Serat Darmogandul

Posted: Februari 25, 2008 in Artikel
Tag:, , , , ,

Ingatlah ketika kerajaan Majapahit diserang Raden Patah
Prabu Brawijaya melarikan diri bersama Sabdo Palon
Kemudian Sunan Kalijaga berhasil menemukannya
Setelah berdebat maka Prabu Brawijaya masuk agama Islam.

Serat Darmogandul merupakan serat yang berisi cerita tentang dialog antara tokoh-tokoh pada jaman dulu kala di Indonesia. Dalam serat ini pula didapatkan cerita berubahnya keyakinan Prabu Brawijaya dari agama Buddha beralih ke agama Islam. Akan tetapi karena serat Darmogandul dinilai banyak pihak sebagai naskah yang bermuatan penghinaan terhadap Islam, maka serat tersebut dilarang beredar. Larangan inilah yang membuat Serat Darmogandul susah untuk diperoleh kembali. Kalaupun ada yang menemukan serat tersebut, biasanya masih asli berbahasa jawa dan belum diterjemahkan ataupun sudah diterjemahkan namun hanya potongan pendek saja. Akan tetapi alangkah senangnya karena kini telah ditemukan terjemahan lengkap Serat Darmogandul tersebut. Bagi anda yang ingin membacanya silahkan beranjak ke http://www.indoforum.org/showthread.php?t=37753 Berikut saya cuplikkan sedikit yang ada dalam Serat Darmogandul pada bagian dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon di bawah ini :

Ganti yang diceritakan, perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari Prabu Brawijaya, hanya diiringkan dua sahabat. Perjalanannya terlunta-lunta. Tiap desa dihampiri untuk mencari informasi. Perjalanan Sunan Kalijaga melewati pesisir timur Pulau Jawa, menurutkan bekas jalan-jalan yang dilalui Prabu Brawijaya.

Sunan Kalijaga sang negosiator ulung

Perjalanan Prabu Brawijaya sampailah di Blambangan, Karena merasa lelah kemudian berhenti di pinggir mata air. Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang ada di hadapannya hanya abdi berdua, yaitu Nayagenggong dan Sabdapalon. Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil menjumpainya. Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu. Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga, “Sahid! Kamu datang ada apa? Apa perlunya mengikuti aku?”

Sunan Kalijaga berkata, “Hamba diutus putra Paduka, untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada Paduka dimanapun bertemu. Beliau memohon ampun atas kekhilafannya, sampai lancang berani merebut tahta Paduka, karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintah negeri, disembah para bupati. Sekarang putra Paduka sangat merasa bersalah. Adapun ayahanda Raja Agung yang menaikkan dan memberi derajat Adipati di Demak, tak mungkin bisa membalas kebajikan Paduka, Kini putra Paduka ingat, bahwa Paduka lolos dari istana tidak karuan dimana tinggalnya. Karena itu putra Paduka merasa pasti akan mendapat kutukan Tuhan. Karena itulah hambah yang lemah ini diutus untuk mencari dimana Paduka berada. Jika bertemu mohon kembali pulang ke Majapahit, tetaplah menjadi raja seperti sedia kala, memangku mahligai istana dijunjung para punggawa, menjadi pusaka dan pedoman yang dijunjung tinggi para anak cucu dan para sanak keluarga, dihormati dan dimintai restu keselamatan semua yang di bumi. Jika Paduka berkenan pulang, putra Paduka akan menyerahkan tahta Paduka Raja. Putra Paduka menyerahkan hidup dan mati. Itu pun jika Paduka berkenan. Putra Paduka hanya memohon ampunan Paduka atas kekhilafan dan memohon tetap sebagai Adipati Demak saja. Adapun apabila Paduka tidak berkenan memegang tahta lagi, Paduka inginkan beristirahat dimana, menurut kesenangan Paduka, di gunung mana Paduka ingin tinggal, putra Paduka memberi busana dan makanan untuk Paduka, tetapi memohon pusaka Kraton di tanah Jawa, diminta dengan tulus.”

Sang Prabu Brawijaya bersabda, “Aku sudah dengar kata-katamu, Sahid! Tetapi aku tidak gagas! Aku sudah muak bicara dengan santri! Mereka bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya! Menunduk di muka tetapi memukul di belakang. Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata, agar buta mataku ini. Dulu-dulu aku beri hati, tapi balasannya seperti kenyang buntut! Apa coba salahku? Mengapa negaraku dirusak tanpa kesalahan? Tanpa adat dan tata cara manusia, mengajak perang tanpa tantangan! Apakah mereka memakai tatanan babi, lupa dengan aturan manusia yang utama!”

Setelah mendengar bersabda Sang Prabu demikian, Sunan Kalijaga merasa sangat bersalah karena telah ikut menyerang Majapahit. Ia menarik nafas dalam dan sangat menyesal. Namun yang semua telah terjadi. Maka kemudian ia berkata lembut, “Mudah-mudahan kemarahan Paduka kepada putra Paduka, menjadi jimat yang dipegang erat, diikat dipucuk rambut, dimasukkan dalam ubun-ubun, menambahi cahaya nubuwat yang bening, untuk keselamatan putra cucu Paduka semua. Karena semua telah terjadi, apalagi yang dimohon lagi, kecuali hanya ampunan Paduka. Sekarang paduka hendak pergi ke mana?”

Sang Prabu Brawijaya berkata, “Sekarang aku akan ke Pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung di Kelungkung. Aku akan beri tahu tingkah si Patah, menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa, dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit. Adipati Palembang akan kuberi tahu bahwa kedua anaknya sesampai di tanah Jawa yang aku angkat menjadi Bupati, tetapi tidak tahu aturan. Ia berani memusuhi ayah dan rajanya. Aku akan minta kerelaannya untuk aku bunuh kedua anaknya sekaligus, sebab pertama durhaka kepada ayah dan kedua kepada raja. Aku juga hendak memberitahu kepada Hongte di Cina, bahwa putrinya yang menjadi istriku punya anak laki-laki satu, tetapi tidak tahu jalan, berani durhaka kepada ayah raja. Ia juga kuminta kerelaan cucunya hendak aku bunuh, aku minta bantuan prajurit Cina untuk perang. Akan kuminta agar datang di negeri Bali. Apabila sudah siap semua prajurit, serta ingat kepada kebaikanku, dan punya belas kasih kepada orang tua ini, pasti akan datang di Bali siap dengan perlengkapan perang. Aku ajak menyerang tanah Jawa merebut istanaku. Biarlah terjadi perang besar ayah melawan anak. Aku tidak malu, karena aku tidak memulai kejahatan dan meninggalkan tata cara yang mulia.”

Sunan Kalijaga sangat prihatin. Ia berkata dalam hati, “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara, tidak tahu diri, kulit kisut punggung wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti kalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa, ketiga pemberi anugerah, Sudah pasti orang jawa yang belum Islam akan membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata. Pasti akan kalah orang Islam tertumpas dalam peperangan.”

Akhirnya Sunan Kalijaga berkata pelan, “Aduh Gusti Prabu! Apabila Paduka nanti tiba di Bali, kemudian memanggil para raja, pasti akan terjadi perang bear. Apakah tidak sayang Negeri Jawa rusak. Sudah dapat dipastikan putra Paduka yang akan celaka, kemudian Paduka bertahta kembali menjadi raja, tapi tidak lama kemudian lengser keprabon. Tahta Jawa lalu diambil oleh bukan darah keturunan Paduka. Jika terjadi demikian ibarat serigala berebut bangkai, yang berkelahi terus berkelahi hingga tewas dan semua daging dimakan serigala lainnya.”

“Ini semua kehendak Dewata Yang Maha Lebih. Aku ini raja bintara, menepati sumpah sejati, tidak memakai dua mata, hanya menepati satu kebenaran, menurut Hukum dan Undang-Undang para leluhur. Seumpamanya si Patah menganggap aku sebagai bapaknya, lalu ingin menjadi raja, diminta dengan baik-baik, istana tana Jawa ini akan kuberikan dengan baik-baik pula. Aku sudah tua renta, sudah kenyang menjadi raja, menerima menjadi pendeta bertafakur di gunung. Sedangkan si Patah meng-aniaya kepadaku. Pastilah aku tidak rela tanah Jawa dirajainya. Bagaimana pertanggungjawabanku kepada rakyatku di belakang hari nanti?”

Mendengar kemarahan Sang Prabu yang tak tertahankan lagi, Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka kemudian beliau menyembah kaki Sang Prabu sambil menyerahkan kerisnya dengan berkata, apabila Sang Prabu tidak bersedia mengikuti sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena akan malu mengetahui peristiwa yang menjijikkan itu.

Sang Prabu melihat tingkah Sunan Kalijaga yang demikian tadi, hatinya tersentuh juga. Sampai lama beliau tidak berkata selalu mengambil nafas dalam-dalam dengan meneteskan air mata. Berat sabdanya, “Sahid! Duduklah dahulu. Kupikirkan baik-baik, kupertimbangkan saranmu, benar dan salahnya, baik dan buruknya, karena aku khawatir apabila kata-katamu itu bohong saja. Ketahuilah Sahid! Seumpama aku pulang ke Majapahit, si patah menghadap kepadaku, bencinya tidak bisa sembuh karena punya ayah Buda kawak kafir kufur. Lain hari lupa, aku kemudian ditangkap dikebiri, disuruh menunggu pintu belakang. Pagi sore dibokongi sembahyang, apabila tidak tahu kemudian dicuci di kolam digosok dengan ilalang kering.”

Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga, “Coba pikirkanlah, Sahid! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua-renta, lemah tidak berdaya koq akan direndam dalam air.” Sunan Kalijaga memendam senyum dan berkata, “Mustahil jika demikian, besok hamba yang tanggung, hamba yakin tidak akan tega putra Paduka memperlakukan sia-sia kepada Paduka. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak Paduka, namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”

PERDEBATAN TEOLOGIS PRABU BRAWIJAYA

Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “ Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu alla ilaaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasuulullah, artinya aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah, dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “

Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, “Manusia yang menyembah kepada angan-angan saja tapi tidak tahu sifat-Nya maka ia tetap kafir, dan manusia yang menyembah kepada sesuatu yang kelihatan mata, itu menyembah berhala namanya, maka manusia itu perlu mengerti secara lahir dan batin. Manusia mengucap itu harus paham kepada apa yang diucapkan. Adapun maksud Nabi Muhammad Rasulullah adalah itu Muhammad itu makam kuburan. Jadi badan manusia itu tempatnya sekalian rasa yang memuji badan sendiri, tidak memuji Muhammad di Arab. Badan manusia itu bayangan Dzat Tuhan. Badan jasmani manusia adalah letak rasa. Rasul adalah rasa kang nusuli. Rasa termasuk lesan, rasul naik ke surga, lullah, luluh menjadi lembut. Disebut Rasulullah itu rasa ala ganda salah. Diringkas menjadi satu Muhammad Rasulullah. Yang pertama pengetahuan badan, kedua tahu makanan. Kewajiban manusia menghayati rasa, rasa dan makanan menjadi sebutan Muhammad Rasulullah, maka sembahyang yang berbunyi ushali itu artinya memahami asalnya. Ada pun raga manusia itu asalnya dari ruh idhafi, ruh Muhamad Rasul, artinya Rasul rasa, keluarnya rasa hidup, keluar dari badan yang terbuka, karena asyhadu alla, jika tidak mengetahui artinya syahadat, tidak tahu rukun Islam maka tidak akan mengerti awal kejadian.”

Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabil hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.

Perdebatan dengan Sabdapalon dan Nayageggong

Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong, “Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

Sabdapalon berkata dengan sedih, “Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, Siapa yang bertahta menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur Paduka dahulu, Sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, turun-temurun sampai sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba jika ingin tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri. Sampai sekarang umur hamba sudah 2000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menempati agama Buddha, Baru Paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. Jawa artinya tahu. Mau menerima berarti Jawan. Kalau hanya ikut-ikutan, akan membuat celaka muksa Paduka kelak,” Kata Wikutama yang kemudian disambut halilintar bersahutan.

Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata, karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal: (1) rumput Jawan, (2) padi Randanunut, dan (3) padi Mriyi.

Sang Prabu bertanya, “Bagaimana niatanmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasullalah dan nama Allah Yang Sejati?”

Sabdopalon berkata dengan sedih, “Paduka masuklah sendiri. Hamba tidak tega melihat watak sia-sia, seperti manusia Arab itu. Menginjak-injak hukum, menginjak-injak tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji diri sendiri. Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebut Dewa Yang Maha Lebih. Dunia itu tubuh Dewata yang bersifat budi dan hawa, sudah menjadi kewajiban manusia itu menurut budi kehendaknya, menjadi tuntas dan tidak mengecewakan, jika menyebut Nabi Muhammad Rasulullah, artinya Muhammad itu makam kubur, kubur rasa yang salah, hanya men-Tuhan-kan badan jasmani, hanya mementingkan rasa enak, tidak ingat karma dibelakang. Maka nama Muhammad adalah tempat kuburan sekalian rasa. Ruh idafi artinya tubuh, jika sudah rusak kembali kepada asalnya lagi. Prabu Brawijaya nanti akan pulang kemana. Adam itu sama dengan Hyang Ibrahim, artinya kebrahen ketika hidupnya, tidak mendapatkan rasa yang benar. Tetapi bangunnya rasa yang berwujud badan dinamai Muhammadun, tempat kuruban rasa. Jasa budi menjadi sifat manusia. Jika diambil Yang Maha Kuasa, tubuh Paduka sifatnya jadi dengan sendirinya. Orang tua tidak membuat, maka dinamai anak, karena adanya dengan sendirinya, jadinya atas suatu yang ghaib, atas kehendak Lata wal Hujwa, yang meliputi wujud, wujudi sendiri, rusak-rusaknya sendiri, jika diambil oleh Yang Maha Kuasa, hanya tinggal rasa dan amal yang Paduka bawa ke mana saja. Jika nista menjadi setan yang menjaga suatu tempat. Hanya menunggui daging basi yang sudah luluh menjadi tanah. Demikian tadi tidak ada perlunya. Demikian itu karena kurang budi dan pengetahuannya. Ketika hidupnya belum makan buah pohon pengetahuan dan buah pohon budi. Pilih mati menjadi setan, menunggu batu mengharap-harap manusia mengirim sajian dan selamatan. Kelak meninggalkan mujizat Rahmat memberi kutukan kiamat kepada anak cucunya yang tinggal. Manusia mati tidak dalam aturan raja yang sifatnya lahiriah. Sukma pisah dengan budi, jika tekadnya baik akan menerima kemuliaan. Akan tetapi jika tekadnya buruk akan menerima siksaan. Coba Paduka pikir kata hamba itu!”

Prabu berkata “Kembali kepada asalnya, asal Nur bali kepada Nur”.

Sabdapalon bertutur “Itu pengetahuan manusia yang bingung, hidupnya merugi, tidak punya pengetahuan ingat, belum menghayati buah pengetahuan dan budi, asal satu mendapat satu. Itu bukan mati yang utama. Mati yang utama itu sewu satus telung puluh. Artinya satus itu putus, telu itu tilas, puluh itu pulih, wujud kembali, wujudnya rusak, tetapi yang rusak hanya yang berasal dari ruh idhafi lapisan, bulan surup pasti dari mana asalnya mulai menjadi manusia. Surup artinya sumurup purwa madya wasana, menepati kedudukan manusia.”

Sang Prabu menjawab, “Ciptaku menempel pada orang yang lebih.”

Sabdopalon berkata, “Itu manusia tersesat, seperti kemladeyan menempel di pepohonan besar, tidak punya kemuliaan sendiri hanya numpang. Itu bukan mati yang utama. Tapi matinya manusia nista, sukanya hanya menempel, ikut-ikutan, tidak memiliki sendiri, jika diusir kemudian gentayangan menjadi kuntilanak, kemudian menempel kepada awal mulanya lagi.”

Sang Prabu berkata lagi, “Aku akan kembali kepada yang suwung, kekosongan, ketika aku melum mewujud apa-apa, demikianlah tujuan kematianku kelak.”

“Itu matinya manusia tidak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika hidupnya seperti hewan, hanya makan, minum, dan tidur. Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja, hilang makna hidup dalam mati.”

Sang Prabu, “Aku menunggui tempat kubur, apabila sudah hancur luluh menjadi debu.”

Sabdopalon menyambung, “Itulah matinya manusia bodoh, menjadi setan kuburan, menunggui daging di kuburan, daging yang sudah luluh menjadi tanah, tidak mengerti berganti ruh idhafi baru. Itulah manusia bodoh, ketahuliah. Terima kasih!”

Sang Prabu berkata, “Aku akan muksa dengan ragaku.”

Sabdopalon tersenyum, “Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakan daging. Manusia mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad. Tidak bersyahadat, tidak mati dan tidak hidup, tidak bisa menjadi ruh idhafi baru, hanya menjadi gunungan demit.”

Sang Prabu, “Aku tidak punya kehendak apa-apa, tidak bisa memilih, terserah Yang Maha Kuasa.”

Sabdopalon, “Paduka meninggalkan sifat tidak merasa sebagai titah yang terpuji, meninggalkan kewajiban sebagai manusia. Manusia diwenangkan untuk menolak atau memilih. Jika sudah menerima akan mati, sudah tidak perlu mencari ilmu kemuliaan mati.”

Sang Prabu, “Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap Yang Maha Kuasa.”

Sabdopalon berkata, “Akhirat, surga, sudah Paduka kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam bear. Paduka akan pergi ke akhirat mana? Apa tidak tersesat? Padahal akhirat itu artinya melarat, dimana-mana ada akhirat. Bila mau hamba ingatkan, jangan sampai Paduka mendapat kemelaratan seperti dalam pengadilan negara. Jika salah menjawabnya tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya manusia, sreng artinya berat sekali, enggi artinya kerja.

Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi. Apa tidak celaka, manusia hidup di dunia demikian tadi, sekeluarganya hanya mendapat beras sekojong tanpa daging, sambal, sayur. Itu perumpamaan akhirat yang kelihatan nyata. Jika akhirat manusia mati malah lebih dari itu, Paduka jangan sampai pulang ke akhirat, jangan sampai masuk ke surga, malah tersesat, banyak binatang yang mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya berkerja dengan paksaan, tidak salah dipaksa.

Paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, Paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan. Bertemunya cahaya menyala menjadi satu, tidak pisah tidak kumpul, jauhnya tanpa batasan, dekat tidak bertemu. Saya tidak tahan dekat apalagi Paduka, Kanjeng Nabi Musa toh tidak tahan melihat Gusti Allah. Maka Allah tidak kelihatan, hanya Dzatnya yang meliputi semua makhluk. Paduka bibit ruhani, bukan jenis malaikat. Manusia raganya berasal dari nutfah, menghadap Hyang Lata wal Hujwa. Jika sudah lama, minta yang baru, tidak bolak-balik. Itulah mati hidup. Orang yang hidup adalah jika nafasnya masih berjalan, hidup yang langgeng, tidak berubah tidak bergeser, yang mati hanya raganya, tidak merasakan kenikmatan, maka bagi manusia Buda, jika raganya sudah tua, sukmanya pun keluar minta ganti yang baik, melebihi yang sudah tua. Nutfah jangan sampai berubah dari dunianya. Dunia manusia itu langgeng, tidak berubah-ubah, yang berubah itu tempat rasa dan raga yang berasal dari ruh idhafi.

Prabu Brawijaya itu tidak muda tidak tua, tetapi langgeng berada di tengah dunianya, berjalan tidak berubah dari tempatnya di gua hasrat cipta yang hening. Bawalah bekalmu, bekal untuk makan raga. Apapun milik kita akan hilang, berkumpul dan berpisah. Denyut jantung sebelah kiri adalah rasa, cipta letaknya di langit-langit mulut. Itu akhir pengetahuan. Pengetahuan manusia beragama Buda. Ruh berjalan lewat langit-langit mulut, berhenti di kerongkongan, keluar lewat kemaluan, hanyut dalam lautan rahmat, kemudian masuk ke gua garbha perempuan. Itulah jatuhnya nikmat di bumi rahmat. Di situ budi membuat istana baitullah yang mulia, terjadi lewat sabda kun fayakun. Di tengah rahim ibu itu takdir manusia ditentukan, rizkinya digariskan, umurnya juga dipastikan, tidak bisa dirubah, seperti tertulis dalam Lauh Mahfudz. Keberuntungan dan kematiannya tergantung pada nalar dan pengetahuan, yang kurang ikhtiarnya akan kurang beruntung pula.

Awal mula Kiblat empat

Awal mula kiblat empat, yaitu timur (Wetan) barat (Kulon) selatan(Kidul) dan utara (Lor) adalah demikian. Wetan artinya wiwitan asal manusia mewujud; kulon artinya bapa kelonan; kidul artinya istri didudul di tengah perutnya; lor artinya lahirnya jabang bayi. Tanggal pertama purnama, tarik sekali tenunan sudah selesai. Artinya pur: jumbuh, na: ana wujud; ma: madep kepada wujud. Jumbuh itu artinya lengkap, serba ada, menguasai alam besar kecil, tanggal manusia, lahir dari ibunya, bersama dengan saudaranya kakang mbarep (kakak tertua) adi ragil (adik terkecil). Kakang mbarep itu kawah, adi itu ari-ari. Saudara ghaib yang lahir bersamaan, menjaga hidupnya selama matahari tetap terbit di dunia, berupa cahaya, isinya ingat semuanya. Siang malam jangan khawatir kepada semua rupa, yang ingat semuanya, surup, dan tanggalnya pun sudah jelas, waktu dulu, sekarang atau besok, itu pengetahuan manusia Jawa yang beragama Buddha.

Raga itu diibaratkan perahu, sedangkan sukma adalah orang yang ada di atas perahu tadi, yang menunjukkan tujuannya. Jika perahunya berjalan salah arah, akhirnya perahu pecah, manusia rebah. Maka harus bertujuan, senyampang perahu masih berjalan, jika tidak bertujuan hidupnya, dan matinya tidak akan bisa sampai tujuan, menepati kemanusiaannya. Jika perahu rusak maka akan pisah dengan orangnya. Artinya sukma juga pisah dengan budi, itu namanya syahadat, pisahnya kawula dengan Gusti. Sah artinya pisah dengan Dzat Tuhan, jika sudah pisah raga dan sukma, budi kemudian berganti baitullah, nafas memuji kepada Gusti.

Jika pisah sukma dan budi, maka manusia harus yang waspada, ingatlah asal-usul manusia, dan wajib meminta kepada Tuhan baitullah yang baru, yang lebih baik dari yang lama. Raga manusia itu namanya baitullah itu perahu buatan Allah, terjadi dari sabda kun fayakun. Jika perahu manusia Jawa bisa berganti baitullah lagi yang lebih baik, perahu orang Islam hidupnya tinggal rasa, perahunya sudah hancur. Jika sukma itu mati di alam dunia kosong, tidak ada manusia. Manusia hidup di dunia dari muda sampai tua. Meskipun sukma manusia, tetapi jika tekadnya melenceng, matinya tersesat menjadi kuwuk, meskipun sukmanya hewan, tetapi bisa menjelma menjadi manusia.

Ketika Batara Wisnu bertahta di Medang Kasapta, binatang hutan dan makhluk halus dicipta menjadi manusia, menjadi rakyat Sang Raja. Ketika Eyang Paduka Prabu Palasara bertahta di Gajahoya, binatang hutan dan makhluk halus juga dicipta menjadi manusia. Maka bau manusia satu dan yang lainnya berbeda-beda, baunya seperti ketika masih menjadi hewan. Serat Tapak Hyang menyebut Sastrajendra Hayuningrat, terjadi dari sabda kun, dan menyebut jituok artinya hanya puji tok.

Dewa yang membuat cahaya bersinar meliputi badan. Cahaya artinya incengan aneng cengelmu. Jiling itu puji eling kepada Gusti. Punuk artinya panakna. Timbangan artinya salang. Pundak itu panduk, hidup di dunia mencari pengetahuan dengan buah kuldi, jika beroleh buah kuldi banyak, beruntungnya kaya daging, apabila beroleh buah pengetahuan banyak, bisa untuk bekal hidup, hidup langgeng yang tidak bisa mati. Tepak artinya tepa-tapa-nira, Walikat, walikaning urip. Ula-ula, ulatana, laleren gegermu kang nggligir. Sungsum artinya sungsungen. Labung, waktu Dewa menyambung umur, alam manusia itu sampungan, ingat hidup mati.

Lempeng kiwa tengen artinya tekad yang lahir batin, purwa benar dan salah, baik dan buruk. Mata artinya lihatlah batin satu, yang lurus kiblatmu, keblat utara benar satu. Tengen artinya tengenen kang terang, di dunia hanya sekedar memakai raga, tidak membuat tidak memakai. Kiwa artinya, raga iki isi hawa kekajengan, tidak wenang mengukuhi mati. Demikian itu bunyi serat tadi. Jika Paduka mencela, siapa yang membuat raga? Siapa yang memberi nama? Hanya Lata wal Hujwa, jika Paduka mencaci, Paduka tetap kafir, cela mati Paduka, tidak percaya kepada takdir Gusti, dan murtad kepada leluhur Jawa semua, menempel pada besi, kayu batu, menjadi iblis menunggu tanah. Jika Paduka tidak bisa membaca sasmita yang ada di badan manusia, mati Paduka tersesat seperti kuwuk. Adapun jika bisa membaca sasmita yang ada pada raga tadi, dari manusia menjadi manusia. Disebut dalam Serat Anbiya, Kanjeng Nabi Musa waktu dahulu manusia yang mati di kubur, kemudian bangun lagi, hidupnya ganti ruh baru, ganti tempat baru.

Tuhan yang Sejati

Jika Paduka memeluk agama Islam, manusia Jawa tentu kemudian Islam semua. Badan halus hamba sudah tercakup dan manunggal menjadi tunggal, lahir batin, jadi tinggal kehendak hamba saja. Adam atau wujud bisa sama, jika saya ingin mewujud, itulah wujud hamba, kehendak Adam, bisa hilang seketika. Bisa mewujud dan bisa menghilang seketika. Raga hamba itu sifat Dewa, badan hamba seluruhnya punya nama sendiri-sendiri. Coba Paduka tunjuk, badan Sabdapalon. Semua sudah jelas, jelas sampai tidak kelihatan Sabdopalon, tinggal asma meliputi badan, tidak muda tidak tua, tidak mati tidak hidup. Hidupnya meliputi dalam matinya. Adapun matinya meliputi dalam hidupnya, langgeng selamanya.”

Sang Prabu bertanya, “Di mana Tuhan yang Sejati?”

Sabdopalon berkata, “ Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya. Paduka wujud sifat suksma. Sejati tunggal budi, hawa, dan badan. Tiga-tiganya itu satu, tidak terpisah, tetapi juga tidak berkumpul. Paduka itu raja mulia tenti tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini.”

“Apa kamu tidak mau masuk agama Islam?” tanya Prabu

Sabdopalon berkata dengan sedih, “Ikut agama lama, kepada agama baru tidak! Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba? Apakah Paduka lupa nama hamba, Sabdapalon? Sabda artinya kata-kata, Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu, bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.”

“Bagaimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan Sahid, aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi langit.”

“Iya sudah, silahkan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan.”

Sunan Kalijaga kemudian berkata kepada Sang Prabu, yang isinya jangan memikirkan yang tidak-tidak, karena agama Islam itu sangat mulia. Ia akan menciptakan air yang di sumber sebagai bukti, lihat bagaimana baunya. Jika air tadi bisa berbau wangi, itu pertanda bahwa Sang Prabu sudah mantap kepada agama Rasul, tetapi apabila baunya tidak wangi, itu pertanda jika Sang Prabu masih berpikir Buddha.

Sunan Kalijaga kemudian mengheningkan cipta. Seketika air sumber menjadi berbau wangi. Sunan Kalijaga berkata kepada Sang Prabu, seperti yang sudah dikatakan, bahwa Sang Prabu nyata sudah mantap kepada agama Rasul, karena air sumber baunya wangi.

Sabdopalon berkata kepada Sang Prabu, “Itu kesaktian apa? Kesaktian kencing hamba kemarin sore dipamerkan kepada hamba. Seperti anak-anak, jika hamba melawan kencing hamba sendiri. Paduka dijerumuskan, hendak menjadi jawan, suka menurut ikut-ikutan, tanpa guna hamba asuh. Hamba wirang kepada bumi langit, malu mengasuh manusia tolol, hamba hendak mencari asuhan yang satu mata. Hamba menyesal telah mengasuh Paduka. Jika hamba mau mengeluarkan kesaktian, air kencing hamba, kentut sekali saja, sudah wangi, Jika paduka tidak percaya, yang disebut pedoman Jawa, yang bernama Manik Maya itu hamba, yang membuat kawah air panas di atas Gunung Mahameru itu semua hamba, Adikku Batara Guru hanya mengizinkan saja. Pada waktu dahulu tanah Jawa gonjang-ganjing, besarnya api di bawah tanah. Gunung-gunung hamba kentuti. Puncaknya pun kemudian berlubang, apinya banyak yang keluar, maka tanah Jawa kemudian tidak bergoyang, maka gunung-gunung tinggi puncaknya, keluar apinya serta ada kawahnya, berisi air panas dan air tawar. Itu hamba yang membuat. Semua tadi atas kehendak Lata wal Hujwa, yang membuat bumi dan langit. Apa cacadnya agama Buddha, manusia bisa memohon sendiri kepada Yang Maha Kuasa. Sungguh jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Buddha, keturunan Paduka akan celaka, Jawa tinggal Jawan, artinya hilang, suka ikut bangsa lain. Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang mengerti.

