Brawijaya melarikan diri bersama Sabdo Palon
Kemudian Sunan Kalijaga berhasil menemukannya
Setelah berdebat maka Prabu Brawijaya masuk agama Islam.
Serat Darmogandul merupakan serat yang berisi cerita tentang dialog antara tokoh-tokoh pada jaman dulu kala di Indonesia. Dalam serat ini pula didapatkan cerita berubahnya keyakinan Prabu Brawijaya dari agama Buddha beralih ke agama Islam. Akan tetapi karena serat Darmogandul dinilai banyak pihak sebagai naskah yang bermuatan penghinaan terhadap Islam, maka serat tersebut dilarang beredar. Larangan inilah yang membuat Serat Darmogandul susah untuk diperoleh kembali. Kalaupun ada yang menemukan serat tersebut, biasanya masih asli berbahasa jawa dan belum diterjemahkan ataupun sudah diterjemahkan namun hanya potongan pendek saja. Akan tetapi alangkah senangnya karena kini telah ditemukan terjemahan lengkap Serat Darmogandul tersebut. Bagi anda yang ingin membacanya silahkan beranjak ke http://www.indoforum.org/showthread.php?t=37753 Berikut saya cuplikkan sedikit yang ada dalam Serat Darmogandul pada bagian dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di bawah ini :
Ganti yang diceritakan, perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari Prabu Brawijaya, hanya diiringkan dua sahabat. Perjalanannya terlunta-lunta. Tiap desa dihampiri untuk mencari informasi. Perjalanan Sunan Kalijaga melewati pesisir timur Pulau Jawa, menurutkan bekas jalan-jalan yang dilalui Prabu Brawijaya.
Sunan Kalijaga sang negosiator ulung
Perjalanan Prabu Brawijaya sampailah di Blambangan, Karena merasa lelah kemudian berhenti di pinggir mata air. Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang ada di hadapannya hanya abdi berdua, yaitu Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil menjumpainya. Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu. Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga, “Sahid! Kamu datang ada apa? Apa perlunya mengikuti aku?”
Sunan Kalijaga berkata, “Hamba diutus putra Paduka, untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada Paduka dimanapun bertemu. Beliau memohon ampun atas kekhilafannya, sampai lancang berani merebut tahta Paduka, karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintah negeri, disembah para bupati. Sekarang putra Paduka sangat merasa bersalah. Adapun ayahanda Raja Agung yang menaikkan dan memberi derajat Adipati di Demak, tak mungkin bisa membalas kebajikan Paduka, Kini putra Paduka ingat, bahwa Paduka lolos dari istana tidak karuan dimana tinggalnya. Karena itu putra Paduka merasa pasti akan mendapat kutukan Tuhan. Karena itulah hambah yang lemah ini diutus untuk mencari dimana Paduka berada. Jika bertemu mohon kembali pulang ke Majapahit, tetaplah menjadi raja seperti sedia kala, memangku mahligai istana dijunjung para punggawa, menjadi pusaka dan pedoman yang dijunjung tinggi para anak cucu dan para sanak keluarga, dihormati dan dimintai restu keselamatan semua yang di bumi. Jika Paduka berkenan pulang, putra Paduka akan menyerahkan tahta Paduka Raja. Putra Paduka menyerahkan hidup dan mati. Itu pun jika Paduka berkenan. Putra Paduka hanya memohon ampunan Paduka atas kekhilafan dan memohon tetap sebagai Adipati Demak saja. Adapun apabila Paduka tidak berkenan memegang tahta lagi, Paduka inginkan beristirahat dimana, menurut kesenangan Paduka, di gunung mana Paduka ingin tinggal, putra Paduka memberi busana dan makanan untuk Paduka, tetapi memohon pusaka Kraton di tanah Jawa, diminta dengan tulus.”
Sang Prabu Brawijaya bersabda, “Aku sudah dengar kata-katamu, Sahid! Tetapi aku tidak gagas! Aku sudah muak bicara dengan santri! Mereka bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya! Menunduk di muka tetapi memukul di belakang. Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata, agar buta mataku ini. Dulu-dulu aku beri hati, tapi balasannya seperti kenyang buntut! Apa coba salahku? Mengapa negaraku dirusak tanpa kesalahan? Tanpa adat dan tata cara manusia, mengajak perang tanpa tantangan! Apakah mereka memakai tatanan babi, lupa dengan aturan manusia yang utama!”
Setelah mendengar bersabda Sang Prabu demikian, Sunan Kalijaga merasa sangat bersalah karena telah ikut menyerang Majapahit. Ia menarik nafas dalam dan sangat menyesal. Namun yang semua telah terjadi. Maka kemudian ia berkata lembut, “Mudah-mudahan kemarahan Paduka kepada putra Paduka, menjadi jimat yang dipegang erat, diikat dipucuk rambut, dimasukkan dalam ubun-ubun, menambahi cahaya nubuwat yang bening, untuk keselamatan putra cucu Paduka semua. Karena semua telah terjadi, apalagi yang dimohon lagi, kecuali hanya ampunan Paduka. Sekarang paduka hendak pergi ke mana?”
Sang Prabu Brawijaya berkata, “Sekarang aku akan ke Pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung di Kelungkung. Aku akan beri tahu tingkah si Patah, menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa, dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit. Adipati Palembang akan kuberi tahu bahwa kedua anaknya sesampai di tanah Jawa yang aku angkat menjadi Bupati, tetapi tidak tahu aturan. Ia berani memusuhi ayah dan rajanya. Aku akan minta kerelaannya untuk aku bunuh kedua anaknya sekaligus, sebab pertama durhaka kepada ayah dan kedua kepada raja. Aku juga hendak memberitahu kepada Hongte di Cina, bahwa putrinya yang menjadi istriku punya anak laki-laki satu, tetapi tidak tahu jalan, berani durhaka kepada ayah raja. Ia juga kuminta kerelaan cucunya hendak aku bunuh, aku minta bantuan prajurit Cina untuk perang. Akan kuminta agar datang di negeri Bali. Apabila sudah siap semua prajurit, serta ingat kepada kebaikanku, dan punya belas kasih kepada orang tua ini, pasti akan datang di Bali siap dengan perlengkapan perang. Aku ajak menyerang tanah Jawa merebut istanaku. Biarlah terjadi perang besar ayah melawan anak. Aku tidak malu, karena aku tidak memulai kejahatan dan meninggalkan tata cara yang mulia.”
Sunan Kalijaga sangat prihatin. Ia berkata dalam hati, “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara, tidak tahu diri, kulit kisut punggung wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti kalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa, ketiga pemberi anugerah, Sudah pasti orang jawa yang belum Islam akan membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata. Pasti akan kalah orang Islam tertumpas dalam peperangan.”
Akhirnya Sunan Kalijaga berkata pelan, “Aduh Gusti Prabu! Apabila Paduka nanti tiba di Bali, kemudian memanggil para raja, pasti akan terjadi perang bear. Apakah tidak sayang Negeri Jawa rusak. Sudah dapat dipastikan putra Paduka yang akan celaka, kemudian Paduka bertahta kembali menjadi raja, tapi tidak lama kemudian lengser keprabon. Tahta Jawa lalu diambil oleh bukan darah keturunan Paduka. Jika terjadi demikian ibarat serigala berebut bangkai, yang berkelahi terus berkelahi hingga tewas dan semua daging dimakan serigala lainnya.”
