“Wahai orang-orang yang beriman,
masuklah kamu semuanya kedalam Islam secara kaffah,
dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah syaithan.
Sesungguhnya dia itu musuh yang nyata bagimu.”
( Qs. al-Baqarah 2:208 )

Sunan Kalijaga diperkirakan lahir pada tahun 1450 dengan nama Raden Said. Dia adalah putra adipati tuban bernama tumenggung Wilatikta. Semasa kecil beliau suka dimarahi oleh orang tuanya hingga pada suatu ketika beliau diusir dari rumahnya. Setelah diusir Raden Said menjadi seorang perampok, preman, maling dll yang sangat meresahkan warga sekitar beliau berada.

Pada suatu ketika Raden Said merampas tongkat milik Sunan Bonang, akan tetapi Raden Said tersadar akan perbuatan buruknya tersebut dan akhirnya memutuskan untuk menjadi murid Sunan Bonang. Sunan Bonang bersedia menjadi guru dengan syarat Raden Said mau menjaga tongkatnya yang ditancapkan di pinggir sungai. Keseriusan Raden Said dengan menjaga tongkat dalam waktu lama itulah akhirnya Sunan Bonang mengangkatnya sebagai murid dan tidak lama setelah itu beliau diangkat menjadi wali dengan nama Sunan Kalijaga sesuai tirakatnya yang begitu lama menjaga tongkat di pinggir kali.

Kiprah Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama islam cukup baik dengan strategi-strategi melalui pendekatan kesenian dan kebudayaan, sehingga banyak yang bersedia memeluk agama islam. Salah satunya yaitu Prabu Brawijaya yang berhasil dibujuk untuk masuk agama islam setelah kerajaan Sriwijaya berhasil direbut anaknya Raden Patah. Namun bila mencermati tata cara yang digunakan Sunan Kalijaga untuk mengislamkan Prabu Brawijaya sepertinya ada suatu ketidakberesan terjadi dalam proses pengislaman tersebut. Berikut akan saya sampaikan letak ketidakberesan pengislaman Prabu Brawijaya melalui cuplikan dialog antara Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon dalam Serat Darmogandul.

Sunan Kalijaga berkata “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”
Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “
Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat, asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “
Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.
Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong,
“Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha.”

Dalam cuplikan serat tersebut menggambarkan proses pengislaman yang dilakukan Sunan Kalijaga terhadap Prabu Brawijaya. Pada mulanya Sunan Kalijaga membimbing Prabu untuk mengucapkan Syahadat, kemudian dilanjutkan dengan memotong rambut meskipun sebelumnya rambut Brawijaya tidak mempan untuk dipotong. Sesudah dipotong rambutnya kemudian Prabu Brawijaya langsung bicara kepada Sabdo Palon bahwa dirinya telah memeluk agama islam.

Coba diperhatikan, Prabu Brawijaya baru melakukan 2 tahapan saja yaitu mengucapkan syahadat dan potong rambut sudah menyatakan dirinya telah memeluk agama islam. Padahal tata cara untuk masuk agama islam bagi yang sebelumnya beragama lain maupun belum beragama ada 3 hal yang harus dilakukan yaitu mengucapkan syahadat, kemudian dipotong sedikit rambut kepala dan terakhir mandi basah seluruh tubuh.

Silahkan anda baca lagi serat darmogandul pada bagian dialog Sunan Kalijaga dengan Prabu Brawijaya dan Sabdo Palon, dalam serat tersebut Prabu Brawijaya belum melakukan tahap ketiga dari 3 tahap tata cara masuk agama islam yaitu mandi. Dengan demikian keislaman Prabu Brawijaya menurut saya belum syah. Brawijaya hanya memeluk islam pada mulut dan rambut saja, selain kedua anggota tubuh tersebut belum bisa dikatakan islam.

Apabila ditelaah dari 3 tata cara masuk islam dapatlah dipahami bahwa ketiga hal tersebut sangatlah penting untuk dilaksanakan dan jangan sampai ditinggalkan.
Pertama mengucapkan syahadat, selain sebagai rukun islam ucapan tersebut merupakan persaksian manusia akan keTuhanan Allah SWT dan keRasulan Muhammad SAW. Sehingga secara otomatis meniadakan semua Tuhan selain Allah SWT dan otomatis menjadi umat Nabi Muhammad SAW. Tahap ini dilakukan Sunan Kalijaga terhadap Brawijaya sebagai wujud beralihnya keyakinan Prabu Brawijaya dari Buddha ke Islam.