Coba Paduka saksikan, bulan depan bulan tidak kelihatan, biji mati tidak tumbuh, ditolak oleh Dewa. Walaupun tumbuh kecil saja, hanya untuk makanan burung, padi seperti kerikil, karena paduka yang salah, suka menyembah batu. Paduka saksikan besok tanah Jawa berubah udaranya, tambah panas jarang hujan. Berkurang hasil bumi, banyak manusia suka menipu. Berani bertindak nista dan suka bersumpah, hujan salah musim, membuat bingung para petani. Sejak hari ini hujan sudah berkurang, sebagai hukuman banyak manusia berganti agama. Besok apabila sudah bertaubat, ingat kepada agama Buddha lagi, dan kembali mau makan buah pengetahuan, Dewa kemudian memaafkan, hujan kembali seperti jaman Buddha.”

Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdapalon dalam batin merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha, Lama beliau tidak berkata. Kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu karena terpikat kata putri Cempa, yang mengatakan bahwa orang agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi surganya orang kafir.

Sabdapalon berkata sambil meludah, “Sejak jaman kuno, bila laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya untuk wadah, tidak berwewenang memulai kehendak.” Sabdapalon banyak-banyak mencaci Sang Prabu.

“Kamu cela sudah tanpa guna, karena sudah terlanjur, sekarang hanya kamu kutanya, masihkah tetapkah tekadmu? Aku masuk agama Islam, sudah disaksikan oleh si Sahid, sudah tidak bisa kembali kepada Buddha lagi.”

Sabdapalon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan ke mana? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada di situ, hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang.

Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua, berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdapalon. Orang Jawa akan diajari tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdapalon dan Nayagenggong, tetapi kedua orang tersebut musnah.

Sang Prabu kemudian menyesal dan meneteskan air mata. Kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga,”Besok Negara Blambangan gantilah nama dengan Negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdapalon ke tanah Jawa membawa asuhannya. Adapun kini Sabdopalon masih dalam alam Ghaib.”

Demikian cuplikan Serat Darmogandul yang saya ambil dari http://www.indoforum.org/showthread.php?t=37753

Kontrofersi, Senin 25 Februari 2008
Eddy Corret.

About these ads
Komentar
  1. saerozi mengatakan:

    saya kira kita tidak bisa mengambil keputusan, dengan berdasarkan pendapat satu pihak, namun sebagai opini saya kira artikel ini bagus.

    • dewa kayana mengatakan:

      BAca surat Alkahfi…baca,,,Ramalan joyoboyo..bca uga wangsit siliwangi… telusuri kebesaran nusantara lewat bahasa (Bahasa melayu)…..kapan waktunya ,,,simak….tahun 2010….di bulan suro….(2 Akhir Tahun )…..ada 1 pemimpin bangsa ada 1 pemimpin umat,,,ada beberapa pemuda kahfi…..

  2. hadisetyono mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum,
    ini bukan opini, melainkan cerita yang diambil dari serat Darmogandul. Kalau menurut saya, apa yang tertulis dalam serat Darmogandul ini adalah catatan sejarah dari salah satu sejarah bangsa Indonesia, tepatnya kerajaan Demak, dan Majapahit. Apa yang bisa dipelajari dari catatan sejarah itu adalah kita bisa menjadikannya salah satu landasan jalan berfikir kita dimasa sekarang. Apalagi zaman sekarang yang sudah mengesampingkan ajaran agama dan ajaran para leluhur kita yang bijaksana dan waskita.

    Wassalam,

    Hadi

    • sabdo palon mengatakan:

      mas hadi, nuwun sewu, darmogandul bukan catatan sejarah kayaknya, karena banyak cerita ngawur tanpa bisa dijelaskan akal, dan pelakunya juga gak jelas, mana tau darmogandul apa apa yang diomongkan sang prabu dengan sunan kalijaga dan sabdo palon, wong darmogundul ndak ada disana.

  3. eddycorret mengatakan:

    Cuplikan Serat Darmogandul di atas sengaja saya tampilkan beserta sumbernya karena sangat penting bagi tulisan kontrofersi saya.
    Memang tidak bisa diambil keputusan hanya dari pendapat satu pihak, namun sebagai referensi Serat Darmogandul sangat menarik. Demikian.

  4. Muhammad Yesus mengatakan:

    Arti Lucifer dan Illuminati adalah sama :

    Lucifer = Illuminati = Pembawa Cahaya

    …..

    Illuminati = (Korporasi) Raksasa — Lambang “All Seeing eye” = Mata Satu

    ……

    Sudah pernah lihat “Raksasa bermata Satu?”

    Agama hanyalah sebuah source code…

    Muhammad Yesus.

  5. eddycorret mengatakan:

    loh bukankan Lucifer tuh tidak nampak Om ?
    Artinya tidak semua orang dapat melihatnya.
    Oh iya pada puncak pemurnian bumi kelak Lucifer ikut muncul ndak yah ? biar seru ada Dajjal ada Isa ada Lucifer ada Yangweh ada Imam Mahdi dll.

  6. Muhammad Yesus mengatakan:

    Secret Society (Kelompok Rahasia -Illuminati) = Tidak Tampak
    “Tidak semua orang dapat melihatnya” = Codex/Pesan2/Simbol2 dalam Agama=(Mungkin sebab itu sering dikatakan sesungguhnya bahwa terdapat tanda2 /simbologi2 dalam agama……yang dapat dilihat oleh beberapa orang yang memang “sungguh-sungguh” mencarinya — tidak secara harafiah (all seeing eyes dapat pula diartikan bahwa segala yang berasal dari mata (secara fisik) sesungguhnya adalah bentuk ilusi — check…rata2 orang2 berusaha menterjemahkan segalanya melalui bentuk fisik.

    Apakah Lucifer ‘akan’ datang?…mmm jika perhitungan anda bahwa planet bumi ini hanya berusia RIBUAN tahun – maka akhir jaman kemungkinan ‘tengah/akan’ berlangsung saat ini…namun jika Bumi ini telah berusia MILAYARAN tahun — and mungkin bersedia untuk menimbang bahwa sejak lahir (juga beberapa generasi nenek moyang kita) kita telah hidup pada era – LUCIFERIAN

    salam,

    Muhammad Yesus

    “Tidak ada yang namanya ‘kebetulan’, yang ada hanyalah ilusi yang dianggap sebagai sebuah ‘kebetulan’….” – V For Vendetta / Jayabaya)

  7. eddycorret mengatakan:

    Saya juga menduga demikian. Mungkin merasa jenuh saja melihat jalannya roda kehidupan. Tapi OK lah saya yakin semua kan baik-baik saja. Makasih infonya.

  8. Oka mengatakan:

    membingungkan klo membicarakan sejarah dan masalah agama..

    tapi infonya bagus..

  9. eddycorret mengatakan:

    hihihi
    membingungkan yah.
    dibuat sante aja bacanya.
    bila mau diambil hikmahnya silahkan saja.
    tetapi bila dikesampingkan juga ndak apa apa.
    bebas memilih. :)

  10. dil okullari mengatakan:

    do you know any information about this in english?

  11. eddycorret mengatakan:

    Waduh
    Apa ini ?

  12. wahyu widodo mengatakan:

    Penyesalan datang pada akhir cerita, itu sudah pasti.
    Maka bagi kita orang jawa seyogyanyalah kita tahu bahwa jawa itu ngerti bukan jawan yang artinya nunut-nunut.
    Cari siap sebenarnya leluhur dan diri kita…tugas dan kewajiban apa yang hrs kita laksanakan di dunia.
    Selalu eling lan waspada, aja cubria lan tumindak ala..iku mau tuwuhing agama budi…
    amin.

  13. LastSamurai mengatakan:

    Serat darmogandul merupakan salah satu media propaganda saat itu yang digunakan agama budha siwa yang mulai kehilangan pengaruhnya di tanah Jawa.

  14. PangeranCinta mengatakan:

    Wah semuanya sih yang berurusan dengan sebuah negara yang kaya gitu tuh namanya propaganda..baik dalam islam, budha, hindu, kristen dll lah…
    Propaganda adalah alat penguasa yang tertekan..licik dan kreatif..huahuahuahahahahaa….

    Tapi yang diambil hikmahnya adalah bahwa Majapahit adalah kerajaan yang besar dan sulit untuk ditaklukan..jika tidak ada perpecahan dalam keluarga..em..manusia geetho lho!

    Apalagi yang bersifat kerajaan..tahu kan…
    Ada yang keturunan majapahit?

  15. eddycorret mengatakan:

    Hehe.
    Siapa hayo yang keturunan Majapahit ?
    Acungkan jarinya jangan malu-malu.

  16. saptaws mengatakan:

    Kulo nuwun…

    LastSamurai – Agustus 22, 2008
    Serat darmogandul merupakan salah satu media propaganda saat itu yang digunakan agama budha siwa yang mulai kehilangan pengaruhnya di tanah Jawa…..

    lha yang nulis aja Ronggo Warsito kog propaganda agama budha siwa…he he apriori mas??? lha anda itu apa orang jepang tho??
    koq pake last samurai…he he kan lebih bagus last Clurit atau golok, jadi rodo indonesian gitu mas…maaf ojo marah

    Apalagi sebagian dari yang dikatakan Sabdo palon sudah ada lho mas…jadi itu bukti!! tinggal kita menunggu penggenapan lakon nya
    saja….santai tho!!, tapi pasti TERJADI !!

    Akhir 2008 sebagaimana info dari sumber spiritual mas Eddy….BETUL!! dan saya setuju!!

    Serat Dharmo Gandhul
    …. bukanlah karangan kosong namun suatu karya yang didasari
    adanya dhawuh atau wisik
    …. makna ucapan Sabdo Palon pada hakekatnya memang Sabdo/
    titah atas kejadian yang bakal ada, walau menurut pakem
    biasanya tidak sejelas itu :
    – menyatakan waktu dengan angka
    – menyatakan figure personal…. siapa kelak sosok tsb
    – menyatakan lokasi riil
    – menyatakan apa yang akan dilakukan ….baca sendiri
    coba bandingkan dengan Nostradamus, Joyoboyo, Ugo wangsit
    dsb.

    Yang Jelas Serat Dharma Ghandul itu betul ada!!
    Tentang kejadian yang akan ada dikupas memakai ngelmu Co Ret alias Cocok digeRET atau anutan ya monggo kerso, Bebas !! baik hasilnya kesimpulan mempercayai ataupun tidak.

    Nuwun

  17. someone mengatakan:

    Apalagi sebagian dari yang dikatakan Sabdo palon sudah ada lho mas…jadi itu bukti!! tinggal kita menunggu penggenapan lakon nya
    saja….santai tho!!, tapi pasti TERJADI !!

    Waduh para penonton memang santai aja nungguin lakonnya jadi dan lagi digodok di kawah candradimuka. Lha yang ngelakoni kemut2 mas, isine nangis mulu kale ya saking bingung dan beratnya beban yang bakal dipikul…. dan suka gak suka mau gak mau tetep harus dilakoni…… hehehehe (ngebayangin ajah). Ya gak ada bedanya kayak komentator sepak bola lah… hehehehehe…..

  18. eddycorret mengatakan:

    Bukan sepak bola Om.
    Tapi panjat pinang.

  19. someone mengatakan:

    hahahaha panjat pinang…. rebutan hadiah tujuhbelasan…… untung2an donk…. :D

  20. saptaws mengatakan:

    mau sepak bola….mau panjat pinang….mau kasti, yo sak karepmu…laras2 aja

    wong ya kita ngomong bebas aja koq …ya to nggak pajek….he..he
    cuman kalo udah mentok biasanya ya ngucapnya kaya gitu gitu
    he..he….. paling paling ya kayak mas eddy coret….” menurut sumber yang bisa dipercaya yang lagi ke amerika”…lha mau ke planet mars juga nggak opo2,…..yang penting kalau panjenengan wong jowo ya Jowo aja lah…pinter ngupas yang nostra….plato….tapi ngelu alias pusing kalau lihat tulisan jowo…kalu mau cari puas lewat tulisan ya monggo….buebasss. nah sekarang
    saya nanya buat anda semua berani nggak kita semua bisa ketemu??? bawa penasehat spiritual juga boleh….eh buat mas eddy nunggu pulang dari amrik ya??? buat “den mas someone” nanti anda tak jadikan wasit nggak cuman komentator…bonusnya menarik atau malah mau jadi botoh? juga boleh,…buebass asal beaya sendiri 2sendiri…apa perlu door prize….oke

    ada usul…..??

  21. Oleng mengatakan:

    Saptaws – September 8, 2008
    saya nanya buat anda semua berani nggak kita semua bisa ketemu??? bawa penasehat spiritual juga boleh…

    Koment:
    Wah beneran nih Mas Sapto, Saya siap datang deh, Kapan, dan Dimana? lalu apa yang akan di bahas? dan Asal nggak ngeluarin biaya saja Saya siap datang,
    blak-blakan saja saat ini kondisi saya kaya pethit ular yang isinya balung dan kulit, gimana ada yang mau ngampiri/jemput nggak..?

    Kadang-kadang yang lain gimana?… siap nggak ketemuan…
    Mas hadi, Mas Someone, Boss Eddy, Mas dodo dll…? siap nggak…

  22. Oleng mengatakan:

    Nambahin dikit lokasinya yang netral ya… :)

  23. someone mengatakan:

    Mendingan ketemuannya besok ajah setelah Desember 2008 ajah, sekalian ngetes pendapatnya boss eddy, pas SP dah keluar… mbabar diri …. hehehehe….

  24. someone mengatakan:

    kalo ternyata waktu itu ternyata SP belum nongol2 jatahnya boss eddy traktir kita-kita semua… hehehe

  25. eddycorret mengatakan:

    Waduh.
    Keknya ndak bisa ikutan nih.
    Gue diberi waktu nulis apa aja tentang SP hingga Nopember 2008. Makanya sekarang lagi suka corat-coret tentang dia. Tak puas puasin nulis apa aja nih mumpung belum Desember 2008.
    Gue nitip salam aja bila ada ketemuan.

  26. saptaws mengatakan:

    Wualah……lha nyang satu ini ….berat juga saya…lha saya juga nggak
    punya gembolan lebih….bisa makan 1x sehari saja sudah bersyukur
    yah kalo untuk makan seadanya dan antar jemput lokalan Solo ya oke….monggo!!!

    yah buat panjenengan yang tull22 minat cari yang longgar saja,, atau gini nanti dibulan Oktober ada event di Solo, ya sebelum berangkat terawang dulu tul apa nggak!! monggo2 pake narasumber/penasehat spiritual masing2 …..sebenarnya ada 2 event di Oktober dan desember,,,lha pasti dikira sepakbola lagi tho…he he, sak karepmu buebasss!!

    someone – September 8, 2008
    Mendingan ketemuannya besok ajah setelah Desember 2008 ajah, sekalian ngetes pendapatnya boss eddy, pas SP dah keluar… mbabar diri …. hehehehe….

    kasihan boss eddy mau di test….
    SP nggak bakalan diidentifikasi secara riil, terkecuali anda memasuki
    runut tatanan jagad alus baru bisa identifisir…lha wong nggak ada pelantikan pejabat SP….emangnya test nya kayak SPMB
    saya yakin boss eddy tidak berpendapat….tapi pasti dapet info..hayo bener nggak bozz??

    Buat Kyai Oleng….biar tambah afdol he he jangan marah ya…
    tolong kirim email addressmu ke kenthouss@gmail.com atau pgybdgslo@gmail.com oke?

    info selanjtnya akan tak kirim….via email

  27. eddycorret mengatakan:

    saptaws – September 9, 2008
    “saya yakin boss eddy tidak berpendapat”

    Hehehe udah ketahuan dulu nih. Hebat kk.

  28. saptaws mengatakan:

    buat yang di Solo…. bukan mbedain karena apa2….cuma yang standby nya di solo kan ngirit..

    kirim no HP ke email diatas ….kabar menarik dan pgybdgslo butuh kadang tambahan sampai jumlah tertentu……

    karcis tanda masuk dapat diperoleh di situ…he he nah mirip lagi nonton bola kan….he he

    nuwun

  29. saptaws mengatakan:

    Sorry nyuwun ngapunten ….Medley

    Buat Kiai Oleng….
    kita nggak perlu mbahas….tapi nyimak lakon saja…kalau anda ketiban pulung ya, anda masuk dalam lakon…..simple kan!

    Nuwun

  30. Oleng mengatakan:

    Heheheheheh…
    Jangan di panggil kyai Ngak wangun tur yaa nggak cocok orang kayak saya di panggil kyai….
    manut Kangmas Kyai Saptaws jaaa dehh… khan beubasss :)
    nanti tak usahain aku kirim wes email saya… Beubas juga taa… Trus Tak kirim ke email anda dua-duanya ben muarem … :) heheheh jok nesu yo Kyai

    *Buat Kiai Oleng….
    kita nggak perlu mbahas….tapi nyimak lakon saja…kalau anda ketiban pulung ya, anda masuk dalam lakon…..simple kan!

    Welelwlwlw lakon apa Kangmas Kyai Saptaws lha wong saya itu cuman cacing yang hidupnya cacing di peceren… okeh dangkal and ambune badeek, Bodho longa-longo meneh lha terus pulung apa yang mau sama orang busuk kayak saya ini…
    lha nek Pulung Rokok di sini banyak Mas, Soalnya saya rokoknya kayak sepur jhe… :)

  31. someone mengatakan:

    yah buat panjenengan yang tull22 minat cari yang longgar saja,, atau gini nanti dibulan Oktober ada event di Solo, ya sebelum berangkat terawang dulu tul apa nggak!! monggo2 pake narasumber/penasehat spiritual masing2 …..sebenarnya ada 2 event di Oktober dan desember,,,lha pasti dikira sepakbola lagi tho…he he, sak karepmu buebasss!!

    Mas carane nerawang kuwi piye toh… hehehehe…. disini masih pake ilmu utak-atik gatuk, sedikit pake rasa en gak full2 banget karena takut keblinger… tapi belum pake terawangan. Kalo pake google earth bisa kelihatan gak ? hehehehe….

  32. endang mengatakan:

    bos eddy termasuk sing pelit, pake hologramnya dong

  33. eddycorret mengatakan:

    Hehe.
    Bukannya pelit, tetapi melihat komentar-komentar dahulu ketika saya bicara Hologram, keknya pada ndak bisa nerima. Karena memang Hologram itu rada ribet sih. Jadi sebaiknya bicara SP dari naskah-naskah yang ada aja. Kalo dari naskah kan udah pada ngerti, warisannya leluhur Nusantara.

  34. someone mengatakan:

    Ikutan nimbrung :

    Buat Kiai Oleng….
    kita nggak perlu mbahas….tapi nyimak lakon saja…kalau anda ketiban pulung ya, anda masuk dalam lakon…..simple kan!

    Waduh mas kalo saya gak usah dikasih lakon…. ngurusin idup diri sendiri saja dah bingung en cape kok…. apalagi ditambahi lakon. Lha kalo lakonnya pas kebagian enak masih mending… Lha jaman sekarang pasti lakonnya pasti banyak gak enaknya… dah gitu ada akomodasinya gak. Hehehehe….

  35. Oleng mengatakan:

    Maka dari itu Mas Someone saya sendiri juga sependapat dengan anda…,
    Lha Kalo ada lakon berarti kaya kethoprak or wayang dunk… lha nek ketiban lakon dan membawakan peran tokoh yang gak euuunakkkk… piye hayoo… padahal sekarang manusianya maunya pada yang eunak-eunak gak mau ngrekoso… lha terus pada akhirnya rebutan yang baik-baik dan rebutan masuk surga lhaaaa terus yang jelek-jelek dan Intipnya neraka buat siapa yaaa…!!! :)
    Padahal di dunia itu hanya ada 2 alternatif :) ada yang buruk dan ada yang baik, ada ( + ) dan otomatis ada ( – ). Nah jika setiap manusia maunya yang ( + ) lha terus yang ( – ) ????…. Tak nggonane dewe wess… malah silir, longgar dan nggak suk-sukan :D cocok toooo sama saya Oleng/cacing yang hidupnya di dasar peceren yang penuh dengan noda dan lumpur yang berbau busuk…!!!
    jadi nggak perlu lakon-lakonan Mas Saptows…. :) Jalani aja hidup yang Apa adanya aja, nggak usah neko-neko,Kalo lapar ya Makan, Kalo haus ya Minum, Kalo Ngantuk ya Tidur, Lha nek nggak ada makanan sama sekali ya Ngemis :) Nek ngemis nggak di kasih yaa Nyolong dong Mas :D

    Jare “Wong Urip Iku Sak Dermo Nglampahi” lhaa iso nyebut tapi do kroso Ora….??? :)

    Salam
    “Ayo Bareng-bareng Urip”

  36. saptaws mengatakan:

    Kiai Oleng…

    Ben Muantep….Kiai Oleng Jogo Kalen Among Peceren…lha lengkap sudah tho…..lha priyayi mukti dari Yogya koq merendah macem gitu…jadinya ya dilengkapi saja asmanya….he he mung guyon saja..aja duka (nesu) nanti jadi lupa kinang susurnya…eh rokok nya
    Teng We kulitan Klobot ….maaat tuenannnn!! ojo nesu maneh!!

    someone…..
    lakon kalau pas jatuh yang nggak enak yo apesss….he he disyukuri tho jangan nggresulo nanti kan ketemu enaknya dikemudian hari….
    ya itung2 cokromanggilingan….semoga !! pas diatas /enak laker rodanya cokromanggilingan rusak jadi kan nggak turun kebawah…
    .
    Nerawang….he he seperti kita lihat kutang itu lho …. pertama bajunya di lihat terus lha nanti kita bisa lihat kutangnya llengkap warna, ukuran…lha lama lama mesti lihat isi kutangnya….he he…
    supaya simple..hubungi bos Eddy minta tolong padanya untuk dipertemukan dengan penasehat spiritualnya,….jangan lupa fee nya

    pake google earth bisa aja….dicoba aja…kalau google search wah malah nggak hanya kutang yang bisa diterawang…pasti udah make kan!!

    Boss Eddy C
    ya kalau mau ngamal ilmu kan ya baik tho…dapet pahala
    Apa panjenengan itu Pelit tho???? kata Mas Endang
    Puasa ya?? Ya sarapan dulu, atau buka….PErut meliLIT tho

    nuwun,

  37. saptaws mengatakan:

    OH YA LUPA…..
    nama/gelar saya lengkapnya
    Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng…sansaya Remuk tho….he he bueeen …puasss!! puasss!!

    nuwun

  38. Oleng mengatakan:

    Sek bentar Mas Saptows :) :)
    Saya tak ketawa dulu ndak kuat nahan saya… :D :D

    Weleh… Mukti apanen Mas lha wong urip-nya saya aja kalo di embake ning pethit ulo sing paling pucuk dewe jhee ora percoyo…!!!
    Jok di trawang yaaa kan dah maaat tuenannnn!!
    Sekali lagi ojo di trwang maneh yaaa..!! :) ;)
    Guyon lhooo Kang Mas….

  39. Oleng mengatakan:

    Wah nek gitu Kangmas Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng juga ikut tak Among dong lha jumbleng kan juga peceren thooo cuman isinya bekas makanan dan minuman yang masuk di raga kita :) nanti yang ngurai juga Oleng/cacing, Lha nek trocoh airnya yang muncrat yaa masuk ke kalen dulu… Cocok masss… :) Jok nesu lhooo guyon lhoo masss…
    Ben diarani sombong sithik… hehehehehe
    Muanteeepp kakak…!!! :)

  40. someone mengatakan:

    waduh.. waduh…
    piyantun ngajogjakarta kaliyan solo menawi gojegan saged damel weteng kawula mules berat… hehehehe… lucu tenan….
    Isine tolah toleh, korek-korek jumbleng kaliyan got, peceran… gojegane… asal mboten kejlungub terus adusan sekalian… :))

  41. eddycorret mengatakan:

    Waduh juga.
    Bagi yang tahu bahasa Jawa ndak masalah dan bisa senyum-senyum membaca komentar di atas. Tetapi bagi yang ndak tahu bahasa Jawa jadi pusing keknya, Hihihi.

  42. someone mengatakan:

    Nerawang….he he seperti kita lihat kutang itu lho …. pertama bajunya di lihat terus lha nanti kita bisa lihat kutangnya llengkap warna, ukuran…lha lama lama mesti lihat isi kutangnya….he he…

    Halah-halah latihan nerawang spiritual kok testing-e kutang cewe seh… jan kemproh tenan… gak dibawah puser sekalian ajah…. hehehehe

  43. Oleng mengatakan:

    Weehh… kemarin itu gojekanya emang sambil mandi Mas Someone… :D ;)

    lha Mas Saptows urik… Adine di joroke neng peceren karena kecemplung dan basah kuyub ya saya pura-pura tenggelam, nah Terus Mas Saptows khan mo nolong… pada saat menjulurkan tanganya saya tarik sekalian… nah kecemplung deh…. jadinya khan basah kabeh dan ketawa berat ibn ngakak deh semuanya, sambil berenang dan gojekan di peceren hehehehe :D
    ( Kayak di sinetron aja… bedane kalo di TV itu kolam beneran kalo ini peceren Mas… :D)
    Gak Percaya Tanya aja sama mas Saptows… :D

    wah itu metode manjur dan pass… :)
    Dengan metode seperti itu akan makin cepat berhasilnya soalnya Teganganya Kuat Buangeeettt gitu lhooo Hehehehe

    Monggo di babar Mas Saptows metode trawang kutang-nya…. ;)

  44. kenthouss mengatakan:

    Welleh wellleh JERUK makan JERUK nantinya…he he DUROKO nanti,,lanjutannya jadi iklan Mie merk SODO dengan jingle :
    SODO…. Mie…… seleraku!!! mengkorok oh buluku…….

    Nah kalau Kiai Oleng dapet Mustiko KENYO ….modus operandinya spt itu….he he…hayo ngaku!!
    Nyemplung…njaluk tulung…..terus mlengkung….akhirnya mlendhung!!!! hua…hua…

    Tull!! Panjenengan nDalem Sejatosipun dewoto kang kajibahan dados pamomong kulo ingkang tansah paring gondo lan tirto ingkang saged nyantosani rogo lan sukmo ngantos klengerrrrr!!!
    drodok…dok…dok

    Weh buat Den Someone…
    Ngueeresssss..yang bilang kutang cewe siapa?? lha kutang Ontokusumo yang pake apa cewe?? ….he he
    Kemproh ning lhak Ngangeni…buktinya
    kita selalu ketagihan kemproh2an tho…..kalau saya weh nggak hanya kemproh, tetapi malah mbah e bahkan dahnyang e kemproh
    topo mbolot salawase urip…. he ..he
    Coba saja resapi dan latihan Aji Trawang Kutang…
    Toto coro….:
    Anteng , meneng…
    Mandeng……
    Heneng………
    Pelan tapi pasti….baju akan terkoyak…dan terpampang kutang (warna, bentuk, ukuran)….akhirnya kutang akan tertanggal nah prosesi terawang berhasil…..
    Cuma wanti2 saya jangan lanjutkan Aji Goyang Isi Kutang…nanti jadi
    CLENG……ya kan Kemproh dan Trocoh !!!
    Den ini sanepan proses Aji Terawang…jangan lupa ucap doa/rapal atau apalah ( saya percaya panjenengan gudangnya ilmu Rapal…warisan mBah Adoh..) diawal dan diakhir proses ya…. selamat mencoba

    Mekaten atur wicoro Trocoh lan Kemproh amargi……..
    Sampeyan nDalem Kanjeng Eddy Coret sampun paring pratandha
    supados wangsul dateng Laptop….Lhak mekaten tho Adi Guru…??
    Sumonggo…….gendhing ladrang adus resik bibar kemprohan katabuh dening poro yogo….

    Sumonggo Adi Guru paring Wedar…..drodok…dok…dok

    Nuwun

  45. Oleng mengatakan:

    Nah kalau Kiai Oleng dapet Mustiko KENYO ….modus operandinya spt itu….he he…hayo ngaku!!