“Ini semua kehendak Dewata Yang Maha Lebih. Aku ini raja bintara, menepati sumpah sejati, tidak memakai dua mata, hanya menepati satu kebenaran, menurut Hukum dan Undang-Undang para leluhur. Seumpamanya si Patah menganggap aku sebagai bapaknya, lalu ingin menjadi raja, diminta dengan baik-baik, istana tana Jawa ini akan kuberikan dengan baik-baik pula. Aku sudah tua renta, sudah kenyang menjadi raja, menerima menjadi pendeta bertafakur di gunung. Sedangkan si Patah meng-aniaya kepadaku. Pastilah aku tidak rela tanah Jawa dirajainya. Bagaimana pertanggungjawabanku kepada rakyatku di belakang hari nanti?”
Mendengar kemarahan Sang Prabu yang tak tertahankan lagi, Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka kemudian beliau menyembah kaki Sang Prabu sambil menyerahkan kerisnya dengan berkata, apabila Sang Prabu tidak bersedia mengikuti sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena akan malu mengetahui peristiwa yang menjijikkan itu.
Sang Prabu melihat tingkah Sunan Kalijaga yang demikian tadi, hatinya tersentuh juga. Sampai lama beliau tidak berkata selalu mengambil nafas dalam-dalam dengan meneteskan air mata. Berat sabdanya, “Sahid! Duduklah dahulu. Kupikirkan baik-baik, kupertimbangkan saranmu, benar dan salahnya, baik dan buruknya, karena aku khawatir apabila kata-katamu itu bohong saja. Ketahuilah Sahid! Seumpama aku pulang ke Majapahit, si patah menghadap kepadaku, bencinya tidak bisa sembuh karena punya ayah Buda kawak kafir kufur. Lain hari lupa, aku kemudian ditangkap dikebiri, disuruh menunggu pintu belakang. Pagi sore dibokongi sembahyang, apabila tidak tahu kemudian dicuci di kolam digosok dengan ilalang kering.”
Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga, “Coba pikirkanlah, Sahid! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua-renta, lemah tidak berdaya koq akan direndam dalam air.” Sunan Kalijaga memendam senyum dan berkata, “Mustahil jika demikian, besok hamba yang tanggung, hamba yakin tidak akan tega putra Paduka memperlakukan sia-sia kepada Paduka. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak Paduka, namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”
PERDEBATAN TEOLOGIS PRABU BRAWIJAYA
Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “ Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu alla ilaaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, artinya aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “
Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, “Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja tapi tidak tahu sifat-Nya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada sesuatu yang kelihatan mata, itu menyembah berhala namanya, maka manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin. Manusia mengucap itu harus paham kepada apa yang diucapkan. Adapun maksud Nabi Muhammad Rasulullah adalah itu Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji Muhammad di Arab. Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah letak rasa. Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lesan, rasul naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu rasa ala ganda salah. Diringkas menjadi satu Muhammad Rasulullah. Yang pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah, maka sembahyang yang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya. Ada pun raga manusia itu asalnya dari ruh idhafi, ruh Muhamad Rasul, artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang terbuka, karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat, tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian.”
Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabil hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Perdebatan dengan Sabdapalon dan Nayageggong
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong, “Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”
Sabdapalon berkata dengan sedih, “Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, Siapa yang bertahta menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur Paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun-temurun sampai sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba jika ingin tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri. Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menempati agama Buddha, Baru Paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. Jawa artinya tahu. Mau menerima berarti Jawan. Kalau hanya ikut-ikutan, akan membuat celaka muksa Paduka kelak,” Kata Wikutama yang kemudian disambut halilintar bersahutan.
Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata, karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal: (1) rumput Jawan, (2) padi Randanunut, dan (3) padi Mriyi.
Sang Prabu bertanya, “Bagaimana niatanmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasullalah dan nama Allah Yang Sejati?”
Sabdopalon berkata dengan sedih, “Paduka masuklah sendiri. Hamba tidak tega melihat watak sia-sia, seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji diri sendiri. Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebut Dewa Yang Maha Lebih. Dunia itu tubuh Dewata yang bersifat budi dan hawa, sudah menjadi kewajiban manusia itu menurut budi kehendaknya, menjadi tuntas dan tidak mengecewakan, jika menyebut Nabi Muhammad Rasulullah, artinya Muhammad itu makam kubur, kubur rasa yang salah, hanya men-Tuhan-kan badan jasmani, hanya mementingkan rasa enak, tidak ingat karma dibelakang. Maka nama Muhammad adalah tempat kuburan sekalian rasa. Ruh idafi artinya tubuh, jika sudah rusak kembali kepada asalnya lagi. Prabu Brawijaya nanti akan pulang kemana. Adam itu sama dengan Hyang Ibrahim, artinya kebrahen ketika hidupnya, tidak mendapatkan rasa yang benar. Tetapi bangunnya rasa yang berwujud badan dinamai Muhammadun, tempat kuruban rasa. Jasa budi menjadi sifat manusia. Jika diambil Yang Maha Kuasa, tubuh Paduka sifatnya jadi dengan sendirinya. Orang tua tidak membuat, maka dinamai anak, karena adanya dengan sendirinya, jadinya atas suatu yang ghaib, atas kehendak Lata wal Hujwa, yang meliputi wujud, wujudi sendiri, rusak-rusaknya sendiri, jika diambil oleh Yang Maha Kuasa, hanya tinggal rasa dan amal yang Paduka bawa ke mana saja. Jika nista menjadi setan yang menjaga suatu tempat. Hanya menunggui daging basi yang sudah luluh menjadi tanah. Demikian tadi tidak ada perlunya. Demikian itu karena kurang budi dan pengetahuannya. Ketika hidupnya belum makan buah pohon pengetahuan dan buah pohon budi. Pilih mati menjadi setan, menunggu batu mengharap-harap manusia mengirim sajian dan selamatan. Kelak meninggalkan mujizat Rahmat memberi kutukan kiamat kepada anak cucunya yang tinggal. Manusia mati tidak dalam aturan raja yang sifatnya lahiriah. Sukma pisah dengan budi, jika tekadnya baik akan menerima kemuliaan. Akan tetapi jika tekadnya buruk akan menerima siksaan. Coba Paduka pikir kata hamba itu!”
Prabu berkata “Kembali kepada asalnya, asal Nur bali kepada Nur”.
Sabdapalon bertutur “Itu pengetahuan manusia yang bingung, hidupnya merugi, tidak punya pengetahuan ingat, belum menghayati buah pengetahuan dan budi, asal satu mendapat satu. Itu bukan mati yang utama. Mati yang utama itu sewu satus telung puluh. Artinya satus itu putus, telu itu tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak, tetapi yang rusak hanya yang berasal dari ruh idhafi lapisan, bulan surup pasti dari mana asalnya mulai menjadi manusia. Surup artinya sumurup purwa madya wasana, menepati kedudukan manusia.”
Sang Prabu menjawab, “Ciptaku menempel pada orang yang lebih.”
Sabdopalon berkata, “Itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel di pepohonan besar, tidak punya kemuliaan sendiri hanya numpang. Itu bukan mati yang utama. Tapi matinya manusia nista, sukanya hanya menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir kemudian gentayangan menjadi kuntilanak, kemudian menempel kepada awal mulanya lagi.”
Sang Prabu berkata lagi, “Aku akan kembali kepada yang suwung, kekosongan, ketika aku melum mewujud apa-apa, demikianlah tujuan kematianku kelak.”
“Itu matinya manusia tidak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika hidupnya seperti hewan, hanya makan, minum, dan tidur. Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja, hilang makna hidup dalam mati.”