Kemudian kedua memotong sedikit rambut kepala juga sangat diperlukan mengingat seluruh pori-pori tubuh manusia bisa ditumbuhi rambut. Untuk itulah sebagai simbol pembersihan maka dipotonglah sedikit rambut pada rambut kepala. Apabila mau dipotong banyak rambutnya, tentunya akan lebih baik lagi karena dapat merubah penampilan. Tahap ini dilakukan Sunan Kalijaga terhadap Brawijaya mungkin mencontoh Nabi SAW dalam proses aqiqah pada bayi yang dilahirkan.

Selanjutnya yang ketiga mandi basah seluruh tubuh, mandi tersebut sangatlah penting sebagai simbol pembersihan diri sehingga setelah membersihkan diri dengan mandi tentunya yang bersangkutan telah siap untuk hal-hal yang baru. Sekarang coba bandingkan, mau ke sekolah, atau mau kuliah ato mau masuk kerja saja orang pada mandi setiap harinya bahkan keramas pakai sampo juga, apalagi mau memasuki hal baru dan benar-benar baru masih enggan juga untuk mandi kan tidak sebanding. Tahap ini tidak dilakukan Sunan Kalijaga terhadap Brawijaya padahal ada hadis yang menjelaskan perintah tersebut, yaitu :

Qois bin A’shim r.a. mengatakan : “Saya mendatangi Nabi shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam untuk masuk Islam maka Nabi memerintahkan kepadaku untuk mandi dengan air dan daun bidara”. (HR. Ahmad 5/61, Abu Daud no. 355, An-Nasa`i 1/91, At-Tirmidzy no. 605 dan dishohihkan oleh Al-Albany dalam Shohih At-Tirmidzy 1/187).

Dengan pentingnya 3 tata cara untuk memeluk agama islam tersebut, maka dapat dikatakan belum syah jika yang dilakukan hanya 2 tahap saja bahkan 1 tahap saja, khususnya apabila tahap pertama yang ditinggalkan nyata-nyata tidak syah keislaman seseorang. Silahkan anda datang ke masjid-masjid yang tersebar di muka bumi ini dan menanyakan apa yang harus dilakukan apabila ada seseorang yang akan memeluk agama islam. Banyak yang hanya menggunakan tahap pertama saja, namun juga tidak sedikit yang menggunakan tahap ke 3 di atas sebagai proses pengislamannya.

Setelah mencermati tata cara yang dilakukan Sunana Kalijaga dalam mengislamkan Prabu Brawijaya seperti yang dikisahkan dalam Serat Darmogandul di atas, maka dapat dilihat adanya 4 kemungkinan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Keempat kemungkinan tersebut yaitu :
1. Kenakalan Sunan Kalijaga dengan keberaniannya hanya menggunakan 2 tahap saja.
2. Keyakinan Sunan Kalijaga sendiri bahwa mengislamkan orang cukup dengan 2 tahap saja.
3. Sunan Kalijaga memang belum lulus dalam menempuh pendidikan.
4. Tahap ketiga pengislaman yaitu mandi memang tidak diajarkan kepada Sunan Kalijaga.

Pertama Kenakalan Sunan Kalijaga dengan keberaniannya hanya menggunakan 2 tahap saja.
Ingatlah masa muda Sunan Kalijaga adalah seorang perampok, maling, preman dll. Kemungkinan hal ini bisa terjadi dikarenakan jiwa nakal tersebut masih tersimpan dalam dirinya dan belum sepenuhnya hilang sehingga Sunan Kalijaga tidak peduli aturan dan berani mengislamkan orang banyak hanya dengan 2 tahap saja bahkan mungkin hanya dengan 1 tahap saja yaitu syahadat.

Kedua Keyakinan Sunan Kalijaga sendiri bahwa mengislamkan orang cukup dengan 2 tahap saja.
Bisa jadi Sunan Kalijaga memiliki keyakinan tersendiri mengenai tata cara pengislaman. Pengetahuan dan penalaran Sunan Kalijaga telah membawanya kepada sebuah keyakinan yang berbeda dengan para Sunan lainnya yaitu untuk mengisalamkan seseorang cukuplah dengan 2 tahap saja ataupun 1 tahap saja, dan membiarkan tahapan yang lainnya.