    Hmmm mustika KENYONYOK UDUT itu yang bener Kang Mas…!! :) hehehe

    * Nyemplung…njaluk tulung…..terus mlengkung….akhirnya mlendhung!!!! hua…hua

    Itu betull juga kakang tapi yang Pener gini Kyai kenthouss (Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng)…
    Di Joroke… Kecemplung… Njaluk tulung karo seng njoroke… sing njoroke di tarik sisan… sik njoroke kecemplung ugo… teles bareng… mlengkung bareng… blendung bareng…!! dadine Ayo Bareng-Bareng …… ??? hehehehehe… hua hua.. :D

    *Tull!! Panjenengan nDalem Sejatosipun dewoto kang kajibahan dados pamomong kulo ingkang tansah paring gondo lan tirto ingkang saged nyantosani rogo lan sukmo ngantos klengerrrrr!!!
    drodok…dok…dok

    he e ee eee ladallah lelakon punapa malih Kakang… Kakang saget menggalih kados mekaten… pinanggih pinten perkawis kakang… Sak punika monggo dipun penggalih… kakang sejatosipun Satriyo ingkang kadah gondo inggkang arum benten kaliyan Adi namung gadah gondo ingkang mambet peceren… Kakang anggadahi Sabdo Wicoro ingkang nggadahi doyo kang lebet… benten kaliyan Adi ingkang namung nggadahi panemu ingkang cethek… Lajeng kakang ndebak Adi paujudane dewoto… punika pinanggih pinter perkawis Kakang…. punopo mboten kuwalik kakang…???
    oooowwwwwwwnngggg
    drodok…dok…dok…

    *Sumonggo Adi Guru paring Wedar…..drodok…dok…dok

    Kangmas Kanjeng Kiai Satrio Trah ing Kusumo Trocoh ing Wicoro Keleb ing Jumbleng kedahipun Panjenengan Ndalem ingkang paring wedar wewarah dumateng Adi lan poro kadang, Nopo malih adi namung paujudaning oleng ingkang gesang wonten sak lebeting peceren, lang kebak dangkal soho nggondo ingkang badek, Dados mboten Trep menawi Adi paring wedar wewarah

    Mekaten Atus wicoro ingkang cethek lan mboten wonten makna punapa-punapa
    Sumonggo…….di pun ambali malih… gendhing ladrang adus resik bibar kemprohan katabuh dening poro yogo….

  46. Oleng mengatakan:

    Welleh wellleh JERUK makan JERUK nantinya…he he DUROKO nanti,,lanjutannya jadi iklan Mie merk SODO dengan jingle :
    SODO…. Mie…… seleraku!!! mengkorok oh buluku…….

    Hua hua hua ngakak berat…

  47. eddycorret mengatakan:

    Wah.
    Coba Ucup Kelik ikut plesetan. Wow makin seru keknya.

  48. saptaws mengatakan:

    Ngapunten badhe nyela atur
    ……Adi Guru sejatosipun meniko ingkang dados pangarso inggih ingkang hamengku karso Gumelaring paseban wonten kedhaton “kontrofersi” mriki meniko, ingkang jejulk Den Mazz Eddy Coret…. monggo katuran
    dro dog….dog dog!!!
    OOOOwwwwwwwww
    Neng …nong…….Ning……..GUNGGGGGGGGG!!

    Nuwun

  49. eddycorret mengatakan:

    Weg.
    Tulisan saya ini kontrofersi lo Om. Ada yang bisa nerima tetapi banyak yang menolak. Om tau sendiri kan.
    Kita diskusi aja, ndak usah pake unggah-ungguh kacuali terpaksa, hihihi.

  50. saptaws mengatakan:

    Perkara ada yang nerima atau yang menolak…..jangan ambil pusing
    sah sah saja,
    malah kita semua bisa tahu,….Yo opo orang kalau bebas berpikir dan ngomong itu…..nah kan ada gunanya!!

    Kalau hal unggah ungguh yaa…..monggosuko saja, tetapi yang namanya unggah ungguh ya seyogyanya masih dipake to Bozz
    karena unggah ungguh kan bukan artinya hanya ewuh pakewuh,
    ngajeni, dsb tapi juga sebagai batasan walau setipis apapun
    sehingga terwujud koridor….nah maksudnya alur pembicaraan
    di kontroversi……supaya ndak nggladrah buanget, etung2 yang buat sudah susah payah walau sambil tiduran,…..he he

    Lha kalo tlonyar tlonyor macem saya gini nggak ada rem nya
    bisa di gebukin sama banyak orang…..!!!bonyokkk nanti
    malah malah disantet….whua whua ….takuuut!!…..

    yang penting KONTROVERSI jalan TERUSS!!,,…bisa untuk nambah pengalaman/pengetahuan, nambah kadang…sedulur…

    nuwun

  51. Oleng mengatakan:

    Nuwun injih Kakang…
    Gandeng Kang Mas sampun paring tondo Dumateng Adi supados Adi Ndodog lenggah sinambi midangetaken saho nglaras gending-gending Ala “KONTROVERSI” wonten ing sak lebeting Dampar Paseban Wonten ing Kraton “KONTROVERSI” Mriki Adi sampun ndodog lan lenggah kawit wingi Ngantoss Keju :) Kang Mas
    Creek crekcek cek cek15x
    drodog dog dog

    Kocap Kacarita…
    ooooowwwwwnngg…
    Drodog dog dog5x
    Si Oleng mung tilang-tilong koyo munyuk ketulup :D
    ndelog polah tingkahe para kadang ing kraton “KONTROVERSI”…. lan poro wiyogo kang nabuh gamelan kanti Judul Gending “KONTROVERSI”
    Mugo KONTROVERSI jalan TERUS… ;)
    Oooowwwwngggg
    Droodog dog dog
    Monggo Katuran Ugi Droodog dog dog
    Crecekk cek cek …..

  52. eddycorret mengatakan:

    Weg, Ki dalang wes tangi.

  53. banaspati mengatakan:

    Dalang Eddy, baru persiapan Mudik, jadi repot, harap maklum

  54. kertiwindu mengatakan:

    hua ha ha hah ha hah hah hah pedueesss bar mangan nasi gandul nna ngarepe harboss…he heh he he
    kok sajak gayeng…
    kula kertiwindu saking tlatah roban nderek klesam klesem maos poro kadang sami gegujengan….
    monggo dipun lajeng

  55. kertiwindu mengatakan:

    salam patepangan nggih para dulur sadayo ingkang sami nguri2 kabudayaan jawi

  56. eddycorret mengatakan:

    Yah.
    Silahkan saja dilanjutkan.
    Biar tambah pengetahuan.

  57. rj mengatakan:

    percaya gak percaya itu akan terjadi….
    banyak kejadian yang kebenaran sabdo palon
    kalau emg bener2 ngaku orang jawa pastinya akan tau, tapi kalo cuman ikut2an dan takut mati, ya ndak tau…tunggu aja
    coba kamu rasakan…mengerti dan pahami tentang kejadian2 dialam ini. kenyataan yang akan membuka tabir kebohongan ini…kebohongan yang di siarkan kemana mana. orang hanya bisa membaca tp gak bisa merasakan..padahal bacaannya aja pada gak ngerti. bgitu aja dah berani tampil berdakwah…katanya inilah itulah..klo emg bener2 hebat ngaku kalo bner2 suci..
    coba sana hentikan bencana2 yg bkal terjadi…?coba di patahkan kata2 eyang sabdo palon…
    hati2lah dengan dirimu…
    dan hati2lah dengan perbuatanmu….
    karena keselamatan..itu tergantung dari budi pekertimu…sendiri
    ingtat hukum karma itu berlaku..
    oke…

  58. eddycorret mengatakan:

    oke kk…

    Ada 2 fenomena keseimbangan di Indonesia, yaitu :
    1. fenomena pertama Indonesia akan hancur dan
    2. fenomena kedua Indonesia akan makmur.

    Yang amat disayangkan yaitu bahwa Sabdo Palon hanya meramal Indonesia akan hancur saja, Sabdo palon tidak mengeluarkan ramalan tentang Indonesia akan makmur. Padahal Prabu Joyoboyo dalam jongkonya menyebutkan 2 hal itu yaitu Zaman kalabendu juga Zaman Kalasuba.

    Jadi kita seimbangkan saja yah, memang Indonesia akan hancur tetapi setelah itu Indonesia akan makmur. gitu kk oc. :)

  59. Rosen mengatakan:

    Sory ikut nimbrung.. padahal udah setahun yg lalu ya threadnya tapi menarik banget untuk di bahas, terutama tentang bangsa demit (Sabdopalon/Nalagenggong) yg menterjemahkan bahasa arab ke bahasa jawa yg terlalu di paksakan seperti MUHAMMAD yg berarti makam, akhirat = melarat, tanpa melihat arti harfiah kata2 tersebut di dalam bahasa aslinya.
    Saya rasa darmogandul ini adalah sebuah buku karangan seorang pujangga yg luar biasa namun mempunyai pengalaman buruk dengan Islam. Dengan luar biasa di tuliskan dan ceritakan dengan gamblang tentang kisah Majapahit dan Islam kala itu menurut versi nya dan seakan akan ini adalah kejadian yg sebenarnya, padahal sebenarnya ini hanyalah sebuah dongeng yg penuh dengan bumbu2 permusuhan dan kebencian.
    Dan saya yakin bahwa serat/novel ini ditulis jauh setelah jaman Majapahit, jadi sama sekali tidak akurat. Memang banyak petuah2 terdapat didalamnya namun isinya juga penuh dengan tambahan klenik khas orang Jawa yg ga masuk di akal.
    Mungkin serat/novel ini sejajar dengan cerita sembara, mak lampir, brahma kumbara, wiro sableng, dll. Dan bukan seharusnya dijadikan dasar suatu kepercayaan.

  60. eddycorret mengatakan:

    Memang dugaan sementara si penulis Serat Darmogandul tidak suka dengan Walisongo terutama Sunan Kalijogo. Maka itu isi seratnya rada miring sebelah.

  61. brandon alan scofield mengatakan:

    diserat dormogandul di lukiskan seolah majapahit runtuh karena serangan raden patah … padahal majapahit runtuh karena perang saudara … INGAT MAJAPAHIT BUKAN NEGARA NASIONALIS ! TAPI NEGARA IMPERIALIS!
    WILAYAH nusantara bergabung membentuk Indonesia dengan SUKARELA DAN DENGAN RASA NASIONALISME ,

    tapi MAJAPAHIT DIBENTUK dengan PAKSAAN ! SENJATA ! KEKERASAN !
    jadi majapahit TEGAK DI ATAS RASA TAKUT DAN RASA CINTA !

    contoh : pasukan majapahit yang menyamar bikin KERUSUHAN DI KOTA A : terus datang lagi , PASUKAN MAJAPAHIT LAIN PURA -PURA MENGUSIR MEREKA ! JADI PASUKAN majapahit pahlawan !

    yeah kayak kasus Ambon! angkatan bersenjata rekayasa konflik di situ supaya bisa diterjunkan

  62. eddycorret mengatakan:

    Om Brandon dapet cerita ginian sumbernya dari mana yah.

  63. sony h waluyo mengatakan:

    lucifer dan sabdo palon adalah istilah spiritual yg sama… spirit yg sama… energi yg sama… sama2 pembawa cahaya…. krn cahaya adalah pengetahuan… dan pengetahuan yg luas adalah landasan utk dpt mengolah kehidupan dan alam dg cara2 bijaksana…

    lucifer dr kata lux. lucis = cahaya; dan ferre = membawa… pembawa cahaya….

    semua orang yg menyediakan diri utk membawa cahaya… membangkitkan kundalininya… ingat lambang kundalini adalah ular… sang “iblis” alais lucifer… yg diputarbalikan pemahamannya… shg kebangkitan kundalini adalah bangkitnya cakra2 tubuh dan tersambungnya dg pusat2 energi/cahaya/pusat data pengetahuan (kitab kehidupan/bank data archaic memory di luar tubuh fiisik yg adalah pusat2 alam semesta yg dlm kasanah spiritual jawa disebut “sedulur papat kalimo pancer”…. krn kundalini tembus ke ajna terus tembus cakra mahkota shg terhubung ke psuat2 data semacam itu.

    salam damai selaras, cinta dan cahaya menyertai kita semua…
    ~dhemit sonthul~

  64. eddycorret mengatakan:

    Kundalini dengan sedulur papat limo pancer tidaklah sama. Akan tetapi bila anda menyamakannya silahkan saja karena fersi Kundalini berbeda-beda. Membangkitkan Kundalini bukan hal yang mudah, penuh resiko dan bila tanpa bimbingan seorang guru akan bisa berakibat tidak baik pada orang yang melatihnya.

    Apabila sudah bangkit Kundalininya juga harus dipertahankan kesadarannya terus agar tetap naik jangan sampe turun. Kundalini akan naik mengikuti naiknya kesadaran orang yang melatihnya. Jalan yang paling mudah adalah memasuki Cakra Dasar hingga Cakra Jantung. Akan tetapi bila sudah mulai merangkak ke Cakra Tenggorokan maka butuh ektra latihan dan peningkatan kesadaran lebih baik lagi.

    Apalagi mau memasuki wilayah cakra Ajna dan cakra Mahkota, wow … tidak setiap orang yang berlatih Kundalini akan dapat mancapainya.

  65. sony hw mengatakan:

    bangkitnya kundalini adalah syarat utk bisa akses sedulur papat kalimo pancer (istilah personifikasi semata)… mulai dr mampu memiliki hati (cakra jantung) yg lapang shg mampu menampung semua informasi yg mengalir dari pusat2 energi di luar tubuh…dst naik ke cakra tenggorokan utk komunikasi verbal… ke cakra ajna utk mempu melihat dr berbagai sudut pandang.. ke cakra mahkota utk menjembatani ke cakra2 pusat2 energi kosmik… yg mesti diselaraskan dan tubuh ini mjd media komunikasinya antara kesadaran kosmik dan kesadaran ibu bumi….

    salam cinta dan cahaya…

  66. eddycorret mengatakan:

    Sebenarnya tujuan setiap orang yang belajar Kundalini tidak sama walaupun pada akhirnya akan terjadi peningkatan spiritual dari yang berangkutan. Ada yang belajar Kundalini untuk tenaga dalam, untuk pengaktifan cakra, untuk memutuskan karma, untuk mencapai kesadaran kosmos dan lain sebagainya.

    Meskipun tidak sama tujuannya antara satu dengan yang lainnya dalam melatih Kundalini, namun yang pasti bila Kundalini telah bangkit maka spiritual yang bersangkutan akan ikut naik juga diikuti oleh kesadarannya sehingga akan semakin terbuka dalam melihat Dunia yang sempit ini.

  67. ken angrok mengatakan:

    emang orang ditah nah jawa selalu bingung dan mbingungi, karena banyak expatriat yang membawa keyakinanya atasnama tuhan, ya memang dunia ini selalu mengalami perubahan…..

  68. eddycorret mengatakan:

    Dunia akan selalu berubah mengikuti perubahan zaman. Kemajuan dialami semua sisi kehidupan, teknologi makin canggih, penemuan akan terus terjadi di semua lini kehidupan DLL dan ujung-ujungnya dunia tidak mampu lagi menampung kemajuan zaman dan tibalah waktunya terjadi kiamat.

  69. Ki Dharmo Carito mengatakan:

    Sabda Buddha Gotama; Segala yang terbentuk tidak kekal, dunia ini tidak ada ajeg, yang ajeg itu yang berubah, Agama Buddha tidak pernah mengajarkan sindiran, celaan terhadap orang lain, paham lain, karena Buddha sangat memahami kedalaman ilmu dari setiap orang. (Prasasti Asoka Ag. Buddha; Jika agamamu ingin dihormati, maka hormati agama orang lain)
    Kata-kata Sabda Palon adalah gambaran kekecewaan terhadap Pemimpin/Raja yang manca-mencle yang tidak bisa dijadikan panutan. Maka, seandainya ada orang lain, paham lain, merasa tidak berkenan, kita harus bijak menganalisanya. Jika kita terjebak dalam perdebatan bahasa maka tidak akan ketemu kebenaran yang sejati, karena bahasa bukan kebenaran, hanya alat komunikasi bagi yang mengerti. Semanteen rumiyin obrolan kawulo.

    • anak kecil mengatakan:

      hehe…ga juga bapak, karena dalam tipitaka pun penuh serangan kepada rahib brahmana, contohnya ini nih :

      Setelah kata-kata tersebut Yang Mulia ânanda berkata kepada Sang Bhagavà: ‘Menakjubkan, Bhagavà, sungguh indah. Apakah nama dari pembabaran Dhamma ini?’
      ‘ânanda, engkau boleh mengingat pembabaran Dhamma ini sebagai Jaring Manfaat,79 Jaring Dhamma, Jaring Tertinggi, Jaring Pandangan-pandangan, atau sebagai Kemenangan tanpa tandingan dalam Pertempuran.’

      Demikianlah Sang Bhagavà berkata, dan para bhikkhu bergembira : Brahmajàla Sutta
      dan bersukacita mendengar kata-kata Beliau. Dan ketika pembabaran ini sedang disampaikan, sepuluh ribu alam-semesta berguncang.

      • Sigàlaka Sutta 35. Mendengar kata-kata ini, Sigàlaka berkata kepada Sang Bhagavà: ‘Sungguh menakjubkan, Bhagavà, sungguh luar biasa! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Bhagavà Yang Terberkahi telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Sudilah Bhagavà menerimaku sejak hari ini sebagai seorang siswa-awam hingga akhir hidupku!’
      (digha nikaya)

      jadi pada dasarnya hikmah diturunkannya seorang nabi adalah memberikan peringatan (walau sebagian orang menyebut sebagai celaan hehe..)..

      hehe,,,kalau mau bahas dialog lintas agama baiknya nanti aja, banyak orang awam hehe….
      disamping masyarakat indonesia sebagian besar belum siap untuk bisa menerima sesuatu perubahan….hehe…

      baiknya dibahas nanti aja atau via email juga boleh (kalau berminat hehe..)….

  70. eddycorret mengatakan:

    Ini sama dengan teorinya Empedokles (lawan dari Demokritos) mengenai segala sesuatu di alam semesta ini bergerak yang sebaliknya menurut Democritos bahwa segala sesuatu di alam semesta ini tetap dan tidak berubah.

    Mengenai Sabdo Palon sepertinya memang terlihat apa-apa yang diuraikan itu merupakan bentuk kekesalan saja. Namun dalam hal ini masih tanda tanya, apakah si penulis Serat Darmogandul murni menyebutkan apa saja yang diutarakan Sabdo Palon tanpa menambahi dan mengurangi.

    Sulit menjawab pertanyaan tersebut karena saksi-saksi yang memperkuat tidak ada. Jadi ya apa adanya yang tertulis dalam Serat Darmogandul akan ditafsirkan oleh pembaca dengan penafsiran yang berbeda-beda.

  71. paulussumaryo mengatakan:

    Kalau saya menanggapi tulisan tadi (Serat Darmogandul) lebih dititikberatkan kepada tindakan kita sebagai manusia secara positif. Artinya, tidak merusak alam beserta isinya (termasuk bumi, manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan) pemanfaatan secara teratur dan seimbang sehingga menjaga lingkungan dan melestarikan. Oleh karena itu, ditinjau dari agama apa pun dan ilmu pengetahuan apa pun pasti benar.

    Terima kasih.
    P. Sumaryo

  72. Amin mengatakan:

    Penulis

    Darmagandhul ditulis oleh Ki Kalamwadi, dengan waktu penulisan hari Sabtu Legi, 23 Ruwah 1830 Jawa (atau sangkala Wuk Guneng Ngesthi Nata, sama dengan 16 Desember 1900). Sebagian ada yang berpendapat bahwa pengarang sesungguhnya adalah Ronggowarsito dengan nama samaran Kalamwadi, yang dalam bahasa Jawa dapat pula berarti kabar (kalam) yang dirahasiakan (wadi). Karya ini ditulis dalam bentuk dialog yang terjadi antara Ki Kalamwadi dan muridnya Darmagandhul. Namun teori itu mudah terbantah, karena Ronggowarsito telah meninggal 29 tahun sebelumnya.

    Sebagian pihak[siapa?] menduga bahwa penulisan Serat Darmagandhul tak terlepas dari proyek orientalisme Belanda. Hal itu didasarkan dari adanya pengaruh Kristen dalam karya sastra ini. Philip van Akheren menduga, pengarangnya adalah seorang Kristen bernama Ngabdullah Tunggul Wulung.[rujukan?] Namun, pihak lain membantah teori ini sebab Tunggul Wulung dikenal menghormati Islam. Sementara kitab ini penuh berisi ejekan dan hinaan terhadap Islam, dan banyak kesalahan dalam mengungkapkan fakta sejarah.
    [sunting] Isi

    Dialog diawali dari pertanyaan Darmagandhul kepada gurunya mengenai kapan terjadinya perubahan agama di Jawa. Disebutkan bahwa Ki Kalamwadi kemudian memberikan keterangan-keterangan berdasarkan penjelasan dari gurunya, yang bernama Raden Budi. Cerita dan ajaran yang diuraikan oleh Ki Kalamwadi memuat berbagai hal; antara lain jatuhnya kerajaan Majapahit, berbagai peranan Walisongo dan tokoh-tokoh lainnya pada awal masa peralihan Majapahit-Demak, topik-topik dalam ajaran agama Islam, serta terjadinya benturan berbagai budaya baru dengan kepercayaan lokal masyarakat Jawa saat itu.

    Hampir seluruh isi Serat Darmagandul merupakan bentuk turunan dari cerita babad yang telah ada sebelumnya. Kitab yang dimaksud adalah Babad Kadhiri yang ditulis pada tahun 1832 oleh Mas Ngabehi Purbawijaya dan Mas Ngabehi Mangunwijaya. GWJ. Drewes, seorang orientalis Belanda, mengungkapkan bahwa Babad Kadhiri menyediakan tema utama dan ide bagi penulisan Serat Darmagandul. Meskipun demikian, ia mengungkapkan bahwa pengarang Darmagandul telah memoles karyanya agar tidak spesifik sama dengan kitab induk yang menginspirasinya, dengan memasukkan kisah-kisah Kristiani, seperti kisah Daud dengan Uria dan Absalom, pohon pengetahuan, dsb, serta memuji penjajah Belanda sebagai penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya. Kitab ini juga mendukung misi Kristenisasi di Hindia-Belanda.

    Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Darmagandhul

  73. anak kecil mengatakan:

    hehe…membahas serat dharmogandul ini baiknya dibahas nanti aja, ini termasuk tahapan terakhir…

    yang jelas serat dharmogandul lebih baru, beda dengan naskah jayabaya yang lebih dulu ratusan tahun sebelumnya…

    hehe…Allah akan bekerja di balik alam persepsi manusia, pada akhirnya nanti kalau Allah berkehendak semua yang terjadi adalah luar biasa…

  74. sandi mengatakan:

    dari rujukan yang disampaikan mas amin, makin jelas arah dan tujuan penulisan serat darmagandol, secara logika pun sulit diterima, ada seorang abdi berani menentang apalagi mengutuk kepada seorang raja besar, prabu brawijaya, kalo benar dalam tataran kerajaan orang tersebut sudah pasti dihukum mati oleh raja.

    secara spiritualpun, ini sudah ditanyakan langsung kepada sunan lawu ( prabu brawijaya ), beliau menyatakan tidak benar apa yang ditulis dalam serat darmigandul. sabdo palon naya genggong merupakan abdi kinasih prabu brawijaya, dan sampai akhir hayatnya ( tidak muksa ), tetap hormat dan patuh pada brawijaya meskipun memang tidak bersedia masuk islam. sunan lawu juga mengatakan tidaklah benar sabdo palon memiliki kemampuan kutukan seperti yang tertera dalam serat tersebut.

    kalo demikian, berarti dalam penulisan serat dargandhul, bisa jadi memang ada maksud untuk menjatuhkan martabat brawijaya dimata kawulane karena sudah masuk agama islam, ini terbukti dalam serat tersebut tergarmbar kemarahan sabdo palon ( abdi ) kepada brawijaya ( raja ), sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam tataran kerajaan di nusantara, karena sopan santun, unggah ungguh dalam menghadap raja tidak mungkin berani dilanggar, wallahu alam bisshowab

  75. Amin mengatakan:

    Ini ada tulisan bagus mengenai EKSISTENSI SABDA PALON.. saya kutip sedikit:

    Jika kita telusur lebih jauh, cerita nubuatan semacam sumpah Sabda Palon tidak lebih sekedar sebagai karya sastra saja. Karya ini menggunakan cerita rakyat yang telah banyak beredar di masyarakat. Dalam tradisi oral yang berkembang di sekitar Trowulan, sebuah wilayah yang diyakini sebagai salah satu situs Majapahit, tokoh Sabda Palon dan Naya Genggong merupakan tokoh yang diyakini hidup pada masa Majapahit dan memiliki pekerjaan sebagai abdi dalem Keraton. Cerita-cerita babad kemudian memanfaatkan tradisi lesan yang berkembang ini, dengan meminjam nama Sabda Palon dan Naya Genggong, kemudian memberi peran baru kepada kedua tokoh ini, dan pada giliran selanjutnya diangkat dari derajadnya yang tidak lebih dari abdi dalem biasa menjadi “danyang” Tanah Jawa. Dengan demikian tradisi oral tentang cerita Sabda Palon dan Noyo Genggong telah memiliki nilai baru dan menjadi mitologi. Proses demikian adalah hal biasa terjadi mengingat adanya sejumlah kepentingan yang bermain.

    Kenyataannya dalam tradisi lesan yang berkembang di Trowulan, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong bukan merupakan sosok yang anti Islam. Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam tradisi oral masyarakat adalah dua orang abdi Majapahit yang telah memeluk agama Islam. Hal ini sudah tentu berbeda dengan sejumlah kisah babad yang menempatkan keduanya sebagai sosok mitologis. Berdasarkan keterangan resmi Pusat Informasi Majapahit (Museum Trowulan), kedua tokoh tersebut merupakan dua di antara 7 (tujuh) dari nama orang yang dimakamkan di situs makam Troloyo yang terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Perlu diketahui bahwa ketujuh makam di situs Troloyo tersebut merupakan makam abdi dalem Majapahit yang telah memeluk agama Islam.[10]

    Makam abdi Majapahit yang telah memeluk Islam. Nampak kalimat Syahadat terukir di nisannya. (Dok. Susiyanto)

    Dengan keterangan tersebut, tokoh Sabda Palon dan Noyo Genggong yang hidup dalam cerita rakyat justru merupakan penganut ajaran Islam. Sehingga setelah wafatnya disemayamkan dalam pemakaman Islam pula. Meskipun demikian Cerita tentang keberadaan nama Sabda Palon dan Noyo Genggong di situs Troloyo ini hanya didasarkan kepada tradisi lesan yang berkembang pada masyarakat di sekitar situs itu saja. Kebenarannya sudah tentu sukar diverifikasi. Namun tidak diragukan lagi bahwa cerita-cerita babad yang saat ini beredar, umumnya banyak yang menggali ide ceritanya dari tradisi lesan yang berkembang di suatu masyarakat tertentu. Kemudian tradisi lesan yang ada, diberi muatan nilai baru dan dimodifikasi sesuai pesan yang hendak disampaikan sehingga muncullah mitos tersebut.

    Sumber: http://susiyanto.wordpress.com/2010/01/24/jangka-sabda-palon-ramalan-kehancuran-islam-di-jawa/

    • brandon alan scofield mengatakan:

      lupakan darmagandul … mari kembali laptop

      pakem joyoboyo + hadis mahdi

      • brandon alan scofield mengatakan:

        kesimpulan , ada orang yang menjual nama sabdopalon untuk bikin naskah ramalan palsu … ha ha ha …

        • brandon alan scofield mengatakan:

          sabdo palon itu cuma abdi dalem ..

          kemungkinan makna sabdopalon nayagengong di joyoboyo bermakna asisten/pembantu sp

          • eddycorret mengatakan:

            brandon alan scofield – Juli 2, 2010
            lupakan darmagandul … mari kembali laptop
            pakem joyoboyo + hadis mahdi

            Weeeee ….. ini halaman khusus Serat Darmogandul.
            Coba lihat tuh apa judulnya ?
            Om Brandon lupa nih.

  76. 'anak kecil mengatakan:

    kak brandon, sabdopalon tuh kan abdinya damarwulan yah, coz bu gulu pernah cerita dongeng damarwulan,,,,hehe..

    • Bayu mengatakan:

      Damarwulan hanya ada dlm cerita lakon ketoprak yg dibuat/ditulis sunan kalijogo.
      Sunan kalijogo adalah wali sekaligus seniman jawa, sunan kalijogo banyak menciptakan karya seni jawa sbg media syiar & dakwah. Diantaranya : gamelan, wayang kulit, ketoprak, babat tanah jawa, suluk pedalangan, tembang pangkur, tembang dandanggulo, tembang dolanan ILIR ILIR.
      Seni ketoprak sering mementaskan cerita damarwulan vs menakjinggo. Yg tokoh ceritanya adalah damarwulan, menakjinggo, patih lohgender, dewi suhita dan puhyengan, sabdo palon, noyo genggong, dewi kencono wungu.
      Jadi tokoh sabdo palon dan noyo genggong dlm darmogandul samasekali tdk ada hubungannya dg tokoh sabdo palon dan noyo genggong dlm versi lakon ketoprak damarwulan yg ditulis sunan kalijogo.

      Dalam dakwah, sunan kalijogo punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Fahaman keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata).