Sang Prabu, “Aku menunggui tempat kubur, apabila sudah hancur luluh menjadi debu.”
Sabdopalon menyambung, “Itulah matinya manusia bodoh, menjadi setan kuburan, menunggui daging di kuburan, daging yang sudah luluh menjadi tanah, tidak mengerti berganti ruh idhafi baru. Itulah manusia bodoh, ketahuliah. Terima kasih!”
Sang Prabu berkata, “Aku akan muksa dengan ragaku.”
Sabdopalon tersenyum, “Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging. Manusia mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad. Tidak bersyahadat, tidak mati dan tidak hidup, tidak bisa menjadi ruh idhafi baru, hanya menjadi gunungan demit.”
Sang Prabu, “Aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa memilih, terserah Yang Maha Kuasa.”
Sabdopalon, “Paduka meninggalkan sifat tidak merasa sebagai titah yang terpuji, meninggalkan kewajiban sebagai manusia. Manusia diwenangkan untuk menolak atau memilih. Jika sudah menerima akan mati, sudah tidak perlu mencari ilmu kemuliaan mati.”
Sang Prabu, “Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap Yang Maha Kuasa.”
Sabdopalon berkata, “Akhirat, surga, sudah Paduka kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam bear. Paduka akan pergi ke akhirat mana? Apa tidak tersesat? Padahal akhirat itu artinya melarat, dimana-mana ada akhirat. Bila mau hamba ingatkan, jangan sampai Paduka mendapat kemelaratan seperti dalam pengadilan negara. Jika salah menjawabnya tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya manusia, sreng artinya berat sekali, enggi artinya kerja.
Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi. Apa tidak celaka, manusia hidup di dunia demikian tadi, sekeluarganya hanya mendapat beras sekojong tanpa daging, sambal, sayur. Itu perumpamaan akhirat yang kelihatan nyata. Jika akhirat manusia mati malah lebih dari itu, Paduka jangan sampai pulang ke akhirat, jangan sampai masuk ke surga, malah tersesat, banyak binatang yang mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya berkerja dengan paksaan, tidak salah dipaksa.
Paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, Paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan. Bertemunya cahaya menyala menjadi satu, tidak pisah tidak kumpul, jauhnya tanpa batasan, dekat tidak bertemu. Saya tidak tahan dekat apalagi Paduka, Kanjeng Nabi Musa toh tidak tahan melihat Gusti Allah. Maka Allah tidak kelihatan, hanya Dzatnya yang meliputi semua makhluk. Paduka bibit ruhani, bukan jenis malaikat. Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Lata wal Hujwa. Jika sudah lama, minta yang baru, tidak bolak-balik. Itulah mati hidup. Orang yang hidup adalah jika nafasnya masih berjalan, hidup yang langgeng, tidak berubah tidak bergeser, yang mati hanya raganya, tidak merasakan kenikmatan, maka bagi manusia Buda, jika raganya sudah tua, sukmanya pun keluar minta ganti yang baik, melebihi yang sudah tua. Nutfah jangan sampai berubah dari dunianya. Dunia manusia itu langgeng, tidak berubah-ubah, yang berubah itu tempat rasa dan raga yang berasal dari ruh idhafi.
Prabu Brawijaya itu tidak muda tidak tua, tetapi langgeng berada di tengah dunianya, berjalan tidak berubah dari tempatnya di gua hasrat cipta yang hening. Bawalah bekalmu, bekal untuk makan raga. Apapun milik kita akan hilang, berkumpul dan berpisah. Denyut jantung sebelah kiri adalah rasa, cipta letaknya di langit-langit mulut. Itu akhir pengetahuan. Pengetahuan manusia beragama Buda. Ruh berjalan lewat langit-langit mulut, berhenti di kerongkongan, keluar lewat kemaluan, hanyut dalam lautan rahmat, kemudian masuk ke gua garbha perempuan. Itulah jatuhnya nikmat di bumi rahmat. Di situ budi membuat istana baitullah yang mulia, terjadi lewat sabda kun fayakun. Di tengah rahim ibu itu takdir manusia ditentukan, rizkinya digariskan, umurnya juga dipastikan, tidak bisa dirubah, seperti tertulis dalam Lauh Mahfudz. Keberuntungan dan kematiannya tergantung pada nalar dan pengetahuan, yang kurang ikhtiarnya akan kurang beruntung pula.
Awal mula Kiblat empat
Awal mula kiblat empat, yaitu timur (Wetan) barat (Kulon) selatan(Kidul) dan utara (Lor) adalah demikian. Wetan artinya wiwitan asal manusia mewujud; kulon artinya bapa kelonan; kidul artinya istri didudul di tengah perutnya; lor artinya lahirnya jabang bayi. Tanggal pertama purnama, tarik sekali tenunan sudah selesai. Artinya pur: jumbuh, na: ana wujud; ma: madep kepada wujud. Jumbuh itu artinya lengkap, serba ada, menguasai alam besar kecil, tanggal manusia, lahir dari ibunya, bersama dengan saudaranya kakang mbarep (kakak tertua) adi ragil (adik terkecil). Kakang mbarep itu kawah, adi itu ari-ari. Saudara ghaib yang lahir bersamaan, menjaga hidupnya selama matahari tetap terbit di dunia, berupa cahaya, isinya ingat semuanya. Siang malam jangan khawatir kepada semua rupa, yang ingat semuanya, surup, dan tanggalnya pun sudah jelas, waktu dulu, sekarang atau besok, itu pengetahuan manusia Jawa yang beragama Buddha.
Raga itu diibaratkan perahu, sedangkan sukma adalah orang yang ada di atas perahu tadi, yang menunjukkan tujuannya. Jika perahunya berjalan salah arah, akhirnya perahu pecah, manusia rebah. Maka harus bertujuan, senyampang perahu masih berjalan, jika tidak bertujuan hidupnya, dan matinya tidak akan bisa sampai tujuan, menepati kemanusiaannya. Jika perahu rusak maka akan pisah dengan orangnya. Artinya sukma juga pisah dengan budi, itu namanya syahadat, pisahnya kawula dengan Gusti. Sah artinya pisah dengan Dzat Tuhan, jika sudah pisah raga dan sukma, budi kemudian berganti baitullah, nafas memuji kepada Gusti.
Jika pisah sukma dan budi, maka manusia harus yang waspada, ingatlah asal-usul manusia, dan wajib meminta kepada Tuhan baitullah yang baru, yang lebih baik dari yang lama. Raga manusia itu namanya baitullah itu perahu buatan Allah, terjadi dari sabda kun fayakun. Jika perahu manusia Jawa bisa berganti baitullah lagi yang lebih baik, perahu orang Islam hidupnya tinggal rasa, perahunya sudah hancur. Jika sukma itu mati di alam dunia kosong, tidak ada manusia. Manusia hidup di dunia dari muda sampai tua. Meskipun sukma manusia, tetapi jika tekadnya melenceng, matinya tersesat menjadi kuwuk, meskipun sukmanya hewan, tetapi bisa menjelma menjadi manusia.
Ketika Batara Wisnu bertahta di Medang Kasapta, binatang hutan dan makhluk halus dicipta menjadi manusia, menjadi rakyat Sang Raja. Ketika Eyang Paduka Prabu Palasara bertahta di Gajahoya, binatang hutan dan makhluk halus juga dicipta menjadi manusia. Maka bau manusia satu dan yang lainnya berbeda-beda, baunya seperti ketika masih menjadi hewan. Serat Tapak Hyang menyebut Sastrajendra Hayuningrat, terjadi dari sabda kun, dan menyebut jituok artinya hanya puji tok.