Ketiga Sunan Kalijaga memang belum lulus dalam menempuh pendidikan.
Proses menjadi sunan sepertinya tidak semudah membalikkan tangan, perlu pembelajaran yang tidak cepat pula, namun bisa saja Sunan Kalijaga tidak sabar dalam menjalani proses tersebut. Ditengah berlangsungnya pembelajaran beliau sudah beraksi mengislamkan banyak orang. Sehingga wajar saja bila hanya digunakan 2 tahap dalam mengislamkan orang, bisa jadi tahap ketiga memang belum diperoleh Sunan Kalijaga dalam menempuh pendidikan.

Keempat Tahap ketiga yaitu mandi memang tidak diajarkan gurunya kepada Sunan Kalijaga.
Sepertinya tidak mungkin tahap ketiga pengisalaman tidak diajarkan gurunya kepada Sunan Kalijaga karena begitu pentingnya tahapan tersebut. Tapi kenyataannya hanya 2 tahap saja yang dilakukan Sunan Kalijaga dalam mengislamkan Prabu Brawijaya. Sehingga memungkinkan sekali hal ini bisa terjadi pada Sunan Bonang dan Wali lainnya yang memang tidak mengajarkan hal tersebut kepadanya.

Apabila memang benar tahap ketiga pengislaman yaitu melakukan mandi tidak diajarkan kepada Sunan Kalijaga berarti letak kesalahannya ada pada Sunan Bonang dan Wali lainnya sebagai guru Sunan Kalijaga. Lantas mengapa hal tersebut tidak diajarkan? Dugaan sementara para wali juga hanya memiliki pengetahuan mengenai tata cara pengislaman tersebut sebatas 2 tahap saja dan tidak memiliki pengetahuan mengenai tahap yang ketiga pengislaman yaitu mandi. Maklumlah karena teknologi pada saat itu tidak semudah saat ini yang segala informasi dapat diperoleh dengan cepat. Toko buku belum ada, kaset ato vcd/dvd juga belum ada, koran-koran majalah juga belum ada dan memang banyak yang belum ada pada saat itu dibanding pada saat ini.

Prasangka akan terbatasnya pengetahuan para wali 9 tentang tata cara pengislaman seseorang memunculkan sebuah pertanyaan baru, benarkah seluruh wali 9 mengislamkan orang-orang di nusantara hanya dengan menggunakan 2 tahap saja tanpa menggunakan tahapan ketiga yaitu mandi basah seluruh tubuh ?

Seandainya………. sekali lagi seandainya hal itu benar-benar terjadi maka nenek moyang kita di seantero luasnya nusantara yang telah beralih agama dan memeluk agama islam semuanya bisa dikatakan belum syah keislamannya. Seluruh nenek moyang kita senusantara kesemuanya hanya islam pada mulut dan rambutnya saja, sementara organ tubuh lainnya masih belum islam sehingga wajar saja bila tingkat keislaman orang-orang indonesia masih rendah dan lebih tinggi pada keduniawiannya.

Mencermati fenomena yang terjadi dan melanda para wali 9 maka sebenarnya mereka tidak layak menjadi wali maupun sunan, Sunan Kalijaga tidak pantas disebut sunan maupun wali . Disebut aja tidak pantas apalagi menjadi sunan ato wali akan lebih tidak pantas lagi. Dipikir dan dipikir lagi coba, memang tidak sepantasnyalah gelar sunan maupun wali disandangkan kepada mereka. Alangkah baiknya gelar sunan ataupun wali tersebut dilepaskan saja dan sekarang mereka disebut sebagai tokoh 9 dan jangan disebut wali 9 (walisongo).

Sekali lagi Sunan Kalijaga tidak layak menjadi sunan ato wali, dan tidak layak juga 9 tokoh tersebut menjadi sunan atau wali. Untuk itu janganlah mereka disebut sunan atau wali, akan tetapi apabila anda tetap mau menyebutnya sunan ato wali ya terserah anda. saya cuma mengingatkan saja dan tidak memaksakan kehendak, itupun apabila anda mau diingatkan.

Kontrofersi, Senin 24 Maret 2008
Eddy Corret.

About these ads