  77. Sony H Waluyo mengatakan:

    Sabdo palon dilihat dr lintas agama/kepercayaan

    Perhatikan bhw tulisan2 “nubuatan” semacam ini mesti dibaca dr kacamata universal. Tafsir dg mendasarkan dr suatu sudut pandang agama “tdk akan pernah mampu menjelaskan” dg lengkap. Jadi klo hanya dilihat dr sudut pandang Islam, tidak cukup, dilihat dr agama Buddha-Siwa yg berkembang di era itu juga tdk cukup.

    Satu hal yg menarik dr serat darmogandul adalah pesan dr sabdo palon yg mengatakan ia akan datang kembali dan ngemong manusia nusantara di masa mendatang (dilihat dr waktu serat ini ditulis). Satu pesan mengatakan bahwa ia akan ngemong orang2 yg bersenjatakan pengetahuan. Ramalan ini terkait dg apa yg disebut2 sbg satria piningit. Satria piningit digambarkan sbg sosok pembebas di kalangan jawa. Harapan datangnya sang pembebas ini juga muncul di tempat lain yg disebut di kalangan Kristen sbg datangnya Kristus kembali.Sementara yg lain menyebutnya sbg kedatangan Imam Mahdi.

    Ramalan2 itu menunjuk ke satu orang; namun jika melihat pesan darmogandul itu jelas menyiratkan bhw spirit sabdo palon akan ngemong “orang2 yg bersenjatakan pengetahuan”; artinya banyak orang. Shg pengertian satria piningit bukan hanya satu sosok; pengertian Kristus juga bukan satu sosok; pengertian Imam Mahdi juga bukan satu sosok, melainkan banyak orang yg memiliki pengetahuan, yakni pengetahuan ttg kebijaksanaan hidup.

    Satria piningit sendiri artinya orang yg telah digembleng, dipingit dr hidup enak dan mapan, artinya orang yg telah matang oleh didikan kawah cadra dimuka kehidupan, shg hidup dg cara2 bijaksana.

    Pengertian ini, mjd lebih mudah jika memahami apa yg disebut gnosisme di kalangan Yahudi & Kristen. Gnosis artinya pengetahuan. Pemahaman ini juga terkait dg lambang lotus di kalangan hindu-budaha-yoga dan dewi saraswati sbg lambang pengetahuan dan kebijaksanaan hidup. Logikanya, sederhana, kehidupan di bumi ini akan aman, damai dan tenang jika manusia hidup dg cara2 bijaksana, saling berbagi sumber kehidupan, saling asah, asih asuh. Jadi sama sekali tdk terkait dg ajaran ketuhanan mana yg paling benar dan agama apa yg paling benar, melainkan bersumber pd kebijaksanaan mengelola hidup. Dan oleh krn itu pengetahaun kebijaksaan itu mesti dipahami oleh buanyak orang, orang2 yg bijaksana, bukan hanya nurut dan jadi pengikut satu-satunya orang spt yg digambarkan oleh kebanyakan tafsir ttg Kristus, Satria Piningit, Imam Mahdi dll spt digambarkan selama ini.

    Terkait dg itu dlm Injil Thomas (salah satu Injil kaum gnostik kristen) disebutkan bhw Yesus mengatakan “amatilah dan semua rahasia akan dibukakan bagimu” yg artinya, tdk ada rahasia yg sebenarnya tdk bisa diketahui oleh manusia. Jadi dg mau belajar mengamati, yg dlm jawa disebut olah roso, semua rahasia akan bisa terbuka. Jadi ajaran2 yg mengatakan misteri tak bisa dipahami dan akan tetap mjd rahasia Tuhan hanya dikatakan oleh mrk, orang yg ngaku2 jadi guru tapi sebenarnya gak tahu banyak ttg misteri kehidupan. Konyolnya ketidaktahuannya dijadikan alasan utk melarang orang lain utk tahu dan belajar. Tentunya syarat utk bisa belajar adalah mau belajar terus. Dan saat membatasi diri tak mungkin mengetahui misteri sudah barang tentu tak bakal bisa membuka misteri. Kesombongan adalah krn tak mau belajar dr orang lain. Misal spt para pemeluk agama yg fanatis jelad tak mau mempelajari agama lain, pdhal banyak info yg dianggap misteri2 yg tak ada di agamanya ada dlm agama lain. Fanatisme menyebabkan misteri itu tak terbuka. Fanatisme itulah salah satu bentuk kesombongan dg membatasi kebenaran dlm rupa pengetahuan agamanya saja dan diluar agamanya dianggap salah.

    Oleh krn itu ramalah sabdo palon ini adalah ramalan ttg era di masa sekarang ttg orang2 yg berpengetahuan luas dan mendobrak tradisi mengangap agama sendiri yg paling benar.
    kaitannya dg Lucifer, yg berarti Sang Pembawa Terang, atau biasa juga disbut para Light Workers; mereka ini akan membawa terang dlm rupa pengetahuan juga, spt bisa dipahami dlm ungapan “tercerahkan” krn mendapatkan penjelasan yg baik, dan “penjelasan’ artinya adalah pengetahuan/informasi.

    Saat ini di Nusantara banyak kalangan spiritualis lintas agama/kepercayaan saling komunikasi dan berbagi pengetahuan dan itu tanda2 ramalan itu mjd kenyataan.

    Love, light & peace…

    Sony H Waluyo

    Demikian sedikit berbagi saja

  78. kaleng kerupuk mengatakan:

    hehe,,,,yah pada intinya sang pemegang rahasia yang lebih tahu….

  79. Batara bilyard mengatakan:

    Sabdo palon hanya omong kosong . .

  80. kaleng kerupuk mengatakan:

    hehe…kalau seorang muslim tuh jelas keyakinannya, syahadat, iman kepada ALlah dan membenarkan kerasulan Nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir….

    dalam keyakinan Islam, Nabi Musa yang membawa kitab Taurat, dan Nabi Isa yang membawa kitab Injil dan para nabi2 lain adalah sudah berhenti masa tugas mereka setelah kedatangan nabi Muhammad saw…nabi Isa as yang akan turun di akhir jaman sebagai ratu adil, pun akan melaksanakan syariat nabi Muhammad saw….demikian keyakinan aqidah umat Islam…ini adalah makna syahadat….

    bukan seperti Islam liberal yang akarnya dari yahudi zionis dan orientalis, yang menganggap bahwa semua agama adalah benar,,,..hehe…makanya Islam liberal tuh dinilai sesat oleh para ulama karena menentang hakekat kalimat syahadat yang sudah final…hehe…

    walau mengaku Islam tapi Islam liberal tetap aja bertentangan dengan ajaran Islam, karena mereka menyimpangkan makna syahadat…

    sama saja paham liberal andai merasuki agama lain pun akan mempengaruhi masing2 pemeluk agama,,,,padahal intisari memeluk agama masing2 adalah kesadaran atas pilihan sendiri….kalau ada orang kristen yang memeluk kristen karena pilihan mereka sendiri tentu saja mereka akan menganggap agama kristen yang benar menurut mereka…begitu juga agama budha, hindu, konghuchu…
    coba tanyakan kepada masing2 pemeluk agama, apakah pemeluk agama lain tidak dianggap sebagai orang kafir?

    hehe…orang budha pun menilai orang muslim kafir menurut mereka, orang kristen pun menilai orang budha kafir menurut mereka,,,ya ga usah heran dan bingung, karena memang seperti itulah ajaran agama,,,,yang namanya keyakinan masing2 agama memang begitu….
    yang penting toleransi aja….

    hehe…

  81. kaleng kerupuk mengatakan:

    apa mau merubah ajaran masing2 agama2…hehe…. yah sama saja membuat agama baru dong hehe…

    saya kira bukan sikap yang bijaksana….

    ujung2nya pada akhirnya, membuat pemeluk masing2 agama menjadi ragu2 kepada ajaran masing2 agama mereka dan ujung dari semua ini akhirnya ya kembali ke liberalisasi agama…hehe…
    sosok agama menjadi kehilangan ruhnya dan spiritnya…

    intisari agama didasarkan atas keyakinan…. kalau sudah yakin maka sholatnya pun akan mantep dan tenang, karena inilah intisari keimanan…hehe..

  82. kaleng kerupuk mengatakan:

    pada intinya NKRI sudah membuat aturan toleransi yang jelas dan tegas dalam falsalfah Pancasila, yaitu kemerdekaan menjalankan agama, dan toleransi kepada penganut agama lain…

    kemerdekaan menjalankan agama dan toleransi, adalah maknanya, silahkan masing2 pemeluk agama meyakini ajaran agamanya, menjalankan ajaran agamanya dan tidak boleh saling mengganggu atau merusak tempat ibadah agama lain…

    aturan negara ini pun tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang menganut prinsip toleransi kepada agama lain..

    hehe…jadi kembalikan arti kata toleransi kepada tempatnya yang benar,,,,

  83. someone mengatakan:

    santai saja mas kaleng kerupuk… salah satu batu uji dari semua kebenaran yang bersifat relatif adalah kejujuran. Beranikah agama-agama besar didunia membuka aib akan penyebaran agamanya, yang bisa jadi penuh manipulasi, penuh darah dan penuh pembantaian yang terkubur kebenarannya secara berabad-abad.

    Islam sendiri pun tidak lepas dari aib akan pembantaian keluarga nabi di karbala oleh para pengikut nabi sendiri atas dasar perebutan kekuasaan….. Belenggu akan kekuasaan, kejayaan, kekayaan, kebanggaan, ketenaran bahkan perebutan wanita membelenggu sejarah dunia ini dari pemberitaan yang shahih dan benar berdasarkan apa adanya (kejujuran). Itu batu sandungan yang sulit untuk meluruskan sejarah peradaban umat manusia.

    Dan di dalam Al’Quran sendiri menyatakan bahwa dia adalah berita langit (dari Allah SWT) yang tidak mengalami perubahan dari sejak diturunkan sampai sekarang. Dan Al’Quran sendiri adalah sebagai batu uji akan kebenaran suatu berita/ajaran dan menjadi pembeda antara yang haq dan yang batil. Dengan alat uji seperti diisyaratkan oleh prabu Jayabaya adalah “Kejujuran”.

    Lepaskan semua kebenaran yang berbalut ego. Marilah kita mencari kebenaran yang hakiki, walaupun bersifat relatif akan tetapi apabila bisa saling interkoneksi akhirnya akan ketemu kebenaran yang sesungguhnya.

    Gitchu mas kaleng krupuk, cheers…

  84. someone mengatakan:

    Ini saya kutip dari pernyataan mas kaleng krupuk

    “dalam keyakinan Islam, Nabi Musa yang membawa kitab Taurat, dan Nabi Isa yang membawa kitab Injil dan para nabi2 lain adalah sudah berhenti masa tugas mereka setelah kedatangan nabi Muhammad saw…nabi Isa as yang akan turun di akhir jaman sebagai ratu adil, pun akan melaksanakan syariat nabi Muhammad saw….demikian keyakinan aqidah umat Islam…”

    Tanda-tanda akhir zaman salah satunya adalah diangkatnya fitnah dajjal dan kesengsaraan akibat fitnah tersebut dan terbukanya maknawi Al’Quran sebagai batu ujian pemahaman agama umat2 terdahulu.

    Dengan terjadinya pelurusan pemahaman dengan menggunakan piranti mujarab ala joyoboyo yaitu “kejujuran” dan dikombinasikan dengan Qur’an dan Al’Hadits (asal tdk menyimpang dr Quran) maka semua akan menjadi terang benderang segala informasi yang ada.

    Makna bahwa (kalau) nabi Isa diturunkan pun adalah sebagai pertanda pemerkuatan keshahihan atau kebenaran berita Qur’an itu sendiri setelah ditelusur dan dikaji ulang dgn metode secara jujur apa adanya.

    Selama 1400 tahun Qur’an pun mengalami ujian dari berbagai macam paham aliran, pemaknaan ulang dan lain sebagainya, termasuk secara ghaib, dgn cara wirid, doa keselamatan, dsb-dsb. menunjukan kelebihan dan manfaat Qur’an dan menunjukan bahwa Qur’an merupakan berita langit….

    Bukan kah di salah satu ayat Quran juga menyatakan, “janganlah kamu mengatakan dirimu sebagai orang beriman sebelum Kami mengujinya”. Demikian pula hal ini dialami oleh Qur’an yang diturunkan oleh Kanjeng Nabi juga mengalami ujian bertubi-tubi selama 1400 th. Jadi pendek kata segala sesuatu untuk membedakan suatu kebenaran pasti membutuhkan suatu ujian.

    Jadi intinya ke depan apa-apa yang akan terjadi dan berbagai cerita baik itu tangis dan tawa adalah skenario dari Allah SWT untuk meluruskan sejarah ke depan.

    Sebelum manusia memasuki suatu era baru, dimana nurani akan lebih diutamakan, fitnah dajjal sudah diangkat (sudah terbuka semua) dan hubungan antara Khalik (Allah SWT) kepada umatnya lebih terasa dan diutamakan.

    Dan bisa jadi pada masa ini karena semua sudah terbuka (dipahamkan) maka, setiap kesalahan yang dilakukan oleh umat manusia akan langsung dibayar kontan …. blaar….. (sdh tidak ada dosa terampuni). Sudah tidak ada acara cari-cari alasan untuk mengkambinghitamkan sesuatu lagi. Apalagi dgn teknologi semua sudah saling terkait, interkoneksi dan terintegrasi….. (asik bukan)……

  85. kaleng kerupuk mengatakan:

    hehe,,,

    masalah kebenaran absolut dan kebenaran relatif kapan2 aja kita bongkar habis2an insyaAllah, tapi yang jelas tidak semudah seperti yang anda paparkan di atas…

    saya ga akan berpanjang kata, karena sudah banyak orang2 muslim yang berpolitik dalam hal agama, yang ujungnya akhirnya menjadi kerancuan bagi sebagian muslim…dan sudah banyak muslim awam yang rusak aqidahnya gara-gara masalah tersebut…..hehe…

    bagi muslim adalah sudah jelas dan tidak bisa ditawar lagi, bahwa dalam Islam, innaddinna indallahil islam, sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam….

    makna diutusnya rasulullah nabi Muhammad saw sebagai nabi terakhir adalah berakhitrnya risalah kenabian sebelum nabi Muhammad saw, baik nabi MUsa, nabi Isa, nabi zakariya, nabi daniel, nabi ilyas, nabi idris, nabi zulkifli, nabi zarustrusta, nabi wiyasa, nabi sidarta gautama, dan semua nabi2 ALlah sebelum nabi Muhammad saw baik yang diketahui sejarahnya atau yang belum diketahui sejarahnya….

    inilah makna syahadat bagi muslim….hehe…dan inilah makna pembenaran informasi sebagai definisi keimanan…

    dan ini tidak bisa dibeli dengan apapun, walau semua manusia di ujung bumi ini membawa seribu kerajaan mereka, membawa seribu wanita paling cantik,,,saya katakan no way, kalimat syahadat bagi muslim adalah kunci surga….

    hehe…..

    kalau belum puas, marilah kapan2 kita bahas masalah ini secara mendetail….hehe….

  86. someone mengatakan:

    Islam = berserah diri kepada-Nya…… memang paham bakal ada pergulatan besar disini….. mungkin ini sudah nash (takdir) dari-Nya….

  87. kaleng kerupuk mengatakan:

    hehe,,masalah pergulatan, sejak Nabi Muhammad saw menerima wahyu, dan diangkat sebagai rasul dan diperintahkan Allah untuk menyampaikan, sudah ada nuansa pergulatan sejak awal sampai akhir dakwah nabi saw…

    dan sejarah selalu berulang…..ga ada yang perlu diherankan dan ditakutkan,,,,,,

    dan suatu pergulatan tentu terjadi karena awalnya adalah perintah ALlah kepada nabi saw untuk menyampaikan risalahnya, bukan demikian?

    hehe…. memang seperti itulah risalah kenabian, kedatangan nabi untuk menjelaskan apa itu iman apa itu kafir….
    apa yang dilakukan nabi saw itu merupakan iniasiatif nabi saw sendiri…

    hehe,,,nabi saw pun tidak meminta menjadi rasul…tapi ALlah yang memilihnya…

    dan sepertinya saya sudah menyampaikan :

    Dīãgha Nikàāya 31: Sigàlaka Sutta 35. Mendengar kata-kata ini, Sigàlaka berkata kepada Sang Bhagavà: ‘Sungguh menakjubkan, Bhagavà, sungguh luar biasa! Bagaikan seseorang yang menegakkan apa yang terjatuh, atau menunjukkan jalan bagi ia yang tersesat, atau menyalakan pelita di dalam gelap, sehingga mereka yang memiliki mata dapat melihat apa yang ada di sana. Demikian pula Bhagavà Yang Terberkahi telah membabarkan Dhamma dalam berbagai cara. Sudilah Bhagavà menerimaku sejak hari ini sebagai seorang siswa-awam hingga akhir hidupku!’

    perhatikan kata2 sidarta gautama, insyaALlah ada kesamaan misi dengan nabi Muhamamad saw…

  88. someone mengatakan:

    benar… mas dan ini bukanlah suatu yang sederhana bukan…. (ngutip kata2 mas kaleng krupuk/siti nurhaliza…etc2)

  89. jlwansori mengatakan:

    Maturnuwon tulisan sejarahnya Serat Darmogandul. Kanjeng Sunan Kalijogo memang cerdik untuk menanam Islam di Pulau Jawa yg pada akhirnya Islam tumbuh subur di Pulau Jawa. Kanjeng Sunan Kalijogolah yang cerdik mangawinkan Islam di Tanah Jawa. Contoh orang islam berbusana Jawa. Mesjid berdesign ala Budha(Kudus), Selametan doa nya pakai Islam, bakar Menyan sebagai wangi2 an , betul2 Islam bisa pas subur di Tanah Jawa.
    Dari situ Kanjeng Sunan Kalijogo benar2 cerdik menempatkan Islam di Tanah Jawa. Terimakasih

    • Widji Midjil mengatakan:

      Salut dan hormat kita kepada Beliau Sunan Kalijogo…..Semoga doa dan amal beliau selalu hadir kepada kita dan bumi pertiwi ini….amin..amin

  90. sabdo palon mengatakan:

    darmogandul tuh karangan siapa pakde? dikarang tahun apa? kelihatannya sih itu hanya cerita doank, bukan berdasarkan fakta sejarah ?

  91. iwan sugriwan mengatakan:

    Assallamualaikum….Wrwb….Allahuakbhar..Subhanallah La illaha illallah……….berkah dan selamat smoga ada dalam Ridho Allah SWT…sebelum pasti akan berakhir kepastiaan adallah ketetapan Allah SWT maha berkendak penciptaan segala yang tercipta semesta alam melalui qalam.tulislah….dari awal hingga waktu yang telah ditetapkan…..Nabi MUHAMMAD SAW sebagai saksinya….ada hamba yang telah lama mengabdi menjadi laknat Allah SWT karena menolak perintah Allah SWT…….

  92. Ga Iso Turu mengatakan:

    eddycorret – Juli 6, 2010

    Ingat : SP tuh hidupnya kesandung kesampar. Bisa jadi SP berkali-kali jatuh pada lobang yang sama loh bahkan dari satu lobang ke lobang lain hingga dia hidup sendiri tiada yang mau menjadi teman dalam hidupnya trus pergi ke Lebak Cawene bersama Pemuda Berjanggut.

    terbukti

    • SP mengatakan:

      SP sering menjadi kambing hitam atas persoalan-persoalan hidupnya.
      Disaat ia sedang membersihkan diri, lalu dicap bodoh karena tak mau bersiasat seperti oranglain, menangkap dalil saat berdebat dsb.
      Sehingga tak ada yang mau berteman dengannya.
      Sejak itu SP tak mau berteman dengan orang bodoh karena menghambat kemajuannya.
      “cuma mendengar beberapa orang saja” – Jayabaya.

  93. SP mengatakan:

    Kelebihan SP cuma satu, ia manusia paling ganteng di dunia karena gabungan berbagai aspek. Bukan cuma wajah kotak persegi ala coverboy yang sudah pasaran. Bukan pula cuma mirip india saja atau mirip arab saja.
    Untuk menjalani laku prihatin pun ia agak sulit karena saat ia menjalaninya, di jalan banyak cewek tersenyum-senyum melihat padanya.

  94. guntur mengatakan:

    hah SP apaan tuh saking gobloknya enggak punya temen..

    “di jalan banyak cewek tersenyum-senyum melihat padanya.” lha SP-nya sinting sambil jalan telanjang bugil..

    hehe..

    hehe..

    hehe..

    • Ga Iso Turu mengatakan:

      SP memang menyukai setengah bugil. ttp hanya d rumah saja.krna suhu badan SP mmg panas. entah knp. mngkin itu jg trmasuk cara untuk mengetahui panasnya bumi beserta isinya. hehehe

      • eddyn mengatakan:

        ‘Misi Kristen dan Budaya Jawa”(Mereka ingin memisahkan ke-ISLAM-an dan ke-JAWA-an.

        Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara ke-ISLAM-an dan ke-INDONESIA-an.

        Baca CAP (Catatan Akhir Pekan) Adian Husaini ke-290

        Oleh: Dr. Adian Husaini*

        DISKUSI Sabtuan INSISTS, Sabtu, 24 Juli 2010 lalu membahas tema “Kristenisasasi dan Budaya Jawa”. Berbicara dalam acara itu adalah Susiyanto, peserta Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam diskusi, ia sekaligus meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa (2010).

        Dalam tulisan CAP ke-275 lalu, saat membahas tentang Perayaan Natal Bersama, kita sudah menyinggung tentang strategi budaya dalam penyebaran misi Kristen di Indonesia.

        Strategi budaya ini tampaknya digunakan untuk menggusur citra yang melekat pada bangsa Indonesia bahwa Kristen adalah agama penjajah.

        Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan. Salah satu contoh adalah upaya mereka untuk mencegah penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia.

        J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”

        Senada dengan ini, tokoh Yesuit Frans van Lith (m. 1926) menyatakan: “Dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. (Seperti dikutip oleh Karel A. Steenbrink, dalam bukunya, Orang-Orang Katolik di Indonesia).

        Banyak kosa kata Melayu yang diubah konsepnya dan diisi oleh kosa kata yang berasal dari Islamic basic vocabulary (kamus dasar Islam). Istilah-istilah baru seperti “ilmu, adil, adab, hikmah, rakyat, musyawarah, daulah, wujud, dan sebagainya dimasukkan menjadi kosa kata Melayu. Dengan itu, bisa dipahami, jika belajar bahasa Melayu menjadi identik dengan belajar Islam. Bahkan, hingga kini, istilah Melayu di Malaysia, identik dengan Islam. seorang disebut sebagai “Melayu” jika dia beragama Islam.

        Para pendakwah Islam juga berhasil melakukan proses akulturasi budaya Islam dengan budaya Jawa. Mayoritas orang Jawa kemudian memeluk agama Islam dan mereka sulit dipisahkan dengan keislaman. Karena itulah, tidak mudah mengubah agama orang Jawa menjadi Kristen. Sulitnya orang Jawa ditembus misi Kristen digambarkan oleh tokoh misi Katolik,

        Pater van den Elzen, dalam sebuah suratnya bertanggal 19 Desember 1863:

        “Orang Jawa menganggap diri mereka sebagai Muslim meskipun mereka tidak mempraktekkannya. Mereka tidak bertindak sebagai Muslim seperti dituntut oleh ajaran “Buku Suci” mereka. Saya tidak dapat mempercayai bahwa tidak ada satu pun orang Jawa menjadi Katolik semenjak didirikannya missi pada tahun 1808. Dulunya Jawa ini sedikit lebih maju daripada sekarang ini. Sejak tahun 1382, ketika Islam masuk, Jawa terus mengalami kemunduran. Saya dapat mengerti sekarang, mengapa Santo Fransiskus Xaverius tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa. Tentulah ia mendapat informasi yang amat akurat tentang penduduk di wilayah ini, termasuk Jawa. Dan Portugis yang telah berhasil menduduki beberapa tempat disini menganjurkan agar ia pergi ke Maluku, Jepang, dan Cina, karena tahu tak ada apa-apa yang bisa dibuat di Jawa. Akan tetapi, dalam pandanganku di pedalaman toh ada sesuatu yang dapat dilakukan.”

        Melihat fenomena itu, kaum misionaris Kristen kemudian membuat satu strategi budaya. Banyak misionaris menampilkan diri sebagai tokoh-tokoh budaya Jawa dan membuat berbagai upaya agar orang Jawa bisa berpandangan bahwa Kejawaan lebih identik dengan Kekristenan, ketimbang dengan Keislaman. Ringkasnya, orang Jawa lebih cocok menjadi Kristen ketimbang menjadi Islam. Sebab, Islam adalah agama Arab yang hanya cocok untuk orang Arab, bukan untuk orang Jawa. Sedangkan Kristen sudah mengalami proses akulturasi dengan budaya Jawa, sehingga lebih cocok untuk orang Jawa.

        Dalam kaitan inilah, buku Susiyanto tersebut membedah liku-liku kiat misionaris yang didukung oleh orientalis Belanda untuk menjauhkan orang Jawa dari Islam. Sebagai contoh, dibuat kesan pada anak didik di sekolah-sekolah melalui pelajaran sejarah, dengan cara mengangkat kebudayaan Hindu dan Budha sebagai warisan agung leluhur bangsa. Seolah-olah Indonesia besar dan jaya di masa Kerajaan Hindu dan Budha. Kedatangan Islam kemudian menghancurkan kejayaan Indonesia tersebut.

        Berbagai peninggalan fisik di masa Hindhu Budha – seperti candi-candi dan sejenisnya — diangkat sedemikian rupa, sehingga menggambarkan kejayaan Indonesia di masa lalu, di zaman pra-Islam. Candi diangkat sebagai simbol “kebesaran” bangsa Indonesia di masa lalu.

        Padahal, ungkap Susiyanto dalam diskusi tersebut, kebudayaan candi pada masa dibangunnya, sebenarnya tidak pernah menjadi bagian dari “jiwa” masyarakat Jawa.

        Candi-candi tersebut dibuat untuk mengokohkan kewibawaan kasta Brahmana dan Ksatriya. Sementara rakyat jelata, yang umumnya berasal dari kasta Sudra, seringkali dilibatkan dalam proses kerja paksa saat pembangunannya.

        Jadi proses pembangunan candi sebenarnya merupakan simbol ketertindasan kalangan rakyat jelata oleh kekuasaan yang berada di atasnya. Akan tetapi penderitaan rakyat yang bersifat demikian ini jarang ditampilkan dalam buku-buku sejarah maupun pewacanaan kebudayaan yang saat ini beredar.

        Susiyanto juga mengingatkan bahwa usaha-usaha membangkitkan kebudayaan lama sebagai warisan bangsa yang dianggap luhur ini di negeri-negeri Islam, memiliki kepentingan strategis yang lebih besar. Tujuannya tak lain untuk mendistorsi ajaran Islam dan melepaskan pengaruh Islam di masyarakat. Sebagai contoh seorang orientalis Barat bernama Ceyler T. Young mengakui hal tersebut sebagai berikut: “Di setiap negara yang kami masuki, kami gali tanahnya untuk membongkar peradaban-peradaban sebelum Islam. Tujuan kami bukanlah untuk mengembalikan umat Islam kepada akidah-akidah sebelum Islam tapi cukuplah bagi kami membuat mereka terombang-ambing antara memilih Islam atau peradaban-peradaban lama tersebut”.

        Usaha-usaha orientalis dan misionaris di era penjajahan, ternyata masih dilanjutkan pada era kini. Sejumlah buku yang hadir dari kalangan misionaris masih melanjutkan agenda untuk memarginalkan peran Islam.

        Bambang Noorsena misalnya, seorang tokoh Kristen Orthodoks Syria, dalam karyanya yang berjudul ”Menyongsong Sang Ratu Adil: Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” berusaha membuktikan bahwa Kristen merupakan ajaran agama yang secara teologis mampu berinteraksi dengan ajaran Kejawen. Bambang Noorsena juga berusaha membuktikan bahwa sejumlah karya sastra Jawa memiliki kecenderungan menerima Kristen dan anti terhadap Islam.

        Dalam kajian yang berlangsung di sekretariat INSISTS tersebut, Susiyanto telah membuktikan bahwa argumentasi yang digunakan oleh Bambang Noorsena untuk mempertahankan gagasannya adalah lemah dan tidak berdasar. Bambang Noorsena juga melakukan sejumlah manipulasi terhadap buku-buku yang digunakan sebagai referensi. Contoh yang jelas adalah manipulasinya terhadap karya B.M. Schuurman berjudul ”Pambijake Kekeraning Ngaurip”.

        Dalam buku tersebut, Schuurman menemukan, Serat Dewa Ruci tidak mengandung nilai-nilai Kristiani, karena tidak mengakui dosa asal. Sebaliknya, Bambang Noorsena memanipulasi karya Schuurman, dan menyimpulkan bahwa Serat Dewa Ruci bisa dipertemukan dengan nilai-nilai Kristen. Serat Dewa Ruci itu sendiri merupakan cerita populer di Jawa yang tidak jelas benar penulisnya. Ada yang menyebut, cerita itu ditulis oleh Sunan Kalijaga. Tetapi, tidak dapat dipastikan. Serat ini menceritakan pertemuan Bima dan Dewa Ruci di dasar Samudera yang bertubuh mungil, tetapi mampu dimasuki oleh tubuh Bima yang jauh lebih besar.