Dewa yang membuat cahaya bersinar meliputi badan. Cahaya artinya incengan aneng cengelmu. Jiling itu puji eling kepada Gusti. Punuk artinya panakna. Timbangan artinya salang. Pundak itu panduk, hidup di dunia mencari pengetahuan dengan buah kuldi, jika beroleh buah kuldi banyak, beruntungnya kaya daging, apabila beroleh buah pengetahuan banyak, bisa untuk bekal hidup, hidup langgeng yang tidak bisa mati. Tepak artinya tepa-tapa-nira, Walikat, walikaning urip. Ula-ula, ulatana, laleren gegermu kang nggligir. Sungsum artinya sungsungen. Labung, waktu Dewa menyambung umur, alam manusia itu sampungan, ingat hidup mati.
Lempeng kiwa tengen artinya tekad yang lahir batin, purwa benar dan salah, baik dan buruk. Mata artinya lihatlah batin satu, yang lurus kiblatmu, keblat utara benar satu. Tengen artinya tengenen kang terang, di dunia hanya sekedar memakai raga, tidak membuat tidak memakai. Kiwa artinya, raga iki isi hawa kekajengan, tidak wenang mengukuhi mati. Demikian itu bunyi serat tadi. Jika Paduka mencela, siapa yang membuat raga? Siapa yang memberi nama? Hanya Lata wal Hujwa, jika Paduka mencaci, Paduka tetap kafir, cela mati Paduka, tidak percaya kepada takdir Gusti, dan murtad kepada leluhur Jawa semua, menempel pada besi, kayu batu, menjadi iblis menunggu tanah. Jika Paduka tidak bisa membaca sasmita yang ada di badan manusia, mati Paduka tersesat seperti kuwuk. Adapun jika bisa membaca sasmita yang ada pada raga tadi, dari manusia menjadi manusia. Disebut dalam Serat Anbiya, Kanjeng Nabi Musa waktu dahulu manusia yang mati di kubur, kemudian bangun lagi, hidupnya ganti ruh baru, ganti tempat baru.
Tuhan yang Sejati
Jika Paduka memeluk agama Islam, manusia Jawa tentu kemudian Islam semua. Badan halus hamba sudah tercakup dan manunggal menjadi tunggal, lahir batin, jadi tinggal kehendak hamba saja. Adam atau wujud bisa sama, jika saya ingin mewujud, itulah wujud hamba, kehendak Adam, bisa hilang seketika. Bisa mewujud dan bisa menghilang seketika. Raga hamba itu sifat Dewa, badan hamba seluruhnya punya nama sendiri-sendiri. Coba Paduka tunjuk, badan Sabdapalon. Semua sudah jelas, jelas sampai tidak kelihatan Sabdopalon, tinggal asma meliputi badan, tidak muda tidak tua, tidak mati tidak hidup. Hidupnya meliputi dalam matinya. Adapun matinya meliputi dalam hidupnya, langgeng selamanya.”
Sang Prabu bertanya, “Di mana Tuhan yang Sejati?”
Sabdopalon berkata, “ Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya. Paduka wujud sifat suksma. Sejati tunggal budi, hawa, dan badan. Tiga-tiganya itu satu, tidak terpisah, tetapi juga tidak berkumpul. Paduka itu raja mulia tenti tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini.”
“Apa kamu tidak mau masuk agama Islam?” tanya Prabu
Sabdopalon berkata dengan sedih, “Ikut agama lama, kepada agama baru tidak! Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba? Apakah Paduka lupa nama hamba, Sabdapalon? Sabda artinya kata-kata, Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu, bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.”
“Bagaimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan Sahid, aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi langit.”
“Iya sudah, silahkan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan.”
Sunan Kalijaga kemudian berkata kepada Sang Prabu, yang isinya jangan memikirkan yang tidak-tidak, karena agama Islam itu sangat mulia. Ia akan menciptakan air yang di sumber sebagai bukti, lihat bagaimana baunya. Jika air tadi bisa berbau wangi, itu pertanda bahwa Sang Prabu sudah mantap kepada agama Rasul, tetapi apabila baunya tidak wangi, itu pertanda jika Sang Prabu masih berpikir Buddha.
Sunan Kalijaga kemudian mengheningkan cipta. Seketika air sumber menjadi berbau wangi. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, seperti yang sudah dikatakan, bahwa Sang Prabu nyata sudah mantap kepada agama Rasul, karena air sumber baunya wangi.
Sabdopalon berkata kepada Sang Prabu, “Itu kesaktian apa? Kesaktian kencing hamba kemarin sore dipamerkan kepada hamba. Seperti anak-anak, jika hamba melawan kencing hamba sendiri. Paduka dijerumuskan, hendak menjadi jawan, suka menurut ikut-ikutan, tanpa guna hamba asuh. Hamba wirang kepada bumi langit, malu mengasuh manusia tolol, hamba hendak mencari asuhan yang satu mata. Hamba menyesal telah mengasuh Paduka. Jika hamba mau mengeluarkan kesaktian, air kencing hamba, kentut sekali saja, sudah wangi, Jika paduka tidak percaya, yang disebut pedoman Jawa, yang bernama Manik Maya itu hamba, yang membuat kawah air panas di atas Gunung Mahameru itu semua hamba, Adikku Batara Guru hanya mengizinkan saja. Pada waktu dahulu tanah Jawa gonjang-ganjing, besarnya api di bawah tanah. Gunung-gunung hamba kentuti. Puncaknya pun kemudian berlubang, apinya banyak yang keluar, maka tanah Jawa kemudian tidak bergoyang, maka gunung-gunung tinggi puncaknya, keluar apinya serta ada kawahnya, berisi air panas dan air tawar. Itu hamba yang membuat. Semua tadi atas kehendak Lata wal Hujwa, yang membuat bumi dan langit. Apa cacadnya agama Buddha, manusia bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa. Sungguh jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan Paduka akan celaka, Jawa tinggal Jawan, artinya hilang, suka ikut bangsa lain. Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang mengerti.
Coba Paduka saksikan, bulan depan bulan tidak kelihatan, biji mati tidak tumbuh, ditolak oleh Dewa. Walaupun tumbuh kecil saja, hanya untuk makanan burung, padi seperti kerikil, karena paduka yang salah, suka menyembah batu. Paduka saksikan besok tanah Jawa berubah udaranya, tambah panas jarang hujan. Berkurang hasil bumi, banyak manusia suka menipu. Berani bertindak nista dan suka bersumpah, hujan salah musim, membuat bingung para petani. Sejak hari ini hujan sudah berkurang, sebagai hukuman banyak manusia berganti agama. Besok apabila sudah bertaubat, ingat kepada agama Buddha lagi, dan kembali mau makan buah pengetahuan, Dewa kemudian memaafkan, hujan kembali seperti jaman Buddha.”
Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdapalon dalam batin merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha, Lama beliau tidak berkata. Kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu karena terpikat kata putri Cempa, yang mengatakan bahwa orang agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.
Sabdapalon berkata sambil meludah, “Sejak jaman kuno, bila laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah, tidak berwewenang memulai kehendak.” Sabdapalon banyak-banyak mencaci Sang Prabu.
“Kamu cela sudah tanpa guna, karena sudah terlanjur, sekarang hanya kamu kutanya, masihkah tetapkah tekadmu? Aku masuk agama Islam, sudah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak bisa kembali kepada Buddha lagi.”
Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan ke mana? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada di situ, hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang.
Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua, berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdapalon. Orang Jawa akan diajari tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdapalon dan Nayagenggong, tetapi kedua orang tersebut musnah.
Sang Prabu kemudian menyesal dan meneteskan air mata. Kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga,”Besok Negara Blambangan gantilah nama dengan Negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa membawa asuhannya. Adapun kini Sabdopalon masih dalam alam Ghaib.”
Demikian cuplikan Serat Darmogandul yang saya ambil dari http://www.indoforum.org/showthread.php?t=37753
Kontrofersi, Senin 25 Februari 2008
Eddy Corret
Komentar
Sorry comments are closed for this entry
saya kira kita tidak bisa mengambil keputusan, dengan berdasarkan pendapat satu pihak, namun sebagai opini saya kira artikel ini bagus.
Assalamu ‘alaikum,
ini bukan opini, melainkan cerita yang diambil dari serat Darmogandul. Kalau menurut saya, apa yang tertulis dalam serat Darmogandul ini adalah catatan sejarah dari salah satu sejarah bangsa Indonesia, tepatnya kerajaan Demak, dan Majapahit. Apa yang bisa dipelajari dari catatan sejarah itu adalah kita bisa menjadikannya salah satu landasan jalan berfikir kita dimasa sekarang. Apalagi zaman sekarang yang sudah mengesampingkan ajaran agama dan ajaran para leluhur kita yang bijaksana dan waskita.
Wassalam,
Hadi
Cuplikan Serat Darmogandul di atas sengaja saya tampilkan beserta sumbernya karena sangat penting bagi tulisan kontrofersi saya.
Memang tidak bisa diambil keputusan hanya dari pendapat satu pihak, namun sebagai referensi Serat Darmogandul sangat menarik. Demikian.
Arti Lucifer dan Illuminati adalah sama :
Lucifer = Illuminati = Pembawa Cahaya
…..
Illuminati = (Korporasi) Raksasa — Lambang “All Seeing eye” = Mata Satu
……
Sudah pernah lihat “Raksasa bermata Satu?”
http://library.thinkquest.org/05aug/00158/images/allseeingeye.jpg
Agama hanyalah sebuah source code…
Muhammad Yesus.
loh bukankan Lucifer tuh tidak nampak Om ?
Artinya tidak semua orang dapat melihatnya.
Oh iya pada puncak pemurnian bumi kelak Lucifer ikut muncul ndak yah ? biar seru ada Dajjal ada Isa ada Lucifer ada Yangweh ada Imam Mahdi dll.
Secret Society (Kelompok Rahasia -Illuminati) = Tidak Tampak
“Tidak semua orang dapat melihatnya” = Codex/Pesan2/Simbol2 dalam Agama=(Mungkin sebab itu sering dikatakan sesungguhnya bahwa terdapat tanda2 /simbologi2 dalam agama……yang dapat dilihat oleh beberapa orang yang memang “sungguh-sungguh” mencarinya — tidak secara harafiah (all seeing eyes dapat pula diartikan bahwa segala yang berasal dari mata (secara fisik) sesungguhnya adalah bentuk ilusi — check…rata2 orang2 berusaha menterjemahkan segalanya melalui bentuk fisik.
http://www.youtube.com/watch?v=dfDIVJXkfCU
Apakah Lucifer ‘akan’ datang?…mmm jika perhitungan anda bahwa planet bumi ini hanya berusia RIBUAN tahun – maka akhir jaman kemungkinan ‘tengah/akan’ berlangsung saat ini…namun jika Bumi ini telah berusia MILAYARAN tahun — and mungkin bersedia untuk menimbang bahwa sejak lahir (juga beberapa generasi nenek moyang kita) kita telah hidup pada era – LUCIFERIAN
http://www.youtube.com/watch?v=moxhY8IzOx8
salam,
Muhammad Yesus
“Tidak ada yang namanya ‘kebetulan’, yang ada hanyalah ilusi yang dianggap sebagai sebuah ‘kebetulan’….” – V For Vendetta / Jayabaya)
Saya juga menduga demikian. Mungkin merasa jenuh saja melihat jalannya roda kehidupan. Tapi OK lah saya yakin semua kan baik-baik saja. Makasih infonya.
membingungkan klo membicarakan sejarah dan masalah agama..
tapi infonya bagus..
hihihi
membingungkan yah.
dibuat sante aja bacanya.
bila mau diambil hikmahnya silahkan saja.
tetapi bila dikesampingkan juga ndak apa apa.
bebas memilih.
do you know any information about this in english?
Waduh
Apa ini ?
Penyesalan datang pada akhir cerita, itu sudah pasti.
Maka bagi kita orang jawa seyogyanyalah kita tahu bahwa jawa itu ngerti bukan jawan yang artinya nunut-nunut.
Cari siap sebenarnya leluhur dan diri kita…tugas dan kewajiban apa yang hrs kita laksanakan di dunia.
Selalu eling lan waspada, aja cubria lan tumindak ala..iku mau tuwuhing agama budi…
amin.
Serat darmogandul merupakan salah satu media propaganda saat itu yang digunakan agama budha siwa yang mulai kehilangan pengaruhnya di tanah Jawa.
Wah semuanya sih yang berurusan dengan sebuah negara yang kaya gitu tuh namanya propaganda..baik dalam islam, budha, hindu, kristen dll lah…
Propaganda adalah alat penguasa yang tertekan..licik dan kreatif..huahuahuahahahahaa….
Tapi yang diambil hikmahnya adalah bahwa Majapahit adalah kerajaan yang besar dan sulit untuk ditaklukan..jika tidak ada perpecahan dalam keluarga..em..manusia geetho lho!
Apalagi yang bersifat kerajaan..tahu kan…
Ada yang keturunan majapahit?
Hehe.
Siapa hayo yang keturunan Majapahit ?
Acungkan jarinya jangan malu-malu.
Kulo nuwun…
LastSamurai – Agustus 22, 2008
Serat darmogandul merupakan salah satu media propaganda saat itu yang digunakan agama budha siwa yang mulai kehilangan pengaruhnya di tanah Jawa…..
lha yang nulis aja Ronggo Warsito kog propaganda agama budha siwa…he he apriori mas??? lha anda itu apa orang jepang tho??
koq pake last samurai…he he kan lebih bagus last Clurit atau golok, jadi rodo indonesian gitu mas…maaf ojo marah
Apalagi sebagian dari yang dikatakan Sabdo palon sudah ada lho mas…jadi itu bukti!! tinggal kita menunggu penggenapan lakon nya
saja….santai tho!!, tapi pasti TERJADI !!
Akhir 2008 sebagaimana info dari sumber spiritual mas Eddy….BETUL!! dan saya setuju!!
Serat Dharmo Gandhul
…. bukanlah karangan kosong namun suatu karya yang didasari
adanya dhawuh atau wisik
…. makna ucapan Sabdo Palon pada hakekatnya memang Sabdo/
titah atas kejadian yang bakal ada, walau menurut pakem
biasanya tidak sejelas itu :
– menyatakan waktu dengan angka
– menyatakan figure personal…. siapa kelak sosok tsb
– menyatakan lokasi riil
– menyatakan apa yang akan dilakukan ….baca sendiri
coba bandingkan dengan Nostradamus, Joyoboyo, Ugo wangsit
dsb.
Yang Jelas Serat Dharma Ghandul itu betul ada!!
Tentang kejadian yang akan ada dikupas memakai ngelmu Co Ret alias Cocok digeRET atau anutan ya monggo kerso, Bebas !! baik hasilnya kesimpulan mempercayai ataupun tidak.