        Dalam kajian-kajian tentang sejumlah karya sastra Jawa, Bambang Noorsena mencoba memanipulasi karakter Nabi Isa yang berasal dari konsepsi Islam dengan mendistorsinya sebagai karakter Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen. Karya orientalis dan misionaris semisal Philip van Akkeren sering digunakan oleh Bambang Noorsena untuk menguatkan argumentasinya. Padahal, karya-karya itu sendiri sudah mengandung manipulasi.

        Contohnya adalah karya Philip van Akkeren yang berjudul “Sri and Christ: A Study of the Indigenous Church in East Java”. Dalam buku ini, van Akkeren berupaya mengkaji kisah Aji Saka dalam Serat Paramayoga karya R. Ng. Ranggawarsita. Hasilnya, Van Akkeren menyimpulkan bahwa Ranggawarsita, pujangga Jawa, memiliki “ketertarikan” terhadap agama Kristen. Alasannya, karya tersebut memuat cerita tentang Nabi Isa. Van Akkeren menyebutkan bahwa sebelum datang ke Jawa, Aji Saka telah masuk ke dalam agama Kristen di Yerusalem.(Akkeren, 1970: 46)

        Konklusi Philips van Akkeren ini kemudian diikuti oleh Bambang Noorsena yang sering menampilkan dirinya sebagai tokoh dialog lintas agama. Dalam bukunya, “Menyongsong Sang Ratu Adil : Perjumpaan Iman Kristen dan Kejawen” Bambang Noorsena menggambarkan Aji Saka telah mengalami persentuhan dengan iman Kristen dengan menyembah Tuhan yang Maha Esa melalui Nabi Isa. Selanjutnya Noorsena mengutip pendapat Philip van Akkeren bahwa: ”dalam kisah Ranggawarsita ternyata simpati besar disisihkan bagi Kristus”. (Noorsena, 2007:209-210)

        Sebenarnya, isi Paramayoga sendiri banyak mengambil inspirasi dari cerita pewayangan dan kisah para nabi mulai dari Adam hingga Muhammad. Awalnya, Aji Saka berguru kepada Dewa Wisnu di India. Setelah semua ilmu mampu diserap, Dewa Hindhu itu menasihati agar mencari kesejatian hidup dengan melanjutkan berguru kepada seorang imam yang lebih mumpuni bernama Ngusman Ngaji. Pada era itu diceritakan bahwa Nabi Isa sedang mengemban risalah di kalangan Bani Israil. Aji Saka meminta ijin kepada gurunya untuk menjadi sahabat (murid) Nabi Isa. Ngusman Ngaji tidak mengijinkan, sebab ia mengetahui takdir bahwa Aji Saka akan menjadi pengikut setia Nabi Muhammad dan menghuni Pulau Jawa.

        Statemen sang guru dalam Paramayoga diuraikan sebagai berikut:

        ”Hal ini tidak kuijinkan, sebab engkau kelak harus mengabdikan dirimu sepenuhnya kepada Tuhan, tetapi itu bukan pekerjaanmu. Takdir menghendaki engkau menempuh karir panjang. Telah ditentukan, engkau akan menghuni Pulau Jawa yang panjang, di tenggara India. Jangan lupakan nubuatan ini. Dikemudian hari akan ada nabi lain dari Allah, yang terakhir, yang tidak ada bandingannya, bernama Muhammad, utusan Allah, yang telah memberi cahaya bagi dunia dan dilahirkan di Makkah. Engkau akan menjadi sahabat dekatnya”.(Akkeren, 1970:46).

        Paramayoga memang menggambarkan bahwa tokoh Aji Saka yang ditakdirkan berumur panjang sempat bergaul dengan Nabi Isa.

        Namun sebagaimana pesan gurunya, bukan ”panggilan” melainkan sekedar mengisi ”kekosongan” dalam penantian yang panjang kedatangan Nabi Muhammad. Jika dicermati, kisah Nabi dalam Paramayoga yang dimulai sejak era Adam hingga Nabi Muhammad lebih menunjukkan bahwa karya ini berusaha menampilkan kisah yang berasal dari konsepsi Islam, termasuk kisah tentang Nabi Isa. Sama sekali tidak terdapat cerita bahwa Aji Saka menganut Agama Kristen atau terkait Kristus yang berasal dari konsepsi Kristen.

        Dengan demikian klaim, Van Akkeren dan Bambang Noorsena bahwa kisah Aji Saka merupakan titik perjumpaan antara Kristen dan Kejawen boleh dikatakan sekedar manipulasi belaka.

        Upaya lain yang tersohor untuk memisahkan antara Islam dan Jawa dilakukan melalui penerbitan Serat Darmogandul.

        Kitab yang hingga kini tak jelas penulisnya itu memiliki ciri yang kental dengan semangat anti-Islam, pro-Kristen, dan pro-penjajah Belanda.

        Sikap anti-Islam ditujukan misalnya, kitab Arab (Al Quran) harus ditinggalkan dan diganti Kitab Nabi Isa (Injil). Sedang sikap pro-Kristen terungkap dengan diangkatnya cerita Dawud-Absalom, Dawud-Uria, pohon pengetahuan, dan sejenisnya yang bersumber dari Perjanjian Lama serta mendukung misi Injil di Jawa.

        Dukungannya terhadap penjajah ditunjukkan dengan pujian bahwa Belanda yang beragama Kristen adalah penyembah Tuhan yang benar dan lurus pengetahuannya.

        Dalam bukunya, Susiyanto banyak memuat kutipan-kutipan isi Serat Darmagandul dalam bahasa aslinya (Jawa) yang menunjukkan bagaimana kitab ini seperti sengaja ditulis untuk menanamkan kebencian orang Jawa pada Islam dan para wali penyebar agama Islam di tanah Jawa.

        Isi kitab ini masih terus disebarkan ke tengah masyarakat Jawa, sampai sekarang. Koran Solo Pos, misalnya, menurunkan serial Darmagandul dalam sejumlah edisi penerbitannya. Serat ini juga banyak dijadikan rujukan dalam penulisan buku-buku sejarah nasional Indonesia.

        Ironisnya, banyak orang tua Muslim yang tidak peduli, bahwa anak-anaknya di sekolah sekarang sedang dicekoki cerita-cerita sejarah yang justru mengecilkan peran Islam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Inilah salah satu arti penting kehadiran buku Susiyanto ini: meluruskan sejarah Islam Indonesia yang selama ini banyak dimanipulasi oleh pihak lain. [Depok, Juli 2010/hidayatullah.com].

      • sang pemimpi mengatakan:

        kalau saya hobinya ga pakai celana dalam, apalagi kalau malam-malam :D

  95. Rejo Winangun mengatakan:

    Hmm… kesimpulannya apa ni?
    apa kalimat yg terakhir?

    Inilah salah satu arti penting kehadiran buku Susiyanto ini: meluruskan sejarah Islam Indonesia yang selama ini banyak dimanipulasi oleh pihak lain

    kalo ini kesimpulannya, saya kira anda salah masuk blog. tolong dibaca keseluruhan isi blog.
    Kelihatannya anda terlalu kaku mencermati suasana. bs jd anda bertemen dari satu golongan saja.

    boleh saja anda berkomentar. silahkan. tetapi tolong sdkit di pahami batasan mana yg harus di ambil spy tulisan anda jgn sampai menjadi persoalan d kemudian hari.

    blog ini terdiri dari banyak agama dan golongan. sifatnya universal. orang bule jg boleh nulis d sini.

    smoga tulisan saya bs menjadi pencerahan kepada saudara Eddyn.
    Mohon maaf kalo ada kalimat saya yg kurang berkenan
    Suwun

  96. yurtdışı eğitim mengatakan:

    Thanks buddy labor health

  97. Seo mengatakan:

    Thanks buddy labor healthhhhh

  98. Rejo Winangun mengatakan:

    Ur Welcome

  99. avustralya mengatakan:

    Thank you so worked this information you gave to my friend

  100. Den Citrodiwangsan mengatakan:

    Tread menarik…sy baca habis dari mulai yg thn 2008

    Dari kacamata sy, serat darmogandul merupakan noktah hitam dunia filsafat di jawa pd zamannya.

    Secara substansial, Penulis – terlepas dari motivasi – tampaknya terpapar oleh pusar badai bertemunya berbagai arus pandangan keagamaan dan filsafat saat itu, hindu-budha, islam dan pendatang yg baru dikenalnya kristen dikancah alam kejawen yg kental.

    Suasana kebatinannya – barangkali – setelah masa hindu-budha yang mulai menyusut dan mulai banyak orang di kalangan dia yang masuk dan mendalami islam dan ketika “dia” sedang menata pemahamannya atas situasi tsb, datang lagi ke khasanah alam pikirnya tentang kristen…mupeng dia

    Dengan dituntun rujukan serat khadiri, dia mulai menulis dan mengembara ke alam khayali (entah oleh nalarnya sendiri atau dengan medium demit/jin)…dituangkan dalam tulisan…jadilah serat darmogandul…IMHO

    *Dari kisah2 yg berkembang, dipercaya Prabu Joyoboyo dikawal oleh 2 mahluk ghaib (dedemit)yang setia yang menjaga keamanan dan kewibawaan kerajaan Daha…mirip sekali dengan tokoh Sabdo Palon dan Noyo Genggong

    **Lha wong omongan bangsa lelembut (demit) seperti Sapdo Palon dalam serat darmogandul itu (yg umurnya masih relatif “muda”) apa ya perlu dipercaya, maaf…hehehe

  101. Pengamat SP mengatakan:

    Memang ada diajarkan oleh Sang Buddha, bahwa janganlah mempercayai sesuatu cuma karena itu tulisan jaman dulu, karena itulah kita tak bisa begitu saja mempercayai alquran, tipitaka, injil, dharmo gandhul, dll.
    Kita harus menggunakan observasi tak memihak dengan alat-alat indra yang kita miliki.

    Pak Tri Budi Dharma SP sejati bukan orang yang percaya ramalan begitu saja, tapi karena semua menggunakan acuan itu, maka Pak Tri menggunakan standar yang sama. Bedanya cuma Pak Tri tak mengarah-arahkan agar ramalan itu terlihat sesuai mau seorang buddhist.
    Pak Tri juga tak seperti paranormal muslim yang melihat ke pikiran jayabaya saat ia berkata begitu. Pak Tri menggunakan kehebatannya sendiri, apakah itu, untuk apa disombongkan.
    Saya sedikit paranormal juga sama seperti Pak Tri, tapi jangan semua ucapan saya diteliti, karena tak ada mengandung pesan-pesan tertentu. Gaya pasukan lentera hitam semua sama seperti Pak Tri, yaitu menulis dimana kenyataan natural dan supernatural berpadu. tak perlu dipisah-pisahkan karena itu membuat cepat tua.

  102. Pengamat SP mengatakan:

    Banyak orang kok adat lama dipakai lagi.
    misalnya guntur itu, mana mungkin ia akan dipakai Pak Tri. Gaya mengasuh anak-anak muda itu untuk jaman dulu. ya, jaman dulu.
    sekarang gak perlu kami. kami lebih pintar dari guntur.
    Pak tri mungkin akan datang ke madiun besok. kami harap guntur tidak ge-er dan mengira kami mencari dia atau mau datang ke tempatnya.
    Pak Tri cuma mau jalan-jalan saja.
    kami bukan mencari guntur. kalo ketemu di jalan itu bukan salah kami.

  103. Pengamat SP mengatakan:

    Saya pamit sekarang, teman-temanku.
    Tak lupa saya menyampaikan pesan terakhir dari Pak Tri melalui selular, “orang jawa selembek tahu”.

    Ya, itulah yang dikatakan Pak Tri. “orang jawa selembek tahu”.

  104. dhony mengatakan:

    oya. arab-arab2an, hehehe
    tunjukin saja, gpp kok, saya mau liat gimana mukanya cewek india yang mengaku arab, dengan pretty sinta cantikan siapa??

  105. Bejo Banget mengatakan:

    Nah ini bedanya.
    SP tdk ada yg tahu siapa sejatinya SP itu

    • Widji midjil mengatakan:

      Selamat malam Mas Bejo…bagaimana kabarnya??…

      • Bejo Banget mengatakan:

        malam kang
        hehe gi ngadat nih. jd baru skarang bs muncul.
        Gmn kabar kang. banyak yg ga masuk akal muncul ya. yahh gpp. idep idep lg sepi info. waton muni. Ojo dumeh. bener ga kang.
        termasuk seng muni paling bener iku mau.
        lanjuuttt…

        • Widji midjil mengatakan:

          iya…saya nyimak saja…baru sampai dari banjar sore tadi….kabar saya lagi pusing mikiri pekerjaan untuk anak anak….

  106. Pengamat SP mengatakan:

    Anak indra ada beberapa. sp adalah yang paling sulung.
    “putra dewa indra yang paling sulung”.

    Jadi, di antara beberapa pemuda sekarang semua diakui pengikutnya sebagai anak indra. siapa yang paling sulung dialah sp. tapi gak cukup itu, dia juga harus kelahiran mekkah. kenapa demikian, karena biar adil semua isi ramalan harus diambil, jangan cuma sepatah saja karena cuma sepatah yang cocok.

    • Pengamat SP mengatakan:

      yang paling sulung itu dilihat dari tanggal kelahirannya di KTP.

      • Pengamat SP mengatakan:

        ingat, biar adil, semua ramalan harus diambil. yaitu mulutnya harus sama dengan mulut eyang sabdo palon.
        kalo sabdo palon bicara, “silakan sang prabu, kami ganti jadi agama buddhi lagi”
        maka pemuda itu pun harus bicara hal yang sama.

        “permisi sang prabu, saya mau mencari anak bermata satu” – sabdo palon.
        “itulah asuhannya sabdo palon” – jayabaya.

        sekarang lihat,
        jika sabdo palon bicara “kami ganti lagi jadi agama buddhi” lalu pemudanya bicara “islam itu kan baik, sekarang yang penting harus kaffah” berarti itu sp jadi-jadian.

  107. Pengamat SP mengatakan:

    sama juga halnya dengan pemuda yang bicara soal jangan beragama, pemuda yang menyelenggerakan sarasehan antara agama juga sp jadi-jadian.

    “saya sebar agama buddhi, yang tak mau menerima saya jadikan makanan genederuwo” jadi sabdo palon bukannya bertoleransi dengan agama lain, tapi memang mau membantai.

    • Pengamat SP mengatakan:

      sama saja, baik agama buddhi ataupun cuma budipekerti.
      sayangnya ada kalimat “silakan sekarang islam, besok kami ganti agama buddhi”. berarti meski artinya cuma budipekerti tetap saja untuk menggantikan islam.

      • Pengamat SP mengatakan:

        Selain itu, meski seorang pemuda bicara dia anak indra, belum tentu dia anak indra.
        anak indra ada ciri-cirinya, yaitu:
        1. Mukanya putih bercahaya, jika dilihat lama selalu mukanya ditutupi cahaya putih, contohnya jika anda mentrawang pak tri budi lebih dari 5 menit.
        2. Suaranya bagaikan guntur tapi juga lembut seperti burung karavika. Jadi ia bikin takut orang jahat dan bikin senang orang baik.
        kalo bicaranya biasa-biasa saja bukan anak indra.
        3. Postur tubuh tipe pemuda permata. yaitu struktur bahu tak akan membentuk sayap, meskipun hendak dibentuk dengan bodybuilding.
        selain itu bentuk wajah tidak bulat juga tidak kotak dan tidak juga oval, melainkan gagah.

  108. Pengamat SP mengatakan:

    Mulai hari-hari mendatang ini SP semakin kuat saja, auranya semakin gagah dan berwibawa, ia semakin percaya diri. Karena semua makhluk halus semakin merapat dan ramai.

  109. Pengamat SP mengatakan:

    Saya off dulu.

  110. dhony mengatakan:

    http://www.metrotvnews.com/index.php/metromain/newsvideo/2010/12/10/118534/Ribuan-Warga-Sandera-Polisi-dan-Camat

    wihhhhhhhhhhh..
    kerennnnnnnn, nh ini yng saya suka, kalau polisinya bejat buat pa takut, tar saya kirim nenergi penghancur di mabes polri, hehehe

    kalau ada orang yang mengaku syeh ulama dan apalah namanya, membantu dan ketauan, setelah saya muncul, sy penggal kepalanya, untuk diberikan ke anjing,

    saya hanya memihak kebenaran, saya tidak memihak agama, kalau ada anak buah dajjal yang mengaku syekh, harus mati ditanganku dengan sangat terhina,

  111. dhony mengatakan:

    kenapa saya muak liat polisi, krena dia suka memeras rakyat, berani melawan kalau berseragam dan rame2. kalau sendirian takut.
    suka mengentot anak orang, trus kalau sudah hamil ditinggal, dan komandannya membela nak buahnya, dasar polisi memng binatang

    aku akan hancurkan mental polisi sampe nol, karena untuk melihat anak buah dajjal berkedok ulama(karena anak buah dajjal kan biasanya membela kebejatan),saya akn perang dengan ustadz/ulama yang suak ngentot seperti zainudin mz yang menjelek2 kan agama islam, tenang aja para ulama/ustadz,
    salam perang buat semua para ustadz/ulama bejat bin keparat,

    ayo kalain rame bunuh saya, atau kelak saya ayng akan emmbunuh kalian,

  112. cakra mengatakan:

    heh gembel, kalau nulis jgn emosi.. hurufnya jadi kebalik-balik tuh !!!

    memang belum makan apa belum coli sih ?? hehehehe

    kalau gak punya uang bilang aja sekalian cantumin no rekening elo biar ditransferin..gw sih mau ngasih amal buat orang fakir kayak elo.. hehe…

    • dhony mengatakan:

      huahahaha.
      jangan kasian sama saya, saya paling anti dikasiani, apalagi loeh seorang lonte murahan,

      UANGNYA KELEWAT HAROM!!

      HAHHAHA

  113. cakra mengatakan:

    don, denger2 ibu kamu waktu muda lonte ya ?? trus bapak kamu langganannya ya ??? ngeri juga ya ..

  114. dhony mengatakan:

    ah masa ibu aq lonte??
    bukanyo kamu sendiri pernah bilang kalau kamu keluarga perek ,masih inget ga??trus di ulang2 ngomongnya,
    kalau ga salah make nama hinata hyuga
    hahahha

    saya kasih tau yah, cek lont,
    saya tidak punya kelemahan, karena allah sudah menguji saya, dengan ujian pilihan , allah apa ibu saya,

    walau berat dan sulit allah tetap pilihanku,

    karena allah mengatakan, ibumu hanya ciptaanku sama sepertimu, dan dia hanyalah ibumu di dunia, sendangkan AKU adalah tuhanmu di dunia dan akherat,

    jadi cek lont, aq sekarang sudah tak perduli, jika kamu menghina keluargaku, karena aku akan membalas kata kata kamu cek lont,
    hhehe, cek lont cek lont,

    murah banget nonok kamu ya, kalau natal diskon 200% yah?? pake sejam gratis 2 jam. hahaha
    trus senter klas boleh donk maen sama kamu,??

    trus kalau si senter klas udah puas, rusa2nya juga kamu pake, hahahha
    . dasar lonte murahan, tak ada manusia hewan pun jadi,
    tak ada kontol, dildo/timun/terong pun jadi..

    hahah..
    kalau main sama rusanya si senterklas nanti tanduknya jangan dimasukin ke nonok kamu ya, tar tanduknya jadi bau, hahahhaha

  115. rikma_wulung mengatakan:

    sapa sing dishiki ala muga asor yudhane, ajining diri saka lathi ajining raga saka busana

  116. Do you have a nice site but the Turkish language support, thanks, man?

  117. dylan mengatakan:

    Subhanalloh.. Walhamdulillah.. Semoga kita semua senantiasa dalam bimbingan-NYA.. Amein!

  118. kresnayana mengatakan:

    nuwon sewu ini copasan dari blog sebelah
    secara aklamasi oleh dunia. Kehidupan di Jawa telah
    dimulai jauh sebelum kedatangan Hindhu.[1] Jawa
    dalam kemandirian peradabannya merupakan sebuah
    manifestasi sistem yang sukar ditundukkan oleh
    pengaruh yang berasal dari luar. Hindhu sendiri misalnya, tidak sepenuhnya agama yang berasal dari India tersebut mampu mengubah ‘sifat bangsa ’ Jawa yang egaliter. Sistem Kasta[2] dalam Hindhu tidak
    sepenuhnya merasuk dalam pemikiran Jawa. Bahkan
    sistem Kasta tersebut terdekonstruksi oleh pola pikir
    jawa dan mengalami proses jawanisasi.[3] Maka
    kemudian terbentuklah ajaran agama Hindhu menjadi
    ‘Hindhu kejawen ’. Di Jawa juga terdapat sejumlah aliran kebatinan yang tumbuh dan berkembang. Di antara banyak aliran
    kebatinan tersebut, secara garis besar dapat
    disimpulkan bahwa pemikiran Jawa banyak dipengaruhi
    oleh beberapa kitab antara lain Darmagandul, Gatoloco,
    Hidayat Jati, dan Serat Centhini. Dalam hal ini penulis akan coba untuk membahas buku darmagandul
    sebab tulisan tersebut menceritakan tentang ketidakpuasan
    para pendukung Majapahit melihat hancurnya kerajaan
    Hindhu tersebut dan digantikan oleh kerajaan Islam.
    Perlu diketahui bahwa buku Darmagandul menyatakan
    bahwa seolah-olah rakyat Jawa pada masa itu, termasuk kerajaan majapahit dan para penguasanya,
    adalah penganut agama Budha. Tentu saja keterangan ini berbeda dengan versi sejarah yang kita ketahui yang
    menyebutkan bahwa Majapahit adalah kerajaan Hindhu. Buku Darmagandul merupakan tulisan yang
    sebagian
    besar mengisahkan tentang keruntuhan kerajaan
    Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak. Dalam
    versi Darmagandul Majapahit runtuh akibat serangan dari Adipati Demak yang bernama Raden Patah.
    Sebenarnya Raden Patah masih merupakan putra Prabu Brawijaya, raja Majapahit terakhir, dengan
    seorang putri
    dari China. Namun, menurut buku Darmagandul, para
    ulama yang dipimpin sunan Giri dan Sunan Benang
    (Bonang) yang tergabung dalam majlis dakwah wali sanga, memprovokasi Raden Patah agar merebut tahta
    kerajaan dari ayahnya yang masih kafir, karena memeluk agama Budha. Bujukan para wali berhasil,
    sehingga pada akhirnya Majapahit dapat dibumi
    hanguskan dan Prabu Brawijaya berhasil meloloskan
    diri. Buku darmagandul juga mengupas tentang ‘budi buruk’ para ulama yang oleh Prabu Brawijaya diberi kebebasan untuk berdakwah diwilayah Majapahit,
    namun pada saat Islam telah menjadi besar mereka
    berbalik melawan Majapahit dan melupakan budi baik
    sang raja Brawijaya. Hal ini ditunjukkan dengan ekspresi
    penulis Darmagandul ketika mengartikan wali adalah
    walikan (kebalikan). Artinya diberi kebaikan namun membalas dengan keburukan.[4]  Penulis menggunakan buku Darmagandul terbitan Toko
    Buku “Sadu-Budi” Solo. Buku tersebut merupakan cetakan keempat dengan angka tahun 1959 yang
    ditampilkan dalam bentuk gancaran dengan Bahasa
    Jawa Ngoko.[5] Buku tersebut ditulis berdasarkan kitab
    induk yang dimiliki oleh K.R.T. Tandanagara. Buku
    Darmagandul tersebut diberi keterangan sebagai buku
    yang mengisahkan tentang cerita runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak yang dimulai sejak
    orang Jawa meninggalkan agama Budha dan beralih
    menganut agama Islam. PERMASALAHAN Secara umum buku Darmagandul tidak memberikan
    penjelasan tentang identitas instrinsik berupa nama
    penulis (anoname) dan masa kepenulisan. Selain itu
    buku tersebut menampilkan diri sebagai salah satu tulisan yang menampilkan cerita sejarah. Sebagaiman
    telah menjadi pandangan umum, sejarah adalah fakta tunggal yang bisa ditafsirkan berdasarkan motif
    dan
    rasionalisasi tertentu. Padahal kajian sejarah
    membutuhkan kepastian sumber sejarah atau
    setidaknya sebuah bentuk otoritas tertentu. Maka penulis akan mencoba mengkaji buku Darmagandul
    tersebut berdasarkan batu uji sebagai berikut: Siapa penulis buku Darmagandul dan kapan masa
    penulisannya ? Bagaimana kisah runtuhnya kerajaan majapahit dan
    Berdirinya Demak ? Apa dan bagaimana intisari ajaran serat Darma gandul ? MEMAHAMI IDENTITAS
    PENULIS DARMOGANDUL Kitab Darmagandul (sering ditulis dengan Darmo Gandul
    atau Darma Gandhul atau Darmo Gandhul) merupakan sebuah buku kontroversial yang berusaha memojokkan
    agama Islam dan mengembalikan suku Jawa kepada
    kepercayaan nenek moyangnya yaitu agama Budha.
    Isinya secara dominan mengisahkan tentang kehancuran dan keruntuhan majapahit akibat serangan
    Demak dan Politik ‘kotor ’ para wali. Sedangkan isinya yang lain merupakan bentuk pengajaran beberapa falsafah dan pemikiran ‘ilmu kehidupan ’ dari seorang guru bernama Kyai Kalamwadi[6] dengan
    muridnya yang bernama Darmagandul. Identitas pengarang Serat Darmagandul tidak jelas.
    Demikian juga latar belakang dan masa penulisannya.
    Sebagian besar kalangan meyakini bahwa Serat
    Darmagandul ditulis pada masa peralihan antara
    runtuhnya Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak. Jika asumsi ini benar, maka latar belakang penulisan Serat Darmagandul bisa ditebak yaitu kegundahan
    hati
    penulis Serat melihat banyaknya rakyat Majapahit yang
    memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Budha
    secara masal. Namun jika asumsi tersebut salah maka
    identitas penulis Darmagandul tetap bisa diidentifikasi sebagai oknum yang menderita islamophobia dan sekaligus menunjukkan kebencian terhadap
    eksistensi
    Islam. Secara umum buku Darmagandul banyak memiliki
    kesalahan data dalam mengungkapkan fakta sejarah.
    Oleh karena itu sulit dipastikan bahwa buku tersebut
    benar-benar ditulis pada masa peralihan antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak. Bukti lebih
    kuat justru menekankan bahwa buku tersebut di tulis di era belakangan pasca penjajahan bangsa
    Eropa di Bumi
    Nusantara. Oleh karena itu cerita sejarah dalam serat
    tersebut boleh diabaikan dari kedudukannya sebagai
    sebuah fakta. Misalnya diceritakan bahwa dalam sebuah peperangan, tentara Demak yang terdiri dari orang-orang Giri
    mengalami kekalahan kerana tidak mampu menghadapi
    tentara Majapahit yang menggunakan bedhil (senapan)
    dan mimis (peluru). Hal tersebut diungkapkan sebagai
    berikut : … wadya Majapahit ambedili, dene wadya Giri pada pating jengkelang ora kelar nadhahi tibaning mimis, … [7] Dari kalimat di atas, sulit dipahami bahwa tentara Majapahit telah mengenal senjata api berupa senapan.
    Sedangkan fakta sejarahnya, senapan dengan istilah
    bedil, baru dikenal oleh orang Jawa pasca kedatangan
    bangsa Eropa di bumi Nusantara. Maka jelas bahwa buku
    Darmagandul baru ditulis pasca kedatangan bangsa Eropa dan bukan pada masa peralihan antara
    kejatuhan Majapahit dan berdirinya kerajaan Demak sebagaimana
    diyakini sebagian kalangan. Selain itu buku ini juga telah menceritakan tentang
    hubungan antara para auliya ’ dari berbagai negeri dengan pohon pengetahuan dalam bentuk perbandingan. Hal tersebut dinyatakan sebagai berikut : “ Sastra warna-warna paringane Kang Maha Kawasa, iku wajib dipangan, supaya sugih pangreten lan
    kaelingan, mung wong kang ora ngerti sastra paring
    Gusti Allah, mesti ora ngerti marang wangsit. Auliya ’ Gong Cu kumentus niru sastra tulisan paring Gusti Allah,
    nanging panggawene ora bisa, sastrane unine kurang,
    dadi pelon, para auliya panggawene sastra dipatoki
    cacahe, mung aksara Cina kang akeh banget cacahe,
    nanging unine pelo, amarga Auliya kang nganggit
    kesusu mangan woh kawruh, ing mangka iya kudu mangan woh wit Budi, Auliya mau lali yen tinitah dadi
    manusa, ewadene meksa nganggo kuwasane Kang Maha
    Kuwasa, anggayuh kang dudu wajibe, kesusu tanpa
    panglulu nganggit aksara kang tanpa etungan cacahe,
    jenenge sastra godhong, godhonge wit budhi lan wit
    kawruh, dipethik saka satitik, ditata dikumpulake, banjur dianggit kanggo sastra, mulane aksarane nganti
    ewon, Auliya China kesiku, amarga arep gawe sastra
    urip kaya yasane Gusti Allah. Auliya Jawa enggone
    mangan woh Budi nganti wareg, mula enggone
    nganggit aksara sanadyan ora pati akeh cacahe,
    nanging wis bisa nyukupi, sarta unine ora pelo. Auliya Walanda enggone mangan woh wit kawruh uga ngati
    wareg, dene enggone nganggit aksara iya dipathoki
    cacahe. Auliya Arab enggone mangan woh wit Kuldi
    akeh banget. Dene enggone nganggit aksara iya
    dipathoki cacahe. Nanging yen sastra yasane Gusti Allah
    dadine saka sabda, wujude dadi dewe, mulane unine iya cetha, satrane ora ana kang padha. ”[8] Perbandingan dalam kategori sastra dan jumlah aksara
    antar bangsa kemudian digunakan untuk menetukan
    harkat dan martabat serta ‘ketinggian ’ pengetahuan dan budi, jelas merupakan ide yang ahistoris. Aksara
    Jawa dalam kenyataan yang sebenarnya tidak cukup
    baik untuk menuliskan semua huruf yang bisa dilafalkan
    melalui suara. Sebagai contoh, dalam kaidah penulisan
    huruf Jawa terdapat konsep aksara swara dan aksara
    rekan. Aksara swara adalah huruf yang digunakan untuk menuliskan huruf vokal di awal kata yang digunakan
    pada kata-kata yang berasal dari manca, seperti pada
    kata Allah, Eropah, Umar, dan lain sebagainya.
    Sedangkan aksara rekan adalah huruf-huruf yang
    digunakan untuk menuliskan pelafalan huruf manca
    yang tidak terdapat dalam aksara Jawa,[9] seperti za, fa, gha, kha, dan dza. Selain itu kata ‘Auliya Walanda ’ menunjukkan bahwa Serat Darma Gandul ditulis pada masa atau pasca penjajahan Bangsa Belanda. Kata Walanda yang berarti
    Belanda (sebutan untuk Netherland dari bangsa
    Indonesia) tidak mungkin dikenal pada masa peralihan
    antara Majapahit dan Demak. Maka teori masa penulisan
    yang menyebutkan, antara keruntuhan Majapahit dan berdirinya Demak, dengan demikian jelas
    terbantahkan. Buku Darmagandul seringkali menggunakan frase wit kawruh yang bermakna pohon pengetahuan. Idiom
    ‘pohon pengetahuan’ bukanlah kata-kata yang wajar dalam nalar Jawa. Falsafah Jawa lebih sering menampilkan kata-kata seperti banyu bening (air
    bening), banyu penguripan (air penghidupan), cahya,
    sunar, pepadhang, dan berbagai frase yang melibatkan
    air atau identik dengan cahaya, bukannya pohon
    semacam pohon pengetahuan. Penggunaaan kata pohon (wit atau taru) secara simbolis, dalam
    pemikiran Jawa, umumnya digunakan untuk menggambarkan
    kebijaksanaan, pengayoman, dan beberapa hal yang
    identik dengan kewibawaan penguasa. Jika dirunut
    kepada ajaran Budha sekalipun tidak akan dapat
    ditemukan ajaran yang identik dengan pohon pengetahuan. Pohon Bodhi, dalam ajaran Budha, yang
    dianggap sebagai pohon dimana Sidharta Gautama menerima ilham di bawahnya, secara harfiah lebih
    mudah dimaknai sebagai pohon penerangan agung atau
    kesadaran yang sempurna[10] atau ilham[11] atau
    pencerahan dan bukannya pengetahuan. Lantas dari mana ide tentang pohon pengetahuan tersebut
    bersumber ? Dari penggalan di bawah ini, ide tentang
    pohon pengetahuan akan dapat dilacak. “ Darmogandul matur, nyuwun diterangake bab enggone Nabi Adam lan Babu Kawa pada kesiku dening
    Pangeran, sabab saka enggone padha dhahar wohe
    kayu kawruh kang ditandur ana satengahing taman
    firdaus. Ana maneh kitab kang nerangake kang didhahar
    Nabi Adan lan Babu Kawa iku woh Kuldi, kang ditandur
    ana ing swarga. Mula nyuwun diterangake, yen ing kitab Jawa diceritaake kepriye, kang nyebutake kok
    mung kitab Arab lan kitabe wong Srani ”.[12] Ide tentang Pohon Pengetahuan dalam Serat Darmagandul, tidak bisa diingkari, dapat dilacak ke
    dalam pemikiran kekristenan. Hal ini dapat ditinjau
    dalam Kitab Perjanjian Lama dalam Kejadian 2 : 16-17
    sebagai berikut : Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia:
    “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas,[13] tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang
    jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari
    engkau memakannya, pastilah engkau mati. ”[14] Ide pohon pengetahuan dalam dalam Kitab Perjanjian
    Lama tersebut seolah-olah ditolak dengan kalimat
    dalam Darmogandul sebagai berikut : … Yen Kitab Jawa ora nyebutake mangkana[15] (maksudnya kisah Pohon
    pengetahuan atau Pohon Kuldi) ”. Akan tetapi ide-ide tentang pohon pengetahuan dalam Perjanjian Lama
    tersebut dalam berbagai tempat justru diakomodasi
    oleh serat Darma Gandul. Pada saat yang bersamaan
    terjadi miskonsepsi dalam buku Darmogandul tentang
    penilaiannya terhadap “Pohon Kuldi ” dalam pandangan Islam. Pohon Kuldi (syajaratul khuldi) yang bermakna pohon kekekalan pada hakikatnya adalah
    upaya pendefinisian yang dilakukan oleh Iblis terhadap
    pohon yang tumbuh di jannah dimana Allah melarang
    Adam untuk mendekatinya. Dengan demikian nama
    pohon Kuldi dalam pandangan Islam bukan merupakan propername haqiqi yang dikenal dalam konsep
    Islam, namun secara substansial maupun aksi merupakan
    bentuk kekejian dan pengelabuhan Iblis terhadap Adam.
    [16] Dalam beberapa tempat, penulis Darmogandul
    nampaknya lebih menguasai doktrin kekristenan
    dibandingkan ajaran Islam dan Budha,[17] dalam hal ini
    yang coba dibelanya. Bahkan penulis Darmogandul memiliki itikad untuk menampilkan bahwa agama
    Nashrani lebih memiliki keunggulan dibandingkan agama-agama lainnya. Motif ini dapat ditelisik
    dimana,
    agama lain dalam hal ini Islam, senantiasa ditempatkan
    dalam image negatif. Sementara nashrani ditempatkan
    secara positif dalam gambaran sebagai berikut : “… Kang diarani agama Srani iku tegese sranane ngabekti, temen-temen ngabekti mrang Pangeran, ora
    naganggo nembah brahala, mung nembah marang
    Allah, mula sebutane Gusti Kanjeng Nabi Isa iku Putrane
    Allah, awit Allah kang mujudake, mangkana kang
    kasebut ing kitab Ambiya. ”[18] Dalam buku Darmagandul juga terdapat cerita tentang salah satu putra Nabi Dawud yang bernafsu untuk
    menggantikan kekuasaan ayahnya. Sang anak lantas
    melakukan kudeta (coup d ’etat). Namun Nabi Dawud berhasil merebut kembali tahtanya dan sang anak
    kemudian melrikan diri dan tewas dengan kepala
    tersangkut di pohon saat menunggang kuda. Cerita
    tersebut dijabarkan sebagai berikut : “…carita tanah Mesir, panjenengane Kanjeng Nabi Dawud, putrane anggege keprabone rama, Nabi dawud
    nganti kengser saka nagara, putrane banjur sumilih
    jumeneng nata, ora lawas Nabi Dawud saged wangsul
    ngrebut negarane. Putrane nunggang jaran mlayu
    menyang alas, jaranae ambandang kecantol-cantol
    kayu, putrane Nabi Dawud sirahe kecantol kayu, ngati potol gumantung ana ing kayu, iya iku kang di arani
    kukuming Allah. ”[19] Cerita tentang kisah putra Dawud yang durhaka sebagaimana cerita di atas sudah tentu tidak akan
    dijumpai dalam sumber-sumber Islam, baik Al Quran,
    hadits, maupun kitab klasik lainnya. Sebab cerita
    tersebut bersumber langsung dari kitab umat Nashrani
    yaitu Perjanjian Lama dalam kitab 2 Samuel pasal 15 sampai 18. Secara ringkas cerita dalam kitab 2
    Samuel tersebut adalah Absalom, putra Raja Dawud, berniat
    menarik simpati rakyat dengan menangani perkara
    pengadilan di kerajaan ayahnya.[20] Hakikatnya,
    Absalom sedang mempersiapkan diri dan menghimpun
    kekuatan ntuk memberontak kepada sang Ayah. Maka sejumlah persepakatan gelap dibuat sehingga
    banyak rakyat memihak Absalom.[21] Mengetahui posisi
    politiknya kurang menguntungkan, maka Dawud
    kemudian meloloskan diri beserta pegawai dan
    keluarganya yang lain.[22] Pada giliran selanjutnya
    Dawud dapat memukul mundur tentara Absalom.[23] Absalom yang mengendarai bagal (binatang
    keturunan kuda dan keledai) berlari. Ketika melewati jalinan dahan
    pohon Tarbantin yang besar, kepala Absalom
    tersangkut, sedangkan bagal yang dikendarainya terus
    berlari.[24] Dengan demikian kisah dalam serat
    Darmagandul pada dasarnya merujuk langsung ke dalam Perjanjian Lama, kitab yang diakui oleh umat
    Kristen dan Yahudi sebagai kitab suci. Berdasarkan kajian yang telah dilakukan di atas maka identitas penulis dan masa penulisan buku Darmagandul
    dapat disimpulkan point-point sebagai berikut : Penulisan buku Darmagandul dilakukan pada masa
    penjajahan Belanda atau bahkan ada kemungkinan jauh
    setelahnya, mengingat telah ada bentuk pemahaman
    yang mendalam terhadap kitab Perjanjian Lama. Dengan
    asumsi bahwa penulis kitab Darmagandul merupakan orang Jawa, maka pada masa penulisannya seharusnya sudah ada terjemahan Bible dalam Bahasa Jawa
    atau
    bahasa lain yang mungkin dapat dipahami. Dengan
    demikian anggapan bahwa buku tersebut ditulis pada
    masa transisi antara keruntuhan majapahit dan
    berdirinya kerajaan Demak dengan sendirinya terbantahkan. Identitas penulis buku Darmagandul adalah orang
    Kristen atau setidaknya pernah mempelajari
    kekristenan. Jika bukan keduanya maka setidaknya
    penulis buku tersebut adalah penghayat sinkretisme
    agama atau bahkan seorang ‘perenialis pilih kasih ” sebab menganggap semua agama sama baiknya, kecuali
    Islam. Namun demikian identitas penulis Darmagandul
    sebagai seorang yang terjangkiti Islamophobia sukar
    dibantah. Penulis buku Darmagandul bukan penganut agama
    Budha. Sebab telah gagal menjelaskan beberapa doktrin
    mendasar dalam ajaran Budha. Salah satu contohnya penulis buku Darmagandul mengadopsi konsep
    kedewaan[25] dalam doktrin agama Hindhu. Buku Darmagandul menyebutkan bahwa keruntuhan
    Majapahit disebabkan semata-mata karena serangan
    dari kadipaten Demak di bawah pimpinan Adipati
    Jimbun Patah. Dengan sangat yakin penulis
    Darmagandul memaparkan hal tersebut sehingga boleh dikatakan bahwa buku tersebut menolak kemungkinan selain itu. Akan tetapi telah kita
    buktikan di atas bahwa buku Darmagandul tersebut
    bukan ditulis pada masa transisi antara keruntuhan
    Majapahit dan berdirinya Demak, sebagaimana
    anggapan sebagian kalangan. Maka sejumlah item
    yang dipaparkan oleh buku Darmagandul boleh diabaikan sebagai sumber sejarah, sebab bukan merupakan sumber utama sejarah yang terpercaya
    sekaligus dimuati sejumlah kepentingan dan motif
    tersembunyi. Namun demikian keruntuhan
    Majapahit patut mendapatkan porsi pembahasan
    tersendiri. Berdasarkan kesimpulan Seminar Masuknya Islam ke
    Indonesia pada tanggal 17 sampai 20 Maret 1963 di Medan, Islam telah masuk ke wilayah nusantara
    sejak Abad pertama hijriyah.[26] Bahkan upaya
    ekspedisi ke Nusantara telah dilakukan pada masa
    Abu Bakar Ash Shidiq dan dilanjutkan oleh khalifah- khalifah setelahnya.[27] Berdasarkan literature
    China menjelang seperempat Abad VII telah berdiri
    perkampungan Arab muslim dipesisir Sumatra. Sedangkan di Jawa Penguasa Kalingga yang
    bernama Ratu Shima telah mengadakan
    korespondensi dengan Muawiyah Bin Abu Sufyan, [28] salah seorang shahabat Nabi dan pendiri dinasti
    Umayyah.[29] Akan tetapi karena terpaut jarak yang
    jauh, maka dakwah di pulau Jawa berjalan secara
    lamban. Namun demikian secara jelas Islam telah disebarkan di Pulau Jawa jauh sebelum berdirinya
    kerajaan Majapahit. Dengan demikian anggapan penulis Darmagandul, bahwa Islam berkembang di
    tanah Jawa adalah semata-mata karena
    ‘kebaikan ’ Prabu Brawijaya,[30] adalah tidak benar. Pada masa kerajaan majapahit beberapa pelabuhan
    telah ramai dikunjungi oleh saudagar-saudagar
    asing. Guna kepentingan komunikasi dengan
    saudagar asing maka pemerintah kerajaan Majapahit
    mengangkat sejumlah pegawai muslim sebagai
    sebagai pegawai pelabuhan atau syahbandar.[31] Alasannya pegawai beragama Islam pada masa itu kebanyakan telah menguasai Bahasa asing terutama
    Bahasa Arab sehingga mampu berkomunikasi dan
    memberikan pelayanan kepada saudagar-saudagar
    asing yang kebanyakan beragama Islam.[32] Sementara itu dakwah Islam telah menjangkau
    masuk ke dalam lingkungan istana Majapahit dan
    berpengaruh terhadap para bangsawan. Para bangsawan yang telah menganut agama Islam,
    umumnya pindah keluar istana menuju daerah
    pantai yang dikuasai oleh para bupati yang telah beragama Islam.[33] Alasannya adalah demi
    toleransi dan mendapatkan kemerdekaan beragama.
    Dengan semakin berkurangnya sejumlah bangsawan
    dilingkungan kerajaan dan didiringi dengan semakin banyaknya rakyat Majapahit yang memilih Islam
    maka bias dipastikan kerajaan tersebut menjadi semakin lemah. Padahal, pada dasarnya Majapahit saat
    itu memang
    telah lemah secara politis akibat perang paregreg
    yang cukup lama dan menghabiskan banyak sumber
    daya. Perang tersebut merupakan perebutan tahta antara Suhita (putri dari Wikramawardana) dan
    Wirabumi (putra Hayam Wuruk). Pada tahun 1478 ini Dyah Kusuma Wardhani dan suaminya,
    Wikramawardhana, mengundurkan diri dari tahta
    Majapahit. Kemudian mereka digantikan oleh Suhita.
    Pada tahun 1479, Wirabumi, anak dari Hayam
    Wuruk, berusaha untuk menggulingkan kekuasaan sehingga pecah Perang Paregreg (1479-1484). Pemberontakan Wirabumi dapat dipadamkan namun
    karena hal itulah Majapahit menjadi lemah dan
    daerah-daerah kekuasaannya berusaha untuk
    memisahkan diri. Dengan demikian penyebab utama
    kemunduran Majapahit tersebut ditengarai
    disebabkan berbagai pemberontakan pasca pemerintahan Hayam Wuruk, melemahnya perekonomian, dan pengganti yang kurang cakap
    serta wibawa politik yang memudar.[34] Pada saat
    kerajaan Majapahit mengalami masa surut, secara
    praktis wilayah-wilayah kekuasaannya mulai
    memisahkan diri. Wilayah-wilayah yang terbagi menjadi kadipaten-kadipaten tersebut saling
    menyerang satu sama lain dan berebut mengklaim sebagai pewaris tahta Majapahit. Pada masa itu arus
    kekuasaan mengerucut pada dua adipati, yaitu
    Raden Patah dan Ki Ageng Pengging. Sementara
    Raden Patah mendapat dukungan dari Walisongo, Ki Ageng Pengging mendapat dukungan dari Syech
    Siti
    Jenar.[35] Sehingga dengan demikian keruntuhan Majapahit pada masa itu dapat dikatakan tinggal
    menunggu waktu sebab sistem dan pondasi
    kerajaan telah mengalami pengeroposan dari dalam. Dengan demikian faktor penyebab melemahnya
    Majapahit juga disebabkan makin pudarnya
    popularitas kerajaan Hindhu tersebut di mata
    rakyat. Keberadaan Majapahit telah tertutupi dengan munculnya kerajaan Demak yang dianggap
    membawa angin dan perubahan baru. Selain itu Demak juga semakin menguat setelah bersekutu
    dengan Surapringga (Surabaya), Tuban, dan Madura,
    [36] dimana wilayah-wilayah tersebut sebelumnya
    merupakan daerah kekuasaan Majapahit. Dengan
    demikian tuduhan bahwa keruntuhan Majapahit akibat ‘digerogoti’ oleh ulama muslim dari dalam[37] dan semata-mata karena penyerangan kerajaan Demak terbukti tidak benar. INTISARI TULISAN DALAM DARMAGANDUL Buku Darmagandul
    berusaha menggambarkan
    bahwa pengajar Islam di Jawa yang disebut wali
    sanga merupakan sekumpulan ulama yang memiliki
    moralitas dan integritas pribadi yang buruk. Melalui
    cerita yang disampaikan dalam bentuk dialog, digambarkan bahwa sejumlah wali senantiasa kalah dalam sejumlah dialog. Sehingga mereka kemudian
    dicitrakan sebagai pihak yang tersalah dan bodoh. Sebagai contoh dalam perdebatan antara Sunan
    Benang (Bonang) dengan Raja Jin yang bernama
    Buto Locaya. Sebelumnya Sunan Benang
    digambarkan sebagi pribadi yang sewenang-
    wenang dan tidak berfikir panjang dalam melakukan sebuah tindakan. Diceritakan bahwa Sunan Benang mengutuk sebuah desa sehingga aliran sungai
    berpindah ke tempat lain. Akibatnya tempat baru
    yang dialiri sungai tersebut terjadi banjir bandang.
    Maka dengan marah Raja Jin Buto Locaya kemudian
    berdebat dengan Sunan Benang. Dalam perdebatan
    Buto Locaya selalu digambarkan sebagai pihak yang menang secara argumentasi sedangkan Sunan Benang berada pada pihak yang dikalahkan. Jika
    diamati, argumentasi yang digunakan dalam
    berbagai dialog dan isi keseluruhan buku
    darmagandul, dibangun berdasarkan bentuk
    silogisme yang mentah akibat kesalahan pengambilan premis dan penyimpulannya. Sebagai
    contoh misalnya premis pertama menyatakan bahwa Islam berasal dari Mekah,[38] premis kedua
    adalah Mekah itu tanahnya panas, tidak ada
    tanaman yang mau tumbuh, hawanya panas dan
    jarang hujan,[39] kemudian kesimpulannya adalah jika orang Jawa meninggalkan ajaran lamanya dan
    melakukan konversi agama beralih kepada Islam,
    maka tanah Jawa akan menjadi langka pangan, berhawa panas, dan jarang hujan.[40] Demikian
    bentuk silogisme tersebut. Ditinjau dari segi
    manapun konklusi yang diambil dari kedua premis tersebut merupakan argument yang tidak logis dan
    sukar diterima akal sehat bahkan oleh akal sakit
    sekalipun. Kemudian Sunan giri digambarkan sebagai juru
    tenung atau tukang sihir. Hal ini terlihat bahwa dalam salah satu bagian cerita Sunan Giri
    mengusulkan agar Prabu Brawijaya ditenung saja
    agar tidak merusak kondisi politik dan ketentaraan.
    [41] Kemudian pasca Raden patah berkuasa, tersebutlah Adipati Pengging dan Adipati Pranaraga
    yang tidak mau tunduk kepada kesultanan Demak.
    Kedua adipati tersebut juga merupakan putra dari Prabu Barwijaya sebagaimana Raden Patah. Maka
    keduanya kemudian disingkirkan oleh Sunan Giri
    dengan jalan ditenung sampai mengalami kematian. [42] Sedangkan Sunan Kalijaga digambarkan
    menyesali
    keadaan yang telah berjalan. Maka sebagai tanda
    penyesalannya, dia mengganti penampilannya berbeda dengan para wali yang lain. Yaitu
    menggunakan baju wulung dan bukannya baju
    surban sebagaimana umumnya para wali.[43] Bahkan sampai pada kesimpulan bahwa untuk
    mencari ilmu sejati tidak harus berguru kepada
    orang Arab (Islam maksudnya) namun cukup
    dengan mengeksporasi dirinya sendiri. Ide ‘nyleneh ’ bertebaran ditampilkan dalam kitab tersebut. Antara lain serat Darmagandul
    berusaha meyakinkan pembaca bahwa Latta dan
    Uzza, berhala yang disembah oleh kaum kafir
    Quraisy, seolah-olah merupakan manifestasi Tuhan.
    Hal ini dapat dilihat dalam penyebutan penyebutan
    nama ‘Hyang Latawalhujwa ’ dibeberapa tempat. [44] Selain itu terdapat pernyataan bahwa kaum muslimin pada dasarnya bukan menyembah Tuhan
    namun menyembah tugu batu yang bernama
    Ka ’bah. Pernyataan demikian seringkali ditemukan pada era saat ini. Biasanya lahir dari kekurangmengertian terhadap ajaran Islam. Dalam
    anggapan Darmagandul, ka ’bah adalah buatan Nabi Ibrahim, seorang manusia. Lantas buku tersebut mempertanyakan mengapa orang Islam
    tidak menyembah batu-batu besar di Gunung Kelud
    saja, padahal batu gunung tersebut justru adalah
    ciptaan Tuhan.[45] Tentu saja persoalannya bukan
    siapa menciptakan apa dan konsekuensinya. Namun Ka ’bah merupakan batu penjuru bagi umat Islam, lambang kesatuan Kiblat sekaligus menjadi bukti
    bahwa Islam merupakan ajaran Tauhid. Pembinaan
    terhadap Ka ’bah, dalam doktrin Islam, mengacu pada pembinaan Baitul Makmur dimana atas perintah Allah para Malaikat melakukan Thawaf
    mengitarinya.[46] Pada hakikatnya bukan
    menyembah Ka ’bah ataupun Baitul Makmur namun menyembah kepada Allah dengan mengikuti perintah dan tata cara penyembahan yang telah di
    atur oleh-Nya. Lantas apakan gambaran tentang tentang para wali
    sebenarnya adalah demikian adanya ? Atau Apakah
    Serat Darmagandul merupakan sebuah kebenaran ?
    Sulit dipastikan, apalagi jika menggunakan serat
    Darmagandul sebagai sumber sejarahnya. Sebagaimana telah dibuktikan di atas Serat darmagandul bukan merupakan sumber utama
    sejarah sebab tidak ditulis pada masa peralihan
    antara kerajaan majapahit dan Kesultanan Demak
    sebagaimana anggapan orang. Kemudian banyak
    disisipi dengan berbagai motif dan kepentingan
    tersembunyi. Sedangkan puncak dari motif dan kepentingan dalam penulisan buku Darmagandul digambarkan sebagi suara kutukan roh Prabu
    Brawijaya terhadap Raden Patah sebagai berikut : “Entek katresnanku marang anak. Den enak mangan turu. Ana gajah digetak kaya kucing,
    sandyan matiya ing tata-kalaire, nanging lah eling-
    elingen ing besuk, yen wis ana agama kawruh, ing
    tembe bakal tak wales, tak ajar weruh ing nalar
    bener lan luput, pranatane mengku praja, mangan
    babi kaya dek jaman Majapahit. ”[47] Maksud kutukan roh prabu Brawijaya tersebut suatu ketika, agama Islam akan dikalahkan oleh agama
    kawruh. Agama kawruh sebagaimana telah
    dijelaskan sebangun dengan pohon pengetahuan
    yaitu yang dimaksud adalah Agama atau ajaran
    Kristen. Dengan demikian seolah-olah kitab Darmagandul merupakan kitab Jawa yang seolah-
    olah menggambarkan dan memberikan ramalan masa depan bahwa Islam di Jawa akan ditundukkan
    oleh agama Kristen yang salah satu cirinya adalah
    mengajar benar dan salah[48] serta memakan babi
    seperti umumnya orang Majapahit. Jelas umat Budha tidak semua makan daging. Demikian juga
    muslim tidak memakan daging babi. Dan hal ini
    merupakan bukti yang nyata bahwa buku Darmagandul sejak awal memang merupakan buku
    dimaksudkan dan dipersiapkan guna kepentingan
    misi penginjilan. Mengingat bahwa penyebaran ajaran Nashrani di Indonesia telah dilakukan
    semenjak penjajahan bangsa Eropa di bumi
    Nusantara yang dilakukan dengan kekerasan[49]. Hal
    itu mengingatkan kita bahwa penjajahan bangsa Barat terhadap dunia Timur selalu ditopang oleh
    slogan gold (kekayaan), glory (kekuasaan politik), dan gospel (penyebaran Injil). PENUTUP
    Berdasarkan uraian dalam makalah ini maka dapat
    dismpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Penulis buku Darmagandul adalah penganut
    agama Nashrani yang terobsesi dengan kegiatan
    missi atau setidaknya pernah berinteraksi secara intensif dengan Kitab Bible 2. Masa penulisan buku Darmagandul adalah pada
    saat penjajahan Belanda di bumi Nusantara atau
    bahkan pasca itu. Dengan demikian hal ini
    memabantah pendapat sebagian kalangan bahwa
    buku tersebut ditulis pada masa peralihan antara
    keruntuhan Majapahit dan berdirinya kesultanan Demak. 3. Buku Darmagandul memiliki banyak kesalahan
    dari sisi sejarah dan miskonsepsi dalam sejumlah
    contentnya. Hal ini wajar sebagai bukti bahwa
    penulis Darmagandul bukan pelaku utama sejarah
    tersebut sehingga pada hakikatnya buku
    Darmagandul adalah sebuah buku fiksi. 4. Dengan demikian buku Darmagandul tidak dengan serta merta dapat digunakan dalam menggali
    sumber sejarah terkait keruntuhan Majapahit dan
    berdirinya kesultanan Demak. Wallahu a ’lam [1] Berdasarkan cerita oral, telah ada pendahulu kerajaan di Jawa seperti Medang Kamulan, Medang
    Pura, dan lain-lain. [2] Sistem Kasta dalam Hindhu menunjuk hierarkhi
    manusia berdasarkan martabat dan keturunannya.
    Dalam Hindhu dikenal 4 macam kasta yaitu
    Brahmana, Satria, Waisya, dan Syudra. [3] Rahmad Subagya. Agama Asli Indonesia. (Sinar
    Harapan, Jakarta, 1981). Hal. 237 [4] Noname. Darmagandul. Cetakan IV. (Sadu-Budi, Surakarta, 1959). Hal. 48 [5] Bahasa Jawa memiliki penggunaaan yang
    berbeda untuk masing-masing strata social.
    Berdasarkan strata social tersebut Bahasa Jawa
    dibagi menjadi tiga yaitu Bahasa Jawa Ngoko,
    Krama, dan Krama Inggil. Bahasa Ngoko digunakan
    untuk strata social masyarakat umum atau oleh seorang bangsawan dan orang terhormat kepada bawahannya. Bahasa Kromo dipakai oleh orang
    yang memiliki derajad dan status sosial sama
    namun telah akrab. Sedangkan Bahasa Krama Inggil
    digunakan oleh seorang yang memiliki derajad dan
    status social rendah terhadap orang yang memiliki derajad dan status social lebih tinggi dengan tujuan
    untuk menghormati. [6] Secara harfiah kata kalamwadi artinya perkataan yang menjadi rahasia. [7] Noname. Darmagandul. Ibid. Hal. 21. Tulisan
    tersebut dapat diartikan sebagai berikut : tentara
    Majapahit menembak (dengan senapan = ambedil),
    sedangkan tentara Giri berjatuhan mati akibat tidak
    kaut menghadapi melesatnya peluru. [8] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 54. Artinya :
    Beragam sastra pemberian Gusti Allah wajib dimakan agar kaya dengan pengetahuan dan
    ingatan, orang yang tidak mengenal sastra
    pemberian Allah pasti tidak akan mengerti ilham.
    Auliya Gong Cu dengan congkak meniru sastra pemberian Gusti Allah, namun pembuatannya tidak
    bisa, sastra bunyinya kurang, jadi pelat, para Auliya
    pembuatan sastra ditentukan jumlahnya, namun aksara China banyak sekali jumlahnya, namun
    bunyinya pelat, sebab Auliya China terburu-buru
    memakan buah pohon pengetahuan, padahal juga harus memakan buah pohon Budi, Auliya tadi lupa
    bahwa dirinya tercipta sebagai manusia, maka
    karenanya memaksa menggunakan kekuasaan Yang
    Maha Kuasa, mengharap yang bukan wajibnya, terburu-buru menerima panglulu (pujian yang
    menjerumuskan) menggunakan sastra yang tidak terhitung jumlahnya, dinamakan sastra daun, daun
    dari buah pohon Budi dan pohon Pengetahuan,
    dipetik dari sedikit, ditata dan dikumpulkan, lantas
    dikarang untuk sastra, maka aksara China ribuan
    jumlahnya, Auliya China dikutuk, sebab berkemauan membuat sastra hidup seperti buatan Gusti Allah. Auliya Jawa memakan buah pohon Budi sampai
    kenyang, maka mengarang aksara yang tidak terlalu
    banyak namun sudah bisa mencukupi dan bunyinya
    tidak pelat. Auliya Belanda memakan buah pohon
    pengetahuan sampai kenyang juga, sedangkan
    jumlah aksara yang dikarangnya ditetapkan jumlahnya juga. Auliya Arab memakan buah pohon Kuldi banyak sekali. Sedangkan aksara yang
    digunakan juga ditentukan jumlahnya. Akan tetapi
    sastra buatan Gusti Allah, tercipta dari Sabda,
    maujud dengan sendirinya, maka bunyinya jelas,
    sastranya tidak ada yang sama. [9] Selengkapnya baca T. Hadisoebroto. Aksara
    Djawa : Tatanan Panulise Basa Djawa sarta Latin. (Pantjawarna, Solo, 1959). Hal. 29 [10] Drs. Sentot D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia.
    (Prima Offset, Wonogiri, tth). Hal. 35 [11] Drs. Abu Ahmadi. Perbandingan Agama. Jilid I.
    Cetakan VII. (AB Sitti Syamsiyah, Surakarta, 1974).
    Hal. 48 [12] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 50. Artinya :
    Darmogandul berkata, meminta keterangan tentang
    Kisah Nabi Adam dan Ibu Hawa yang dikutuk oleh Tuhan, karena telah makan buah dari Kayu (pohon)
    Pengetahuan yang ditanam ditengah taman Firdaus.
    Ada kitab lain yang menerangkan bahwa yang dimakan oleh Nabi Adam dan Ibu Hawa adalah buah
    Kuldi, yang ditanam di surge. Maka mohon
    diterangkan, kalau dikitab Jawa bagaimana
    ceritanya, yang menyebutkan mengapa hanya Kitab Arab dan Kitab agama Nasrani. [13] Kejadian 2:16. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI,
    Jakarta, 1974) [14] Kejadian 2:17. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI,
    Jakarta, 1974) [15] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 50. Artinya :
    Kalau Kitab Jawa Tidak menyebutkan demikian. Yang
    dimaksud adalah kitab Jawa tidak menyebutkan
    tentang Kisah Nabi Adam dan Hawa memakan buah pohon pengetahuan sebagaimana ajaran Kristen
    atau makan buah pohon Kuldi sebagaimana diklaim dalam Darmagandul sebagai ajaran Islam. [16]
    Syaikh Ahmad Musthafa Al Maraghi. Tafsir Al
    Maraghi. Juz I. (Terj. Drs. M. Thalib). (Ramadhani,
    Surakarta, 1989). Hal. 88 [17] Penulis Darmogandul seolah-olah
    mendedikasikan kitabnya untuk membela agama Budha dan ajarannya. Namun dalam banyak
    kesempatan agaknya sang penulis Darmogandul
    kurang memahami ajaran Budha itu sendiri. Hal
    tersebut terlihat dari pemaknaan Pohon Bodhi, konsep kedewaan, dan beberapa konsep kehidupan
    lainnya yang justru berlawanan dengan doktrin
    pokok dalam ajaran Budha. [18] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 48. Artinya : Yang dinamakan agama Nasrani artinya sarana
    berbakti : benar-benar berbakti kepada Tuhan, tanpa
    menyembah berhala, hanya menyembah Allah,
    Maka gelar Gusti Kanjeng Nabi Isa adalah Putra
    Allah, karena Allah yang mewujudkannya, demikian yang termaktub dalam kitab Ambiya. [19]
    Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 27. Artinya : cerita dari Mesir, Beliau Nabi Dawud, putranya
    bernafsu menggantikan kekuasaan sang ayah. Nabi
    Dawud sampai terdesak meloloskan diri keluar dari
    Negara, Anaknya tersebut kemudian menggantikan
    sebagai raja, tidak seberapa lama Nabi dawud kembali berhasil merebut negaranya. Anaknya
    melarikan diri dengan mengendarai kuda menuju ke hutan. Kuda tersebut berlari tanpa tentu arah
    tersangkut-sangkut kayu. Putra Nabi dawud
    kepalanya menyangkut di kayu sampai terpotong
    menggantung dikayu. Itulah yang dinamakan hukum Allah. [20] Lihat 2 Samuel 15 : 6. Alkitab
    Terjemahan Baru.
    (LAI, Jakarta, 1974) [21] Lihat 2 Samuel 15: 12. Alkitab Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974) [22] Lihat 2 Samuel 15 : 14-16. Alkitab Terjemahan
    Baru. (LAI, Jakarta, 1974) [23] Lihat 2 Samuel 18 : 7-8. Alkitab Terjemahan
    Baru. (LAI, Jakarta, 1974) [24] Lihat 2 Samuel 18 : 9-10. Alkitab Terjemahan
    Baru. (LAI, Jakarta, 1974) [25] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 52 [26] Panitia Seminar. Risalah Seminar
    Sejarah
    Masuknya Islam ke Indonesia. (Panitia Seminar, Medan, 1963). Hal. 265 [27] Herry Nurdi. Risalah Islam Nusantara. (Sabili
    Edisi Khusus : Sejarah Emas Muslim Indonesia, No. 9
    Th. X, 2003). Hal. 9 [28] Prof. DR. Hamka. Sejarah Umat Islam. Cetakan V.
    (Pustaka Nasional Pte Ltd, Singapore, 2005).Hal.
    671-672 [29] A. Latif Osman. Ringkasan Sejarah Islam.
    Cetakan XXIX. (Penerbit Widjaya, Jakarta, 1992). Hal. 77 [30] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 48 [31] Prof. Dr. Abubakar Aceh. Pengantar Sejarah Sufi
    dan Tasawwuf. Cetakan IV. (Ramadhani, Surakarta,
    1989). Hal. 370 [32] Prof. Dr. Abubakar Aceh. Sejarah Al Quran.
    Cetakan VI. (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 325 [33] Drs. Sentot D. Tj. Sejarah Nasional dan Dunia.
    (Prima Offset, Wonogiri, tth). Hal. 57 [34] H. Soekama Karya., et all. Ensiklopedi Mini
    Sejarah dan Kebudayaan Islam. (Logos, Jakarta, 1996). Hal. 364 [35] Syekh Siti Jenar merupakan tokoh kontrovesial
    yang eksistensinya sebagai sosok historis masih
    dipertanyakan. Namun demikian sejumlah pendapat
    menyatakan bahwa dia bertanggung jawab atas
    penyebaran ajaran syi ’ah dan sekaligus paham wihdatul wujud di Pulau Jawa. Menurut salah satu sumber dia memiliki nama asli Syeh Jabaranta dan
    pernah tinggal lama di Persia. Lihat MB. Rahimsyah.
    Legenda dan Sejarah Lengkap Wali Songo. (Amanah,
    Surabaya,tth). Hal. 139 [36] Prof. Abu Bakar Aceh. Sejarah Al Quran.
    (Ramadhani, Surakarta, 1989). Hal. 234-235. [37] Buku Darmagandul menggambarkan bahwa
    para ulama adalah seperti tikus yang merusak dari dalam. Mereka meminta jabatan kepada raja
    Majapahit dan pasca itu kemudian merusak kerajaan
    dari dalam. Lihat Noname. Darmagandul. Opcit. Hal.
    46-47 [38] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 15 [39] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 15-16 [40]
    Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 16 [41] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 29 [42] Noname.
    Darmagandul. Opcit. Hal. 46 [43] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 49 [44] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 14, 37, 40, 31 [45] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 15 [46] Selengkapnya dapat dibaca Prof. Dr. H.
    Abubakar Aceh. Sejarah Ka ’bah dan Manasik Haji. Cetakan IV. (Ramadhani, Surakarta, 1984). Hal. 49-50 [47] Noname. Darmagandul. Opcit. Hal. 49. Artinya :
    telah sirna rasa cintaku keada anak. Sudah diberi
    kenikmatan makan tidur. Ada gajah digertak seperti
    kucing, walaupun mati dalam tata lahir, namun
    ingat-ingatlah suatu hari nanti, jika telah ada agama
    pengetahuan, maka akan akau balas, akan kuajarkan benar dan salah, peraturan tentang tatanegara, makan daging babi seperti jaman Majapahit. [48] Lihat Kejadian 2:17 sebagai berikut : Alkitab
    Terjemahan Baru. (LAI, Jakarta, 1974)tetapi pohon
    pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu,
    janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari
    engkau memakannya, pastilah engkau mati. ” [49] Lihat Kolonel Inf. R. Soegondo. Ilmu Bumi Militer Indonesia. Jilid II. (Pembimbing, Jakarta, 1954). Hal

  119. kudagunung mengatakan:

    Untuk penulis di atas lumayan juga kajian/analisisnya.

    Tp bagaimanapun memang fakta-fakta sejarah dalam prosesnya itu (keruntuhan Majapahit – berdirinya Demak) dan efektivitas penyebaran agama Islam dibandingkan sebelum dan sesudah pasca keruntuhan Majapahit sangat berbeda. Yang jelas penyebaran ajaran Islam lebih besar dan kuat setelah Majapahit runtuh.

    Pertanyaan besarnya, apa peninggalan pemikiran Islam dan buah karya Islam yang sangat bermanfaat bagi bangsa ini dari sejak Islam masuk dan menyebar di tanah Jawa hingga sekarang ??? Tolong jangan apriori dengan pertanyaan ini. Terlepas si penulis Darmogandul itu Kristen, pembenci Islam, pengikut setan atau komunis sekalipun.

    Kemudian apa peninggalan pemikiran Kristen dan buah karya Kristen yang sangat bermanfaat bagi bangsa ini dari dulu sampai sekarang. Dari sejak penjajah jahanam keparat itu masuk ke tanah Jawa ini hingga hengkang 1949 lalu.

    Lantas apa peninggalan pengikut Hinda dan Budha yang hasil karyanya masih dinikmati sampai sekarang ???

  120. jin kimpoi mengatakan:

    akhirnya yg punya blog sadar..satria piningit itu ngga bakal muncul dan emang ngga ada orangnya..hhahahhahahaah…makanya di evaluasi…tapi tenang aja..orang jujur,sederhana,cerdas,berpihak kepada orang miskin,tidak cinta dunia,berpostur seperti militer,sikap dan gayanya tegas dan agak militer,tampan,dan semua hal seperti yang diduga orang2 itu memang ada orangnya…tunggu saja waktu dan tanggalnya..dia menguasai seluruh ilmu,ilmu pemerintahan,ilmu keuangan negara,ilmu komputer,ilmu telekomunikasi,ilmu agama,ilmu ekonomi,kaya tapi bergaya orang miskin,cerdas dan menguasai beberapa bahasa didunia..tunggu aja..DIDALAM MIMPI ANDA SEMUA..HAHAHAHAHHAHAH..NGIMPI!!!!

  121. jin kimpoi mengatakan:

    akhirnya yg punya blog sadar..satria piningit itu ngga bakal muncul dan emang ngga ada orangnya..hhahahhahahaah…makanya di evaluasi…tapi tenang aja..orang jujur,sederhana,cerdas,berpihak kepada orang miskin,tidak cinta dunia,berpostur seperti militer,sikap dan gayanya tegas dan agak militer,tampan,dan semua hal seperti yang diduga orang2 itu memang ada orangnya…tunggu saja waktu dan tanggalnya..dia menguasai seluruh ilmu,ilmu pemerintahan,ilmu keuangan negara,ilmu komputer,ilmu telekomunikasi,ilmu agama,ilmu ekonomi,kaya tapi bergaya orang miskin,cerdas dan menguasai beberapa bahasa didunia..tunggu aja..DIDALAM MIMPI ANDA SEMUA..HAHAHAHAHHAHAH..NGIMPI!!!! ngawur!!!

  122. bhre wengker mengatakan:

    serat dharmo gandhul,,,ditulis wong pinter nangeng ora cetho pas moso ne majapahit gogrok wangsane..wong loro ati sing ora ngerti arah lan araharah…

  123. NTNGR mengatakan:

    Salam Alaykum Pak Eddy semoga 2011 lebih damai namun bergerak menjawab. AMIN YA RABB :)

    *NTNGR

  124. NTNGR mengatakan:

    123. jin kimpoi – Maret 17, 2011
    akhirnya yg punya blog sadar..satria piningit itu ngga bakal muncul dan emang ngga ada orangnya..hhahahhahahaah…makanya di evaluasi…tapi tenang aja..orang jujur,sederhana,cerdas,berpihak kepada orang miskin,tidak cinta dunia,berpostur seperti militer,sikap dan gayanya tegas dan agak militer,tampan,dan semua hal seperti yang diduga orang2 itu memang ada orangnya…tunggu saja waktu dan tanggalnya..dia menguasai seluruh ilmu,ilmu pemerintahan,ilmu keuangan negara,ilmu komputer,ilmu telekomunikasi,ilmu agama,ilmu ekonomi,kaya tapi bergaya orang miskin,cerdas dan menguasai beberapa bahasa didunia..tunggu aja..DIDALAM MIMPI ANDA SEMUA..HAHAHAHAHHAHAH..NGIMPI!!!! ngawur!!!

    Alhamdullilah,

    Semua selalu ada pro kontra – hitam putih…

    Biarlah blog ini tetap ada, menyalurkan harapan walau terkesan ngawur… Bagi sebagian personal

    Jas Merah? Ya Darmogandul dll adalah bagian juga dari sejarah atau jadi legenda. Kita bisa sebut sebagai kekayaan budaya bangsa. Halal-halal saja asal tidak dianggap Kitab Allah. Naudzubillah.

    Positif thinking bersama, lihat hati kita masing-masing, dan Khairunas adalah pilihan terbaik sebagai pijakan awal beramal bila kita memang PATRIOT. Dan tergerak bagi Agama dan Bangsa.

    PATRIOT tidak mencela. Diam adalah emas.

    Jangan menggadaikan LANGIT. Jangan mentertawakan leluhur.
    Jangan ragu akan meminta maaf, jangan pernah merasa suci.

    Semua bisa termaafkan, dan memulai lagi sendiri-sendiri, hati per hati.

    Hati, jagalah hati. Jangan MUNAFIK, jangan buruk sangka.

    Ingatlah Surga dan campakkan Neraka dalam kepala kita setiap hari, detik dan waktu.

    Mari kitta ber SYAF, ingat akan PANCASILA, BHINEKA TUNGGAL IKA.

    Ingatlah, akan suatu kekuatan besar, yang menciptakan, mengatur, menyelesaikan, serta sejuta hal serta perihal lainnya. Yang dimana kita MANUSIA hanya sedikit saja mengetahuinya.

    Utamanya INGATLAH ALLAH / TUHAN dan para KEKASIHNYA (Nabi & Rosul)

    Maafkan bila berlebihan, semoga Allah mengampuni. AMIN

    Wassallam

  125. sandi teluh mengatakan:

    Pertanyaan besarnya, apa peninggalan pemikiran Islam dan buah karya Islam yang sangat bermanfaat bagi bangsa ini dari sejak Islam masuk dan menyebar di tanah Jawa hingga sekarang ??? Tolong jangan apriori dengan pertanyaan ini. Terlepas si penulis Darmogandul itu Kristen, pembenci Islam, pengikut setan atau komunis sekalipun.

    –> Janji seorang perempuan (hadiah) Putri Campa tentang Surga. Untuk mencapai Surga diwajib melaksanakan syariat & 5 pilar Islam, menghancurkan simbol2 penyembahan duniawi seperti patung arca. Bagi Islam yang terpenting nilai eksternal fisik secara tampilan dan kewajiban secara fisik. Bagi golongan tertentu, dibenarkan melakukan “kekerasan” asal tujuannya “versi sendiri” untuk agamanya.

    Kemudian apa peninggalan pemikiran Kristen dan buah karya Kristen yang sangat bermanfaat bagi bangsa ini dari dulu sampai sekarang.

    –> Janji tentang tentang hidup abadi setelah kematian dan pengampunan dosa. Untuk mencapai janji ini, cukup dengan percaya dan melaksanakan rasa kasih kepada Pencipta dan sesama dengan rasa sayang kasih cinta damai dan bukan dengan nafsu serakah dengki dan kejahatan. Kristen dilarang menyembah patung arca tetapi juga tidak diwajibakan untuk menghancurkannya. Bagi Kristen yang terpenting adalah nilai internal rohani secara moral dan pikiran.

    Kemudian apa peninggalan Perusahaan komersial Belanda VOC masuk ke tanah Jawa ini hingga hengkang 1949 lalu.

    –> Pembangunan jalan raya, bangunan, pelabuhan, perkebunan, dan administrasi serta militer. Pemerintah Dagang VOC diberi hak militer sendiri terpisah dari pemerintahan Belanda. Sehingga seolah2 VOC adalah negara dalam negara Belanda. Apa yang dilakukan VOC tidak dan bukan mencerminkan pemerintah Belanda. Perbudakan dengan gaji (seperti karyawan) jadi tidak bisa dikatakan sebagai perbudakan. Tetapi di masa tersebut tetap disebut budak. hanya saja jaman itu budak digaji dan diberi makan tempat tinggal dan boleh menikah.

    Kemudian apa peninggalan Jepang?

    –> Pewarisan dari “karya Belanda” kepada “orang Indonesia” antara lain kemerdekaan. Penyiksaan dan penderitaan serat perbudakan tanpa gaji.

    Lantas apa peninggalan pengikut Hinda dan Budha yang hasil karyanya masih dinikmati sampai sekarang ???

    –> Keluhuran budi pekerti dan moral universal tentang hubungan baik manusia dengan Penciptanya dan manusia dengan sesamanya. Ini tercermin dari sifat orang Jawa yang kuhur dan anti kebohongan. Hidup sederhana secukupnya dan penuh positive mindset dan kasih damai.


    Dari hal ini dapat disimpulkan, ajaran asli Islam telah ditaklukkan oleh sifat Hindu dan Budha dalam agama jawi kuno yang disebut agama budi. Islam tetapi berbudi, berbudi tetapi Islam. Jadi bukan Jawa diislamkan melainkan Islam di-jawa-kan.

    Sekarang ini telah datang aliran yang berniat mengarabkan islam di jawa. Dalam hal ini, yang lain tidak ikut-ikutan. Itu urusan internal Islam Nusantara.

  126. socio - facebook mengatakan:

    @sandi teluh:

    SETUJU memang yang benar adalah ISLAM telah ditaklukkan budi pekerti Jawa. ISLAM telah di-JAWA-kan.

  127. mobil jalan mengatakan:

    kata2 yang berbau provokative dan gendam:

    “Terlepas si penulis Darmogandul itu Kristen, pembenci Islam, pengikut setan atau komunis sekalipun.”

    kata2 mungkin yang benar:

    “Terlepas si pembaca Darmogandul itu islam, pembenci jawa, pengikut iblis atau kaki tangan komunis sekalipun.”

    pembaca kita bukan anak2 kecil Bung! mereka mengerti hipnotis, gendam, dan permaina kata2 untuk mempengaruhi (influencing) mind pikiran.

    kata2 anda sama saja:

    Kristen = pembenci (I atau i) slam = pengikut syaitan = komunis.

    pertama membangkitakan rasa simpati lalu persetujuan lalu amarah. Anda benar2 sperti pernah belajar mass demonstration control yang cuma diajarin di intelejen/militer officer.

    Mau main perang mind, hipnotis, influence, atau konpirasi theory. Datang aja ke faith freedom.com.

    Syaratnya pikiran gak wajib terkotak2, gak perlu berpandangan dari paradigma satu sisi aja.

    monggo!! gw beli!!

  128. Sutawijaya mengatakan:

    Pro 1:1 Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel
    Pro 1:2 untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna,
    Pro 1:3 untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran,
    Pro 1:4 untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda–
    Pro 1:5 baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan–
    Pro 1:6 untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak.

    Pro 2:6 Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.
    Pro 2:7 Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela lakunya,
    Pro 2:8 sambil menjaga jalan keadilan, dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia.
    Pro 2:9 Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran, bahkan setiap jalan yang baik.
    Pro 2:10 Karena hikmat akan masuk ke dalam hatimu dan pengetahuan akan menyenangkan jiwamu;
    Pro 2:11 kebijaksanaan akan memelihara engkau, kepandaian akan menjaga engkau
    Pro 2:12 supaya engkau terlepas dari jalan yang jahat, dari orang yang mengucapkan tipu muslihat,
    Pro 2:13 dari mereka yang meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang gelap;
    Pro 2:14 yang bersukacita melakukan kejahatan, bersorak-sorak karena tipu muslihat yang jahat,
    Pro 2:15 yang berliku-liku jalannya dan yang sesat perilakunya;
    Pro 2:16 supaya engkau terlepas dari perempuan jalang, dari perempuan yang asing, yang licin perkataannya,
    Pro 2:17 yang meninggalkan teman hidup masa mudanya dan melupakan perjanjian Allahnya;
    Pro 2:18 sesungguhnya rumahnya hilang tenggelam ke dalam maut, jalannya menuju ke arwah-arwah.
    Pro 2:19 Segala orang yang datang kepadanya tidak balik kembali, dan tidak mencapai jalan kehidupan.
    Pro 2:20 Sebab itu tempuhlah jalan orang baik, dan peliharalah jalan-jalan orang benar.
    Pro 2:21 Karena orang jujurlah akan mendiami tanah, dan orang yang tak bercelalah yang akan tetap tinggal di situ,
    Pro 2:22 tetapi orang fasik akan dipunahkan dari tanah itu, dan pengkhianat akan dibuang dari situ.

    Pro 3:12 Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.

    Pro 3:18 Ia menjadi pohon kehidupan bagi orang yang memegangnya, siapa yang berpegang padanya akan disebut berbahagia.
    Pro 3:19 Dengan hikmat TUHAN telah meletakkan dasar bumi, dengan pengertian ditetapkan-Nya langit,
    Pro 3:20 dengan pengetahuan-Nya air samudera raya berpencaran dan awan menitikkan embun.
    Pro 3:21 Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu,
    Pro 3:22 maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.
    Pro 3:23 Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk.

    Pro 4:5 Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.
    Pro 4:6 Janganlah meninggalkan hikmat itu, maka engkau akan dipeliharanya, kasihilah dia, maka engkau akan dijaganya.
    Pro 4:7 Permulaan hikmat ialah: perolehlah hikmat dan dengan segala yang kauperoleh perolehlah pengertian.
    Pro 4:8 Junjunglah dia, maka engkau akan ditinggikannya; engkau akan dijadikan terhormat, apabila engkau memeluknya.
    Pro 4:9 Ia akan mengenakan karangan bunga yang indah di kepalamu, mahkota yang indah akan dikaruniakannya kepadamu.”
    Pro 4:10 Hai anakku, dengarkanlah dan terimalah perkataanku, supaya tahun hidupmu menjadi banyak.
    Pro 4:11 Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.
    Pro 4:12 Bila engkau berjalan langkahmu tidak akan terhambat, bila engkau berlari engkau tidak akan tersandung.
    Pro 4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalah dia, karena dialah hidupmu.
    Pro 4:14 Janganlah menempuh jalan orang fasik, dan janganlah mengikuti jalan orang jahat.
    Pro 4:15 Jauhilah jalan itu, janganlah melaluinya, menyimpanglah dari padanya dan jalanlah terus.
    Pro 4:16 Karena mereka tidak dapat tidur, bila tidak berbuat jahat; kantuk mereka lenyap, bila mereka tidak membuat orang tersandung;
    Pro 4:17 karena mereka makan roti kefasikan, dan minum anggur kelaliman.
    Pro 4:18 Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
    Pro 4:19 Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang menyebabkan mereka tersandung.

    Sabdo Palon = Kebijaksanaan.
    Nangong = Pengertian.

    Inilah kedua pusaka Nabi Dawud.

    Salam ,
    Pencari Cahaya Kehidupan

  129. Sutawijaya mengatakan:

    Pohon Kehidupan itu adalah Gunungan di wayangan. Bisa di search di Google.

    Pada Gunungan Wayang, ada ular naga melilit di pohon kehidupan tersebut.

    Ini menunjukkan adanya prinsip yang sama pada budaya Jawa dan Ajaran Kristen.

    Sulit untuk membuktikan apakah ajaran Kristen pernah masuk ke Jawa atau Gunungan Wayang tersebut adalah setelah penjajahan Asing.

    Apabila benar bahwa gunungan pada wayang adalah jauh sebelum Islam masuk maka dapat dikatakan bahwa ajaran Budi adalah sama idem dengan ajaran Kristen.