Nuwun
Apalagi sebagian dari yang dikatakan Sabdo palon sudah ada lho mas…jadi itu bukti!! tinggal kita menunggu penggenapan lakon nya
saja….santai tho!!, tapi pasti TERJADI !!
Waduh para penonton memang santai aja nungguin lakonnya jadi dan lagi digodok di kawah candradimuka. Lha yang ngelakoni kemut2 mas, isine nangis mulu kale ya saking bingung dan beratnya beban yang bakal dipikul…. dan suka gak suka mau gak mau tetep harus dilakoni…… hehehehe (ngebayangin ajah). Ya gak ada bedanya kayak komentator sepak bola lah… hehehehehe…..
Bukan sepak bola Om.
Tapi panjat pinang.
hahahaha panjat pinang…. rebutan hadiah tujuhbelasan…… untung2an donk….
mau sepak bola….mau panjat pinang….mau kasti, yo sak karepmu…laras2 aja
wong ya kita ngomong bebas aja koq …ya to nggak pajek….he..he
cuman kalo udah mentok biasanya ya ngucapnya kaya gitu gitu
he..he….. paling paling ya kayak mas eddy coret….” menurut sumber yang bisa dipercaya yang lagi ke amerika”…lha mau ke planet mars juga nggak opo2,…..yang penting kalau panjenengan wong jowo ya Jowo aja lah…pinter ngupas yang nostra….plato….tapi ngelu alias pusing kalau lihat tulisan jowo…kalu mau cari puas lewat tulisan ya monggo….buebasss. nah sekarang
saya nanya buat anda semua berani nggak kita semua bisa ketemu??? bawa penasehat spiritual juga boleh….eh buat mas eddy nunggu pulang dari amrik ya??? buat “den mas someone” nanti anda tak jadikan wasit nggak cuman komentator…bonusnya menarik atau malah mau jadi botoh? juga boleh,…buebass asal beaya sendiri 2sendiri…apa perlu door prize….oke
ada usul…..??
Saptaws – September 8, 2008
saya nanya buat anda semua berani nggak kita semua bisa ketemu??? bawa penasehat spiritual juga boleh…
Koment:
Wah beneran nih Mas Sapto, Saya siap datang deh, Kapan, dan Dimana? lalu apa yang akan di bahas? dan Asal nggak ngeluarin biaya saja Saya siap datang,
blak-blakan saja saat ini kondisi saya kaya pethit ular yang isinya balung dan kulit, gimana ada yang mau ngampiri/jemput nggak..?
Kadang-kadang yang lain gimana?… siap nggak ketemuan…
Mas hadi, Mas Someone, Boss Eddy, Mas dodo dll…? siap nggak…
Nambahin dikit lokasinya yang netral ya…
Mendingan ketemuannya besok ajah setelah Desember 2008 ajah, sekalian ngetes pendapatnya boss eddy, pas SP dah keluar… mbabar diri …. hehehehe….
kalo ternyata waktu itu ternyata SP belum nongol2 jatahnya boss eddy traktir kita-kita semua… hehehe
Waduh.
Keknya ndak bisa ikutan nih.
Gue diberi waktu nulis apa aja tentang SP hingga Nopember 2008. Makanya sekarang lagi suka corat-coret tentang dia. Tak puas puasin nulis apa aja nih mumpung belum Desember 2008.
Gue nitip salam aja bila ada ketemuan.
Wualah……lha nyang satu ini ….berat juga saya…lha saya juga nggak
punya gembolan lebih….bisa makan 1x sehari saja sudah bersyukur
yah kalo untuk makan seadanya dan antar jemput lokalan Solo ya oke….monggo!!!
yah buat panjenengan yang tull22 minat cari yang longgar saja,, atau gini nanti dibulan Oktober ada event di Solo, ya sebelum berangkat terawang dulu tul apa nggak!! monggo2 pake narasumber/penasehat spiritual masing2 …..sebenarnya ada 2 event di Oktober dan desember,,,lha pasti dikira sepakbola lagi tho…he he, sak karepmu buebasss!!
someone – September 8, 2008
Mendingan ketemuannya besok ajah setelah Desember 2008 ajah, sekalian ngetes pendapatnya boss eddy, pas SP dah keluar… mbabar diri …. hehehehe….
kasihan boss eddy mau di test….
SP nggak bakalan diidentifikasi secara riil, terkecuali anda memasuki
runut tatanan jagad alus baru bisa identifisir…lha wong nggak ada pelantikan pejabat SP….emangnya test nya kayak SPMB
saya yakin boss eddy tidak berpendapat….tapi pasti dapet info..hayo bener nggak bozz??
Buat Kyai Oleng….biar tambah afdol he he jangan marah ya…
tolong kirim email addressmu ke kenthouss@gmail.com atau pgybdgslo@gmail.com oke?
info selanjtnya akan tak kirim….via email
saptaws – September 9, 2008
“saya yakin boss eddy tidak berpendapat”
Hehehe udah ketahuan dulu nih. Hebat kk.
buat yang di Solo…. bukan mbedain karena apa2….cuma yang standby nya di solo kan ngirit..
kirim no HP ke email diatas ….kabar menarik dan pgybdgslo butuh kadang tambahan sampai jumlah tertentu……
karcis tanda masuk dapat diperoleh di situ…he he nah mirip lagi nonton bola kan….he he
nuwun
Sorry nyuwun ngapunten ….Medley
Buat Kiai Oleng….
kita nggak perlu mbahas….tapi nyimak lakon saja…kalau anda ketiban pulung ya, anda masuk dalam lakon…..simple kan!
Nuwun
Heheheheheh…
heheheh jok nesu yo Kyai
Jangan di panggil kyai Ngak wangun tur yaa nggak cocok orang kayak saya di panggil kyai….
manut Kangmas Kyai Saptaws jaaa dehh… khan beubasss
nanti tak usahain aku kirim wes email saya… Beubas juga taa… Trus Tak kirim ke email anda dua-duanya ben muarem …
*Buat Kiai Oleng….
kita nggak perlu mbahas….tapi nyimak lakon saja…kalau anda ketiban pulung ya, anda masuk dalam lakon…..simple kan!
Welelwlwlw lakon apa Kangmas Kyai Saptaws lha wong saya itu cuman cacing yang hidupnya cacing di peceren… okeh dangkal and ambune badeek, Bodho longa-longo meneh lha terus pulung apa yang mau sama orang busuk kayak saya ini…
lha nek Pulung Rokok di sini banyak Mas, Soalnya saya rokoknya kayak sepur jhe…
yah buat panjenengan yang tull22 minat cari yang longgar saja,, atau gini nanti dibulan Oktober ada event di Solo, ya sebelum berangkat terawang dulu tul apa nggak!! monggo2 pake narasumber/penasehat spiritual masing2 …..sebenarnya ada 2 event di Oktober dan desember,,,lha pasti dikira sepakbola lagi tho…he he, sak karepmu buebasss!!
Mas carane nerawang kuwi piye toh… hehehehe…. disini masih pake ilmu utak-atik gatuk, sedikit pake rasa en gak full2 banget karena takut keblinger… tapi belum pake terawangan. Kalo pake google earth bisa kelihatan gak ? hehehehe….
bos eddy termasuk sing pelit, pake hologramnya dong
Hehe.
Bukannya pelit, tetapi melihat komentar-komentar dahulu ketika saya bicara Hologram, keknya pada ndak bisa nerima. Karena memang Hologram itu rada ribet sih. Jadi sebaiknya bicara SP dari naskah-naskah yang ada aja. Kalo dari naskah kan udah pada ngerti, warisannya leluhur Nusantara.