  130. nyi pelet mengatakan:

    klo menurut saya, serat dharmagandhul nie bukan cerita ngawur mas. karna didunia sebenarnya memang banyak hal yg tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat.
    semua tergantung bagaimana kita menyikapi sebuah cerita, mau diambil makna dan sari patinya, atau hanya dianggap cerita ngawur sehingga tidak tahu apa artinya.
    padahal didalam serat dharmagandhul banyak sekali pengetahuan yg bisa diambil.
    yg bisa menuntun kita kepada Tuhan.
    bukankah pertanyaan dan hinaan sabda palon bisa menjadikan kita umat islam berpikir “apakah aku seorang muslim ?”

    kemudian bila pada akhirnya muncul pendapat bahwa penulisnya agama “ini” atau “itu”,pastilah orangnya “begini” atau “begitu”, yah…
    apa bedanya kita dengan orang yg tidak memiliki hati nurani ?

    menurut saya daripada akhirnya hanya menyebabkan persatuan dan kesatuan antar umat beragama, kan lebih baik kita ambil hikmahnya.
    contohnya saat kita menonton film, apakah emosi kita akan ikut meledak-ledak atau kita malah bisa mengambil garis tengah sehingga menemukan makna da tujuannya ?

    saya kira anda sekalian lebih bisa memahami karena saya yakin bahwa anda lebih berpendidikan dari saya.

    salam,

    nyi pelet

  131. suryakencanadipuro mengatakan:

    Salam karaharjan.
    ( klo menurut saya, serat dharmagandhul nie bukan cerita ngawur mas. karna didunia sebenarnya memang banyak hal yg tidak dapat dijelaskan dengan akal sehat.
    semua tergantung bagaimana kita menyikapi sebuah cerita, mau diambil makna dan sari patinya, atau hanya dianggap cerita ngawur sehingga tidak tahu apa artinya.
    padahal didalam serat dharmagandhul banyak sekali pengetahuan yg bisa diambil.
    yg bisa menuntun kita kepada Tuhan.
    bukankah pertanyaan dan hinaan sabda palon bisa menjadikan kita umat islam berpikir “apakah aku seorang muslim ?”
    kemudian bila pada akhirnya muncul pendapat bahwa penulisnya agama “ini” atau “itu”,pastilah orangnya “begini” atau “begitu”, yah…
    apa bedanya kita dengan orang yg tidak memiliki hati nurani ? )
    Betul betul kita jangan menyalahkan dan menomersatukan agama. karena agama itu ajarannya untuk membatasi pengikutnya dari perbuatan yang jelek.Mari kita kembali kediri kita masing- masing. yang penting kita yakin dan percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa. cuma jalannya dan lakunya lain – lain untuk mendekatkan diri kita pada GUSTI kita.yang penting kita jangan melupakan leluhur-leluhur kita karena dia kita ada….suwun

  132. pemuja wanita mengatakan:

    Dalam upaya politik kaum kolonialis pecah belah dan kuasailah, sama persis dengan dukungan pemerintah kolonialis Inggris (British East Indies) terhadap karya Islami Mirza Ghulam Ahmad di India. Maka demikian pula yang terjadi dengan Serat Darmogandul yang penulisnya masih misterius pada kurun antara kekuasaan Inggris Gubernur Jenderal T.S. Raffles di Tanah Jawa hingga babak menjelang terjadinya Perang Jawa Pangeran Diponegoro. Raffles malah sempat-sempatnya mempelajari peninggalan kebudayaan dan sastra Jawa yang kemudian dituangkan dalam History of Java terbit di London, pemerintah Hindia-Belanda dan Inggris meminjam jargon Orde Baru “patut diduga, tidak bisa tidak, langsung maupun tidak langsung” terlibat dengan terbitnya Serat Darmogandul yang bertujuan memecah belah penduduk Pribumi Hindia.
    Sebagai bahan referensi memecahkan siapa penulis misterius Serat Darmogandul tatkala pertama kali terbit, pujangga klasik Jawa Ronggowarsito masih berusia 22 tahun, dan karya pujangga Pribumi tersebut dan juga para pendahulunya memiliki ciri khas karya mereka dalam bentuk syair nyanyian, antara lain gambuh. Sangat berbeda dengan Serat Darmogandul sudah berbentuk esai dalam bahasa Jawa campuran, ngoko dan krama inggil. Pada masa itu penulis Eropah sudah terbiasa menggunakan gaya tulisan demikian dalam bahasa Eropa, dan bisa jadi selanjutnya hasil karya penulis asing itu untuk keperluan penerbitan diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa, sama sebagaimana bahasa yang dipergunakan dalam penulisan Serat Darmogandul.
    Selayang pandang Serat Darmogandul, pada babak perpisahan antara penasihat Majapahit, Sabdo Palon Noyo Genggong, dengan Prabu Brawijaya terjadi percakapan mengenai Satria Piningit atau Satrio Piningit (yang dimaksud di sini Ratu Adil) baru sebagai berikut:
    Sabdo Palon mengungkapkan kecewa hatinya kepada momongannya, Prabu Brawijaya, “Kula badhe pados momongan ingkang mripat satunggal.” Kurang lebih artinya, “Saya akan mencari satrio asuhan yang bermata satu.”
    Sang Prabu juga diminta oleh Sabdo Palon menjadi saksi kelak di masa depan mengenai munculnya Satria Piningit atau Satrio Piningit (yang dimaksud di sini ialah Ratu Adil) dalam percakapan berikut, “Ing besuk yen ana wong Jawa ajênêng tuwa, agêgaman kawruh, iya iku sing diêmong Sabdapalon.” kira-kira artinya “Kelak di masa depan akan muncul seorang Jawa menambahi pada nama aslinya nama yang dituakan: mbah, kyai, ki, dan lainnya, dan yang bersangkutan menguasai ilmu pengetahuan agama (Kejawen), dia lah yang diasuh oleh Sabdo Palon.”
    Serat Darmogandul terlepas dari apakah di dalamnya itu asli atau plagiasi dari sumber lain (dari hasil karya sebelumnya oleh sang penulis Serat Darmogandul sendiri) dapat disebutkan isinya yang kontroversial ialah mengenai makar, subversif, atau upaya menggulingkan kekuasaan yang dilakukan oleh Walisongo terhadap kerajaan Majapahit. Sedangkan wali kesepuluh Syech Siti Jenar menentang makar terhadap Majapahit, maka dia harus disingkirkan dari muka bumi. Syech Jenar mengutuk salah seorang Sunan yang menghukumnya sebagai berikut, “Kelak di masa depan jika para raja (pemimpin) di Tanah Jawa hanya terdiri dari raja (pemimpin) yang sudah tua berusia lanjut, maka gantian aku yang menghukum gantung lehermu dengan lawe….”
    Serat Darmogandul sejak pertama kali diterbitkan tepat menjelang Perang Jawa meletus telah memecah belah kekuatan kaum agama (Islam) dalam melawan pemerintah Hindia-Belanda di samping itu juga telah menyurutkan dukungan massa rakyat jelata terhadap perang kaum santri tersebut. Konon pada bagian yang mengisahkan perjuangan salah seorang Sunan dalam upaya mengislamkan daerah Jawa Timur mulai Kertosono hingga Kediri dengan cara yang tidak disukai massa rakyat yakni merusak semua arca kuno berupa patung terbuat dari batu peninggalan leluhur dan mengikis habis berbagai bentuk budaya lainnya yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam.
    Pertentangan antara massa rakyat Syiwa-Buddha terhadap para pendakwah dan pemeluk Islam itulah yang menjadi missi utama Serat Darmogandul sampai hari ini. Maka tidak mengherankan tatkala menjelang pemilu tahun limapuluhan Serat Darmogandul dimunculkan kembali, hingga akhirnya malahan dijadikan buku terlarang. Apakah dengan larangan itu dapat menutup jejak masa silam mengenai keruntuhan Majapahit dan cara penyebaran agama Islam oleh Walisongo tidak dilakukan secara damai? Atau berusaha menutupi bahwa Raden Patah, Sultan Demak dari kerajaan Islam pertama di Jawa itu berdarah Tiongkok keturunan Brawijaya sendiri dengan putri Campa yang sedang mengandung dihadiahkan kepada Adipati Majapahit Arya Damar dari Palembang?
    Sebagai gambaran dalam ajaran Islam adalah halal hukumnya membasmi kekafiran dengan cara tertentu dan dalam batas tertentu. Cara kekerasan dan tanpa kekerasan dianggap relatif saja. Apalagi merusak benda yang membawa kemusyrikan adalah sangat halal. Dan di sisi lain di seberang sana tentu hal sebagai itu dianggap suatu bentuk kekerasan terhadap sebuah benda hasil budaya.
    Dan yang paling dikhawatirkan pihak tertentu dalam Serat Darmogandul ialah ucapan Sabdo Palon yang akan kembali menyebarkan agama tertentu limaratus tahun lagi sejak beliau berpisah dengan Prabu Brawijaya, dan itu dianggap kehancuran bagi agama yang lain. Anggapan demikian itu tentu saja tidak sesuai dengan roda berputarnya sejarah yang selalu menghasilkan sintesa baru, dan bukan kembali pada tesis awal. Dan sintesa yang baru itu adalah “sesuatu yang lebih unggul” yang menjadi hasil daripada pertarungan dari pihak yang saling bertentangan selama lima abad itu

  133. Haryo Mangkubumi mengatakan:

    Kalau saya sih gampang saja , serat Darmogandul tidak lebih dan tidak kurang adalah suatu karya sastra bangsa sendiri bagaimanapun bentuknya , boleh saja dipelajari dan dipahami dengan pendekatan ilmu Antropologi dan Arkeologi tapi tidak untuk diamalkan dalam perbuatan sehar-hari . seperti kita membaca karya -karya sastra lainnya apakah harus diamalkan tentu saja tidak bukan ???????

    Karena kita punya keyakinan dan paham masing-masing

    Wassalam …………..

  134. Sue mengatakan:

    Salam damai dan hangat untuk kalian kawanku dan saudaraku

    saya merupakan seorang nasrani
    (dan sepertinya saya kurang taat hehehe)

    komentar saya bukan karena saya pro-darmogandul , pro-muslim maupun pro-nasrani
    tapi bisakah kita MULAI dari mencintai kepercayaan kita masing2 ?
    bisakah kita MULAI dari mengkhusyukkan diri dengan TUHAN kepercayaan masing2 ?
    mencari ESENSI dari kepercayaan masing2 ?
    terutama untuk masyarakat indonesia yang suka cari jeleknya agama lain
    karena pada dasarnya Tuhan itu melihat HATI dari setiap kita
    bukankah HATI kita adalah AGAMA yang harus lebih dijaga ketimbang AGAMA simbolik kita ?
    seperti contoh FPI yang mati2an membela (red:nggawe rusuh) nilai2 muslim
    bukannya saya mendiskreditkan umat muslim , hanya saja saya belum pernah dengar FPD (front pembela darmogandul hehehe) ataupun pembela2 agama lainnya
    saya kira setiap agama mempunyai cara masing2 agar tinggal di Nirwana-NYA masing2 , tapi bagaimana ketika kita bertemu perbedaan pandangan dengan agama lain ??
    apakah kita harus anggap salah ?
    apakah yang kita anut paling harus benar di mata orang ? (tapi kita tetap harus beriman bahwa kepercayaan kita benar)
    apakah kalian pernah bertemu Yesus ?
    apakah kalian pernah bertemu Muhammad ?
    apakah kalian pernah bertemu Sabdo Palon ?
    bagaimana jika kalian bertemu orang bule yang berteori bahwa Tuhan itu Alien ?
    (bisa kalian anggep gila nanti orang itu hehe)

    percayalah , buat kalian yang bullshit bilang “aku mengikut agama A karena aku percaya dan beriman pada Tuhan A” (kecuali emang kalian dapet revelations secara visual ataupun mimpi, dsb.)
    andai saja kalian ketika lahir anda ada di lapangan besaaaaaaaarr sekali , hanya anda sendiri dan tidak tahu apa2 , lalu di depan anda form pilihan agama
    apakah anda pasti memilih agama yang anda anut sekarang ?
    ketahuilah bahwa AGAMAMU ITU BERDASAR DARI ORANG TUAMU

    seperti kata Mahatma Gandhi :
    THERE IS NO GOD HIGHER THAN TRUTH
    tidak ada Tuhan yang lebih tinggi dari KEBENARAN
    dan berimanlah kalau Tuhan agamamu masing2 adalah KEBENARAN
    lalu kenapa harus ragu dan takut akan penyesatan ?

    janganlah kamu mulai dari merasa yang paling benar , mulailah dengan cerminkan kebaikan ajaranmu dalam kehidupanmu

    Terima kasih dan salam hangat dari Moskow :)

    • phen mengatakan:

      Mungkin ini bisa bantu mengungkap sabdo palon maupun naya genggong.
      Ingat….. masyarakat jawa selalu terikat dengan simbol/sandi/perumpaan.

      Pusaka Pengayom / Pelindung Nuswantara Pada Zaman Majapahit.

      Pusaka pengayom / pelindung Nuswantara pada zaman Majapahit :
      1. Pusaka Oumyang Majapahit.
      2. Pusaka Sabdo Palon (SP).
      Pasangan / Gandengan pusaka Oumyang Majapahit adalah pusaka Sabdo
      Palon (SP). Pusaka Oumyang Majapahit tanpa pusaka Sabdo Palon (SP)
      akan pincang.

      Pusaka Oumyang Majapahit.
      Oumyang = Yang Maha Tinggi.
      = Yang Maha Kuasa : Kuasa atas segala kekuasaan dan kuasa
      atas segala kekayaan. Enersi yang maha tinggi bersifat
      keTuhanan.
      Menurut Buku Keris, Pamor Oumyang Majapahit adalah pamor Pakar (orang
      yang ahli / keahlian), diistilahkan : Sepiro musuhe kekes kabeh
      (Sebanyak / sesakti apapun musuhnya kalah / habis semua).
      Daya pusaka Oumyang Majapahit (dari pamor Pakar) :
      1. Kuat angkat junjung drjad. Kuat junjung drjad :
      – Kuat junjung orang dari kegelapan.
      – Kuat junjung derajad orang.
      – Kuat menyembuhkan keadaan yang sakit (perlu pusaka skope
      jagad). Kuat angkat junjung berarti kuat angkat orang /
      bangsa dari kegelapan. Sebelum dijunjung, orang / bangsa
      harus diangkat dari kegelapan. Caranya dengan : Angleledo,
      Bejane sing dipunduti candrane kahening siro
      sedoyo. –> Ciri Satrio Piningit.
      Angleledo = menyamarkan / menggoda.
      Dipunduti = sepertinya diminta untuk memenuhi suatu
      persyaratan agar hidupnya terangkat.
      Semua kegelapan manusia bersumber dari Amarah (tetapi
      Amarah ini banyak kawannya), jika kita bisa mengendalikan
      Amarah maka akan bisa mengawali dan bisa mengakhiri
      sehingga bisa menggarisbawahi cukup sampai disini (seperti
      Aku – kembali kepada Tuhan).
      2. Sepiro musuhe kekes kabeh (Sebanyak/sesakti apapun musuhnya
      kalah/habis semua). Sesakti apapun musuhnya jika dihidupkan
      Akunya tidak akan berdaya.
      3. Ojo pisan-pisan siro kumawani,sing wani yen ora loro yo edan
      (Jangan sekali-kali terlalu berani (anggap remeh), jika
      berani akan sakit atau gila.
      Isinya : Wanita (wadah suci) Lambang Isi Oumyang Majapahit :
      Semuanya ada disitu (Yang Maha Kuasa : Kuasa atas segala
      kekuasaan dan kuasa atas segala kekayaan).

      Karena semuanya ada disitu maka Tuhan-Tuhan Kecil akan pergi, roh-roh
      halus sesakti apapun tidak berani (seperti Lengkung Kusumo).
      Tuhan kecil –> membuat nafsu menjadi dayanya –> daya mistik.
      Surat yang ditunjuk :
      1. Surat Adz Dzaariyaat (Angin yang mencerai-beraikan). –> Alif.
      2. Surat Al Ghaasyiyah (Hari selubung malapetaka). –> Lam.
      3. Surat An Fushshilat (Yang dijelaskan). –> Mim.
      Ujian dari pusaka Oumyang Majapahit adalah membawakan sifat cinta
      kasih (sifat pemurah, pengasih dan penyayang).

      Pengaruh Oumyang Majapahit :
      – Dilayani / diladeni orang-orang.
      – Jika orang sedang bertapa didatangi pusaka ini maka dia harus
      menghentikan tapanya (harus selesai).
      Daya pada orang yang menyatu dengan Oumyang Majapahit :
      1. Tidak ada yang tersembunyi.
      2. Kata dari sana diucapkan maka akan seperti sajadah terbentang
      (diberi selubung yang hanya orang itu yang bisa melepaskannya) jika
      orangnya sudah keterlaluan. Oumyang Majapahit warangkanya harus
      diberi selongsong emas (lambang kemuliaan).
      Pusaka Oumyang Majapahit sifat dayanya adalah kuasa ilmu dan orang
      diajak untuk marifat. Oumyang Majapahit adalah sumber elmu.
      Sifat dayanya adalah kuasa ilmu dan mengajak orang untuk marifat. Dan
      siapa yang berani menghunus pusaka ini maka harus berani untuk diajak
      marifatullah dengan ilmu-ilmu gaib.
      Bila seseorang yang masih menggunakan nafsunya maka dia tidak akan
      kuat atau tidak tahan jika dia datang ke Tebet karena mau tidak mau
      dia akan terolah dengan Pusaka Oumyang Majapahit.
      Selama orang masih menganut ilmu yang sifatnya kesaktian atau yang
      sifatnya mistik maka bila orang itu ke Tebet akan berakibat ilmu
      tersebut akan Badar (hapus).
      Bagi yang datang ke Tebet sadar atau tidak sadar akan ditempelkan
      Condronya Beliau melalui Pusaka Oumyang Majapahitnya, oleh karena itu
      jika kita dipernahake (dinasehati) oleh Bapak maka kita harus menurut
      dan mengerjakan apa yang diminta.
      Didalam pengolahan terhadap Pusaka Oumyang Majapahit maka akan
      terdapat istilah : Yen Lakumu Lan Sowanmu Ketompo, Sak Penjaluke Ing
      Roso Katekan, maksudnya adalah asalkan laku / amalanmu dan
      kedatanganmu diterima maka bila melaksanakan suatu permohonan dengan
      membatin di dalam hati, maka permohonannya akan sampai.
      Rahasia dari Pusaka Oumyang Majapahit adalah dapat menghidupkan /
      mengudarakan pusaka-pusaka yang lainnya.
      Pusaka Oumyang Majapahit mengolah manusia untuk ditingkatkan
      spiritualnya tingkat demi tingkat dilewatkan Jembatan Shiraathal
      Mustaqiim sampai Alam Lahut yang menghasilkan daya Sastro Jendro Hayu
      Ningrat Pangruwating Diyu artinya manusianya bisa mempunyai daya
      Ngudari Benang Ruwet (menguraikan masalah).
      Oumyang Majapahit itu pengolahannya pada Aku (Gaib Tuhan sendiri)
      yaitu Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan, Yang Awal dan Yang Akhir
      (Dalam Al Kitab : Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang
      Akhir, Yang Menghidupkan dan Yang Mematikan dan Aku akan datang
      sebagai Manusia untuk menghakimi).
      Juga mengolah manusia untuk dapat mempunyai daya Kun Fa Yakuun.
      Karena pengolahannya pada Aku maka jika Oumyang Majapahit dihunus
      akan berdaya untuk menghidupkan dan mematikan sesuatu, mengawali dan
      mengakhiri sesuatu sehingga tidak boleh dihunus secara sembarangan
      (diistilahkan : Kudu Ono Gawe / Kudu Entuk Gawe = Harus ada yang
      dikerjakan).

      Jadi bila terpaksa dihunus harus ditentukan tujuannya :
      – Yen arep nguripke, nguripke opo / sopo.
      – Yen arep mateni, mateni opo / sopo.
      – Yen arep ngawali, ngawali opo.
      – Yen arep ngakhiri, ngakhiri opo.
      (Jika ingin menghidupkan, menghidupkan apa / siapa)
      (Jika ingin mematikan, mematikan apa / siapa)
      (Jika ingin mengawali, mengawali apa)
      (Jika ingin mengakhiri, mengakhiri apa)
      Daya Oumyang Majapahit adalah daya Surat Adz Dzaariyaat : Kuasa
      Mukjizat.
      Pengolahan Oumyang Majapahit untuk mendapatkan Enersi Yang Maha
      Tinggi sehingga bisa melepaskan manusia dari lepetan-lepetan / dosa
      dalam waktu singkat.
      Pusaka Oumyang Majapahit mengolah Enersi Yang Maha Tinggi pada diri
      manusia sehingga:
      – Bisa mengetahui daya-daya yang akan turun dari langit.
      – Mempunyai firasat yang tinggi.
      – Manusia yang memegang pusaka tersebut dapat terkabul
      permohonannya (Sak Penjaluke Ing Roso Katekan).

      Pusaka Oumyang Majapahit mengolah pada :
      1. Mematikan nafsu darah (Wahyu Sastro Jendro Hayu Ningrat
      Pangruwating Diyu).
      Gunanya untuk mengangkat / melepaskan dosa-dosa kita / orang
      lain akibat perbuatan hidupnya / dosanya sendiri.
      Untuk memberikan terang kepada orang yang terkena elmu tidak
      bisa dengan daya ini.
      2. Mendayagunakan Atom dari Energi Yang Maha Gaib.
      Dayanya mengangkat / melepaskan / memberikan terang kepada
      kita/orang lain dari elmunya sendiri maupun diserang orang lain.
      Bila sudah berhasil mendayagunakan Atom dari Energi Yang Maha
      Gaib maka dapat disebut Marifat dari Marifatullah.

      Oumyang Majapahit mengolah seseorang untuk menjadi marifat,
      mengolah cakra 13 dan orang diajak supaya bisa mencapai nol /
      kosong baik itu materi, fisik maupun rohani lalu dilewatkan
      Jembatan Shiraathal Mustaqiim.
      Bila lulus diolah pusaka ini maka mengenai rezeki dan lainnya
      akan bagaikan air mengalir di sungai Kautsar asal hidupnya
      harus lurus bagaikan relnya Al Qur’an. Oumyang Majapahit adalah
      kuasa ilmu-ilmu gaib, bisa mengudarakan pusaka-pusaka lain.

      Riwayat dari pusaka Oumyang Majapahit :

      Dibuat oleh seorang Empu yang mana setelah pusaka itu jadi, Empu
      tersebut takut bilamana pusaka ini jatuh atau ketempatan pada orang
      yang salah. Lalu oleh Empu tersebut pusaka ini dibuang ke laut dengan
      harapan suatu saat akan ada orang yang benar-benar cocok dan sanggup
      akan ketempatan pusaka ini.
      Pada suatu ketika ada seseorang nelayan melihat seorang putri
      berteriak minta tolong di laut, lantas oleh nelayan tersebut putri
      itu ditolongnya. Namun begitu dipegang oleh nelayan, putri terbut
      berubah menjadi sebuah keris.
      Pusaka ini konon oleh Paku Buwono X dicari–cari dengan mengadakan
      sayembara karena Beliau mengetahui mengenai kedahsyatan dan kehebatan
      dari pusaka ini. Dalam sayembara itu dikatakan bahwa tidak hanya
      pusaka tersebut yang akan dirawat oleh Beliau tetapi juga orang yang
      menemukannya / menyimpannya akan diboyong ke keraton untuk dijadikan
      abdi dalem keraton karena Beliau sendiri merasa tidak kuat untuk
      ketempatan pusaka tersebut akibat gawatnya daya dari pusaka tersebut.
      Tetapi nelayan yang mendapatkannya tidak datang bahkan dicari ke
      desanya tidak ketemu, menghilang bersama pusaka tersebut.
      Pusaka ini didapatkan oleh Bapak Parwoto ketika bersama-sama tentara
      Indonesia di jaman Jepang memasuki kantor tentara Jepang yang sudah
      ditinggalkan. Saat itu sebagaimana lazimnya masa peperangan semua
      besi-besi yang ada dirampas oleh tentara pendudukan dan dikumpulkan
      untuk keperluan perang dalam hal ini termasuk juga pusaka-pusaka. Di
      dalam kantor tentara Jepang itu ada banyak pusaka hasil rampasan
      tentara Jepang (salah satunya adalah Oumyang Majapahit) yang kemudian
      dibagi-bagi di antara tentara Indonesia. Bapak Parwoto mendapatkan
      pusaka Oumyang Majapahit tanpa mengetahui pusaka apa itu sebenarnya
      (tidak memilih secara sengaja). Pusaka Oumyang Majapahit ini baru
      dikenali ketika akan diberi warangka, dibawa ke toko pembuat warangka
      dan dikenali oleh pemilik toko tersebut.

      Pusaka Sabdo Palon (SP).
      Sabdo = Sabda, ucapan.
      Palon = Panutaning Ngaurip = Tuntunan Hidup.
      Sabdo Palon = Sabdo Panutaning Ngaurip.
      Noyo = Wajah.
      Genggong = Langgeng.
      Noyo Genggong = Langgeng Sifate.
      Sabdo Palon Noyo Genggong = Sabdo Panutaning Ngaurip Langgeng Sifate.
      = Tuntunan Hidup Yang Bersifat Langgeng.
      Yang dimaksud dengan Sabdo Palon Noyo Genggong adalah Ajaran-Ajaran
      Yang Tersirat Dalam Kitab Suci (Al Qur’an, Al Kitab dll).
      Dahulu Ajaran ini dikumpulkan berupa sebuah buku yang ditulis oleh
      Beliau Wali X.Yang datang bersamaan dengan datangnya pusaka SP : Anak-
      Anak Kecil Bersayap.
      Menurut buku keris, pamor pusaka SP adalah Pamor Ikar yang dayanya :
      1. Wong Siji Biso Katon Sepuluh (Orang 1 bisa terlihat ada 10).
      2. Biso Neka-ake Angin Prahoro (Bisa mendatangkan angin prahara).
      3. Biso Anjagani Negoro (Bisa menjaga negara).
      4. Sosok Kendit Mimang : Wong Sing Nduwe Karep Olo Bakal Bingung
      (Bagaikan Kendit Mimang / Akar Mimang) : Orang yang berniat jahat
      akan bingung sendi-ri).
      Pusaka SP mengolah pada Cahaya Cinta Kasih, syaratnya orang harus
      mati nafsu da-gingnya (Kristus menebus dosa manusia dengan darahnya).
      Lambang Isinya : Dia datang tanpa diduga, dia pergi tanpa diketahui
      (Aku datang bagaikan pencuri dalam kelengahanmu).
      Surat yang ditunjuk :
      1. Surat Al Qiyamah (Kebangkitan). –> Alif.
      2. Surat Al Furqan (Pembeda). –> Lam.
      3. Surat Al Fajr (Terbit Fajar). –> Mim.
      Menurut buku keris, bila SP dihunus : Bakal Nekano Angin Prohoro,
      Wong-wong Sing Nang Duwur Sing Ora Bener Bakal Tibo (Akan
      mendatangkan Angin Prahara (Adz Dzaariyaat), orang-orang yang di atas
      (para pemimpin) yang tidak benar akan berjatuhan).
      Daya pusaka ini :
      1. Bisa memisahkan yang bathil dan yang benar.
      2. Bisa melepaskan orang dan yang bersifat bathil dari kegelapan
      supaya menda-pat terang.
      3. Wus Biso Wulang Wuruk (Bisa mengajar / memberi keterangan
      tentang hal-hal yang Wingit (tentang gaib)).

      Pemegang pusaka SP mempunyai daya :
      – Bagaikan Kendit Mimang (Akar Mimang) : Orang yang berniat jahat
      akan bingung sendiri (terkena daya Surat Al Furqon).
      Akar Mimang adalah akar yang melingkar-lingkar, bisa untuk
      menangkal daya negatif.
      – Daya Salib Penyembuhan (Karunia Rohul Kudus Kuasa Menyembuhkan).

      Pusaka ini mendatangkan cobaan dan ujian hidup yang berat (Aku akan
      datang sebagai manusia. Jika Tuhan hidup mendekat kepada anda, maka
      bukan kebahagiaan dan kemuliaan yang datang tetapi justru cobaan dan
      ujian yang berat ).
      Walaupun cobaan dan ujian dari pusaka SP berat tetapi pusaka ini
      mendatangkan Keadilan dan untuk menyelesaikan suatu persoalan
      (menggaris bawahi sampai disini saja).
      Pusaka ini tidak mau diberi emas, cukup Kayu Tumongo / Timoho (Aku
      tidak butuh emas, kalau sampai pusaka ini minta diberi selongsong
      emas maka habislah orang-orang kaya yang mendapatkan kekayaannya
      dengan tidak sah).
      Kalau pusaka ini dipaksa masuk ke selongsong emas maka pusaka ini
      akan keluar / naik dari warangkanya.
      Umumnya Kayu Cendana, paling bagus di Kayu Gaharu tetapi berbahaya
      untuk orang lain, cukup pegangan dan pendoknya saja, dayanya bagus.

      Riwayat dari pusaka Sabdo Palon :
      Tahun 1960 ada orang tua datang ke Pak Atmo menitipkan pusaka ini
      dengan pesan bahwa isi dari pusaka ini ada di Jakarta / di Pak
      Parwoto (Isinya datang) dan orangnya akan datang mengambil, lalu
      orang tua itu pergi, dicari tidak ketemu (seperti menghilang).
      Pusaka ini mendatangkan cobaan dan ujian hidup yang berat.
      Tahun1967 ada cobaan dipundutnya putri kesayangan Beliau.
      Tahun 1968 ada cobaan berat harta benda.
      Tahun 1969 pusaka diambil oleh Pak Parwoto (Wadahnya dijemput).
      Yang datang bersamaan dengan datangnya pusaka SP : Anak-Anak Kecil
      Bersayap.
      Tahun 1970 pada Malam Natal turun Cahaya Allah yang gambarannya
      berupa Bunda Maria dan Yesus.
      Pengertiannya adalah Bunda Maria = Wadah Suci & Yesus = Roh Kudus =
      Roh Suci, berarti yang diterima Pak Parwoto hakekatnya adalah :
      Sucikan wadah (badan) karena Roh Kudus akan masuk (akan memakai
      wadah), dengan kata lain akan diolah untuk menerima Karunia Roh Kudus.
      Berarti harus memelihara badan supaya selalu dalam kondisi siap
      dipakai Tuhan sebagai wadah dengan cara :
      – Merendahkan hati.
      – Memelihara diri dari nafsu darah.
      Tahun 2000 pusaka ini dengan pusaka Oumyang Majapahit keduanya
      bersatu aktif dalam kenegaraan (bergerak minta diudarakan).

    • wonganehi mengatakan:

      setuju sekali denga moskow

  135. pak gendoed mengatakan:

    cerita dialog Religius antara Sabdo palon noyo genggong & Raja Mojopahit sangat pas buat saya,bagi orang Islam yg berpaham hakekat tentu paham makna dari apa yg dikatakan Sabdo palon noyo genggong.
    semuanya yg hidup akan kembali kepada yg SHUWUNG yg meliputi alam SEMESTA.

  136. Galih Surodikromo mengatakan:

    mana yg benar, Waalohu allam bisshoab,,,

  137. WELGEDUWEL mengatakan:

    waduh pagelaran wayang,e dilanjut donk…????dari semua koment sudah ketahuan mana yg berpikiran luas,mana yg berpikiran dangkal,mana yg membaca dengan hati dan mana yg membaca dengan mata.

    *PEACE ALL#

  138. alfaqir mengatakan:

    agama bukan untuk diperdebatkan…

    rahayu…

  139. Nur Kholish Muria alias Kyai Jarkoni mengatakan:

    Serat Darmo Gandul menurut saya adalah “Serat Iblis”. Mengapa?
    Pertama : Sang Penulis tidak berani terus terang menyebutkan jati dirinya (nama asli).
    Kedua : Dalam ceritanya ia sangat2 tidak mencerminkan seorang pujangga jawa yg arif, melainkan seorang antek2 Belanda yg menyuruh ia menulis cerita pada masa kolonial Belanda (penajahan), seolah seperti serat yg di tulis pada masa runtuhnya Majapahit dg mengambing hitamkan para Wali dan Agama Islam, lalu ia mengangkat lebih… agama cecodot nangka (Belanda).

  140. Ngajito mengatakan:

    menambah pengatahuan dan trimakasih saya ucapkan.

  141. anjrit mengatakan:

    when you squeeze and orange you get orange juice because that’s what’s inside. the very same principle is true about you. when someone squeezes you, puts presure on you, what comes out is what’s inside. and if you don’t like what’s comes out from inside you, change it by changing your thoughts

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s