Ikutan nimbrung :
Buat Kiai Oleng….
kita nggak perlu mbahas….tapi nyimak lakon saja…kalau anda ketiban pulung ya, anda masuk dalam lakon…..simple kan!
Waduh mas kalo saya gak usah dikasih lakon…. ngurusin idup diri sendiri saja dah bingung en cape kok…. apalagi ditambahi lakon. Lha kalo lakonnya pas kebagian enak masih mending… Lha jaman sekarang pasti lakonnya pasti banyak gak enaknya… dah gitu ada akomodasinya gak. Hehehehe….
Maka dari itu Mas Someone saya sendiri juga sependapat dengan anda…,
ada yang buruk dan ada yang baik, ada ( + ) dan otomatis ada ( – ). Nah jika setiap manusia maunya yang ( + ) lha terus yang ( – ) ????…. Tak nggonane dewe wess… malah silir, longgar dan nggak suk-sukan
cocok toooo sama saya Oleng/cacing yang hidupnya di dasar peceren yang penuh dengan noda dan lumpur yang berbau busuk…!!!
Jalani aja hidup yang Apa adanya aja, nggak usah neko-neko,Kalo lapar ya Makan, Kalo haus ya Minum, Kalo Ngantuk ya Tidur, Lha nek nggak ada makanan sama sekali ya Ngemis
Nek ngemis nggak di kasih yaa Nyolong dong Mas
Lha Kalo ada lakon berarti kaya kethoprak or wayang dunk… lha nek ketiban lakon dan membawakan peran tokoh yang gak euuunakkkk… piye hayoo… padahal sekarang manusianya maunya pada yang eunak-eunak gak mau ngrekoso… lha terus pada akhirnya rebutan yang baik-baik dan rebutan masuk surga lhaaaa terus yang jelek-jelek dan Intipnya neraka buat siapa yaaa…!!!
Padahal di dunia itu hanya ada 2 alternatif
jadi nggak perlu lakon-lakonan Mas Saptows….
Jare “Wong Urip Iku Sak Dermo Nglampahi” lhaa iso nyebut tapi do kroso Ora….???
Salam
“Ayo Bareng-bareng Urip”
Kiai Oleng…
Ben Muantep….Kiai Oleng Jogo Kalen Among Peceren…lha lengkap sudah tho…..lha priyayi mukti dari Yogya koq merendah macem gitu…jadinya ya dilengkapi saja asmanya….he he mung guyon saja..aja duka (nesu) nanti jadi lupa kinang susurnya…eh rokok nya
Teng We kulitan Klobot ….maaat tuenannnn!! ojo nesu maneh!!
someone…..
lakon kalau pas jatuh yang nggak enak yo apesss….he he disyukuri tho jangan nggresulo nanti kan ketemu enaknya dikemudian hari….
ya itung2 cokromanggilingan….semoga !! pas diatas /enak laker rodanya cokromanggilingan rusak jadi kan nggak turun kebawah…
.
Nerawang….he he seperti kita lihat kutang itu lho …. pertama bajunya di lihat terus lha nanti kita bisa lihat kutangnya llengkap warna, ukuran…lha lama lama mesti lihat isi kutangnya….he he…
supaya simple..hubungi bos Eddy minta tolong padanya untuk dipertemukan dengan penasehat spiritualnya,….jangan lupa fee nya
pake google earth bisa aja….dicoba aja…kalau google search wah malah nggak hanya kutang yang bisa diterawang…pasti udah make kan!!
Boss Eddy C
ya kalau mau ngamal ilmu kan ya baik tho…dapet pahala
Apa panjenengan itu Pelit tho???? kata Mas Endang
Puasa ya?? Ya sarapan dulu, atau buka….PErut meliLIT tho
nuwun,
OH YA LUPA…..
nama/gelar saya lengkapnya
Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng…sansaya Remuk tho….he he bueeen …puasss!! puasss!!
nuwun
Sek bentar Mas Saptows

Saya tak ketawa dulu ndak kuat nahan saya…
Weleh… Mukti apanen Mas lha wong urip-nya saya aja kalo di embake ning pethit ulo sing paling pucuk dewe jhee ora percoyo…!!!

Jok di trawang yaaa kan dah maaat tuenannnn!!
Sekali lagi ojo di trwang maneh yaaa..!!
Guyon lhooo Kang Mas….
Wah nek gitu Kangmas Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng juga ikut tak Among dong lha jumbleng kan juga peceren thooo cuman isinya bekas makanan dan minuman yang masuk di raga kita
nanti yang ngurai juga Oleng/cacing, Lha nek trocoh airnya yang muncrat yaa masuk ke kalen dulu… Cocok masss…
Jok nesu lhooo guyon lhoo masss…
Ben diarani sombong sithik… hehehehehe
Muanteeepp kakak…!!!
waduh.. waduh…
)
piyantun ngajogjakarta kaliyan solo menawi gojegan saged damel weteng kawula mules berat… hehehehe… lucu tenan….
Isine tolah toleh, korek-korek jumbleng kaliyan got, peceran… gojegane… asal mboten kejlungub terus adusan sekalian…
Waduh juga.
Bagi yang tahu bahasa Jawa ndak masalah dan bisa senyum-senyum membaca komentar di atas. Tetapi bagi yang ndak tahu bahasa Jawa jadi pusing keknya, Hihihi.
Nerawang….he he seperti kita lihat kutang itu lho …. pertama bajunya di lihat terus lha nanti kita bisa lihat kutangnya llengkap warna, ukuran…lha lama lama mesti lihat isi kutangnya….he he…
Halah-halah latihan nerawang spiritual kok testing-e kutang cewe seh… jan kemproh tenan… gak dibawah puser sekalian ajah…. hehehehe
Weehh… kemarin itu gojekanya emang sambil mandi Mas Someone…
lha Mas Saptows urik… Adine di joroke neng peceren karena kecemplung dan basah kuyub ya saya pura-pura tenggelam, nah Terus Mas Saptows khan mo nolong… pada saat menjulurkan tanganya saya tarik sekalian… nah kecemplung deh…. jadinya khan basah kabeh dan ketawa berat ibn ngakak deh semuanya, sambil berenang dan gojekan di peceren hehehehe
)
( Kayak di sinetron aja… bedane kalo di TV itu kolam beneran kalo ini peceren Mas…
Gak Percaya Tanya aja sama mas Saptows…
wah itu metode manjur dan pass…
Dengan metode seperti itu akan makin cepat berhasilnya soalnya Teganganya Kuat Buangeeettt gitu lhooo Hehehehe
Monggo di babar Mas Saptows metode trawang kutang-nya….
Welleh wellleh JERUK makan JERUK nantinya…he he DUROKO nanti,,lanjutannya jadi iklan Mie merk SODO dengan jingle :
SODO…. Mie…… seleraku!!! mengkorok oh buluku…….
Nah kalau Kiai Oleng dapet Mustiko KENYO ….modus operandinya spt itu….he he…hayo ngaku!!
Nyemplung…njaluk tulung…..terus mlengkung….akhirnya mlendhung!!!! hua…hua…
Tull!! Panjenengan nDalem Sejatosipun dewoto kang kajibahan dados pamomong kulo ingkang tansah paring gondo lan tirto ingkang saged nyantosani rogo lan sukmo ngantos klengerrrrr!!!
drodok…dok…dok
Weh buat Den Someone…
Ngueeresssss..yang bilang kutang cewe siapa?? lha kutang Ontokusumo yang pake apa cewe?? ….he he
Kemproh ning lhak Ngangeni…buktinya
kita selalu ketagihan kemproh2an tho…..kalau saya weh nggak hanya kemproh, tetapi malah mbah e bahkan dahnyang e kemproh
topo mbolot salawase urip…. he ..he
Coba saja resapi dan latihan Aji Trawang Kutang…
Toto coro….:
Anteng , meneng…
Mandeng……
Heneng………
Pelan tapi pasti….baju akan terkoyak…dan terpampang kutang (warna, bentuk, ukuran)….akhirnya kutang akan tertanggal nah prosesi terawang berhasil…..
Cuma wanti2 saya jangan lanjutkan Aji Goyang Isi Kutang…nanti jadi
CLENG……ya kan Kemproh dan Trocoh !!!
Den ini sanepan proses Aji Terawang…jangan lupa ucap doa/rapal atau apalah ( saya percaya panjenengan gudangnya ilmu Rapal…warisan mBah Adoh..) diawal dan diakhir proses ya…. selamat mencoba
Mekaten atur wicoro Trocoh lan Kemproh amargi……..
Sampeyan nDalem Kanjeng Eddy Coret sampun paring pratandha
supados wangsul dateng Laptop….Lhak mekaten tho Adi Guru…??
Sumonggo…….gendhing ladrang adus resik bibar kemprohan katabuh dening poro yogo….
Sumonggo Adi Guru paring Wedar…..drodok…dok…dok
Nuwun
Nah kalau Kiai Oleng dapet Mustiko KENYO ….modus operandinya spt itu….he he…hayo ngaku!!
Hmmm mustika KENYONYOK UDUT itu yang bener Kang Mas…!!
hehehe
* Nyemplung…njaluk tulung…..terus mlengkung….akhirnya mlendhung!!!! hua…hua
Itu betull juga kakang tapi yang Pener gini Kyai kenthouss (Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng)…
Di Joroke… Kecemplung… Njaluk tulung karo seng njoroke… sing njoroke di tarik sisan… sik njoroke kecemplung ugo… teles bareng… mlengkung bareng… blendung bareng…!! dadine Ayo Bareng-Bareng …… ??? hehehehehe… hua hua..
*Tull!! Panjenengan nDalem Sejatosipun dewoto kang kajibahan dados pamomong kulo ingkang tansah paring gondo lan tirto ingkang saged nyantosani rogo lan sukmo ngantos klengerrrrr!!!
drodok…dok…dok
he e ee eee ladallah lelakon punapa malih Kakang… Kakang saget menggalih kados mekaten… pinanggih pinten perkawis kakang… Sak punika monggo dipun penggalih… kakang sejatosipun Satriyo ingkang kadah gondo inggkang arum benten kaliyan Adi namung gadah gondo ingkang mambet peceren… Kakang anggadahi Sabdo Wicoro ingkang nggadahi doyo kang lebet… benten kaliyan Adi ingkang namung nggadahi panemu ingkang cethek… Lajeng kakang ndebak Adi paujudane dewoto… punika pinanggih pinter perkawis Kakang…. punopo mboten kuwalik kakang…???
oooowwwwwwwnngggg
drodok…dok…dok…
*Sumonggo Adi Guru paring Wedar…..drodok…dok…dok
Kangmas Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng kedahipun Panjenengan Ndalem ingkang paring wedar wewarah dumateng Adi lan poro kadang, Nopo malih adi namung paujudaning oleng ingkang gesang wonten sak lebeting peceren, lang kebak dangkal soho nggondo ingkang badek, Dados mboten Trep menawi Adi paring wedar wewarah
Mekaten Atus wicoro ingkang cethek lan mboten wonten makna punapa-punapa
Sumonggo…….di pun ambali malih… gendhing ladrang adus resik bibar kemprohan katabuh dening poro yogo….
Welleh wellleh JERUK makan JERUK nantinya…he he DUROKO nanti,,lanjutannya jadi iklan Mie merk SODO dengan jingle :
SODO…. Mie…… seleraku!!! mengkorok oh buluku…….
Hua hua hua ngakak berat…
Wah.
Coba Ucup Kelik ikut plesetan. Wow makin seru keknya.
Ngapunten badhe nyela atur
……Adi Guru sejatosipun meniko ingkang dados pangarso inggih ingkang hamengku karso Gumelaring paseban wonten kedhaton “kontrofersi” mriki meniko, ingkang jejulk Den Mazz Eddy Coret…. monggo katuran
dro dog….dog dog!!!
OOOOwwwwwwwww
Neng …nong…….Ning……..GUNGGGGGGGGG!!
Nuwun
Weg.
Tulisan saya ini kontrofersi lo Om. Ada yang bisa nerima tetapi banyak yang menolak. Om tau sendiri kan.
Kita diskusi aja, ndak usah pake unggah-ungguh kacuali terpaksa, hihihi.
Perkara ada yang nerima atau yang menolak…..jangan ambil pusing
sah sah saja,
malah kita semua bisa tahu,….Yo opo orang kalau bebas berpikir dan ngomong itu…..nah kan ada gunanya!!
Kalau hal unggah ungguh yaa…..monggosuko saja, tetapi yang namanya unggah ungguh ya seyogyanya masih dipake to Bozz
karena unggah ungguh kan bukan artinya hanya ewuh pakewuh,
ngajeni, dsb tapi juga sebagai batasan walau setipis apapun
sehingga terwujud koridor….nah maksudnya alur pembicaraan
di kontroversi……supaya ndak nggladrah buanget, etung2 yang buat sudah susah payah walau sambil tiduran,…..he he
Lha kalo tlonyar tlonyor macem saya gini nggak ada rem nya
bisa di gebukin sama banyak orang…..!!!bonyokkk nanti
malah malah disantet….whua whua ….takuuut!!…..
yang penting KONTROVERSI jalan TERUSS!!,,…bisa untuk nambah pengalaman/pengetahuan, nambah kadang…sedulur…
nuwun
Nuwun injih Kakang…
Kang Mas
Gandeng Kang Mas sampun paring tondo Dumateng Adi supados Adi Ndodog lenggah sinambi midangetaken saho nglaras gending-gending Ala “KONTROVERSI” wonten ing sak lebeting Dampar Paseban Wonten ing Kraton “KONTROVERSI” Mriki Adi sampun ndodog lan lenggah kawit wingi Ngantoss Keju
Creek crekcek cek cek15x
drodog dog dog
Kocap Kacarita…

ooooowwwwwnngg…
Drodog dog dog5x
Si Oleng mung tilang-tilong koyo munyuk ketulup
ndelog polah tingkahe para kadang ing kraton “KONTROVERSI”…. lan poro wiyogo kang nabuh gamelan kanti Judul Gending “KONTROVERSI”
Mugo KONTROVERSI jalan TERUS…
Oooowwwwngggg
Droodog dog dog
Monggo Katuran Ugi Droodog dog dog
Crecekk cek cek …..
Weg, Ki dalang wes tangi.
Dalang Eddy, baru persiapan Mudik, jadi repot, harap maklum
hua ha ha hah ha hah hah hah pedueesss bar mangan nasi gandul nna ngarepe harboss…he heh he he
kok sajak gayeng…
kula kertiwindu saking tlatah roban nderek klesam klesem maos poro kadang sami gegujengan….
monggo dipun lajeng
salam patepangan nggih para dulur sadayo ingkang sami nguri2 kabudayaan jawi
Yah.
Silahkan saja dilanjutkan.
Biar tambah pengetahuan.
Makasih
Buat siapa saja atas komentar-komentarnya