Satrio Piningit Sejati
Mustahil menunggu Mukjizat
Sebaliknya dia pasti akan menjemput Mukjizat.

Indonesia saat ini telah mengalami kerusakan pada segala bidang. Untuk memperbaiki kerusakan tersebut cara-cara ilmiah sangat diperlukan, tetapi cara-cara non ilmiah juga diperlukan. Apabila cara ilmiah telah mengalami kegagalan dan kebuntuan dalam mengatasi suatu masalah maka jalur alternatif yang tidak ilmiah akan menjadi solusinya.

Ratu Adil yang kelak akan memperbaiki negri ini tentunya akan menggunakan segala cara baik yang ilmiah maupun yang tidak ilmiah. Joyoboyo menyebut bila Ratu Adil merupakan sosok yang sakti mandraguna. Kesaktian yang akan digunakan Ratu Adil dalam memperbaiki kerusakan negri ini, tentunya akan tidak masuk akal. Namun hal itu tidak akan menjadi masalah karena memang di negri ini banyak cerita ndak masuk akalnya.

Dari manakah Ratu Adil mendapatkan kesaktian? Apakah dengan bertapa? ataukah dengan berguru pada orang sakti? Ada yang mengatakan bila kesaktian tersebut diperoleh langsung dari Tuhan dalam bentuk Wahyu atau Mukjizat. Lantas apa yang dilakukan Satrio Piningit saat ini? Mungkinkah dia menganggur sedang menunggu wahyu? ataukah dia sedang bekerja keras untuk memperoleh wahyu? Beriktu beberapa hal mengenai hal tersebut.

1. Usaha manusia.
Manusia sejak dilahirkan hingga kematian dipenuhi dengan usaha-usaha dalam menjalani hidupnya. Pada mulanya bayi belajar tengkurap sendiri, lalu belajar merangkak sendiri, lalu belajar berdiri sendiri, lalu belajar berjalan sendiri. Semua itu dilakukan atas usaha sendiri dan orang tua hanya membimbing dan mengarahkannya.

Usaha manusia dalam kehidupan juga demikian. Tuhan tidak mensulap manusia jadi kaya atau miskin, jadi bekerja atau di PHK dan lain sebagainya. Apabila usaha manusia sungguh-sungguh maka dia akan memperoleh hasil yang setara dengan kesungguhannya. Sebaliknya apabila malas-malasan maka hasilnya pasti akan mengecewakan.

Mukjizat atau wahyu diperoleh juga dengan usaha yang sungguh-sungguh. Belum pernah terdengar hingga detik ini orang-orang yang mendapat mukjizat berlatar belakang pengangguran, hidupnya malas-malasan. Termasuk juga para Rosul Tuhan, mereka berusaha keras menjalani kehidupan hingga akhirnya diperoleh mukjizat.

Tidak ada cerita dari para Rosul Tuhan yang dia kerjanya tidur-tiduran, malas-malasan di rumah lalu turun mukjizat kepadanya. Apa ada yang pernah dengar hal tersebut? Kalo itu terjadi maka bisa diartikan Tuhan menjadi pelayan bagi manusia. Manusia tinggal enak-enakan sementara Tuhan bekerja membuatkan mukjizat untuk manusia. Justru sebaliknya, Tuhan yang menunggu hingga saatnya tepat maka mukjizat diberikan pada yang meminta kepada-Nya.

2. Contohnya takdir jodoh.
Sepertinya semua akan setuju bila jodoh merupakan takdir Tuhan. Setiap manusia telah ditentukan siapa jodohnya baik yang laki-laki maupun yang perempuan. Tetapi apa manusia pasrah begitu saja pada takdir Tuhan tersebut. Manusia diam saja di rumah, malas-malasan lalu jodoh datang sendiri. Jelas tidak mungkin hal itu akan terjadi.

Jodoh memang telah ditakdirkan Tuhan, tetapi kita sebagai manusia harus berusaha menemukan jodoh tersebut. Apabila usaha tidak membuahkan hasil berarti memang ditakdirkan belum waktunya, maka teruslah berusaha mencari jodoh hingga kelak Tuhan memutuskan telah sampai waktunya dan saat itulah kita bertemu dengan jodoh kita.

Mukjizat atau wahyu tidak ada bedanya dengan jodoh tersebut. Tuhan telah mentakdirkan manusia tertentu pilihan-Nya akan diberi mukjizat. Tetapi manusia sebagai pihak yang akan menerimanya harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan haknya. Apabila diam saja tanpa usaha maka sampai matipun mukjizat tidak akan datang.

3. Contoh lain yaitu Lailatul Qadar.
Di setiap bulan puasa ada peristiwa yang sudah kita kenal dengan nama Malam Seribu Bulan (Lailatul Qadar). Banyak yang pesimis untuk bisa mendapatkan Lailatul Qadar. Padahal Lailatul Qadar diberikan bagi siapa saja laki-laki maupun perempuan yang mencarinya. Lailatul Qadar bukan untuk manusia khusus pilihan Tuhan.

Mencari Lailatul Qadar hampir sama dengan mencari jodoh. Manusia harus berusaha sungguh-sungguh menjemput kehadirannya. Apabila menusia hanya pasrah (pesimis) sambil tidur-tiduran di rumah dan tidak ada usaha yang berarti, maka mustahil Lailatul Qadar akan didapatkan. Berusahalah sungguh-sungguh, apabila belum berhasil masih ada kesempatan selanjutnya.

Lailatul Qadar diperoleh dengan usaha, demikian juga mukjizat/wahyu dapat diperoleh dengan usaha juga. Lailatul Qadar yang setiap tahun sekali pasti datang tidaklah mungkin didapatkan tanpa usaha, apalagi mukjizat yang tidak akan ada setiap tahun bahkan hanya sekali seumur hidup, tentunya harus dengan usaha pula untuk mendapatkannya.

Sebagai manusia pilihan Tuhan, tentunya Satrio Piningit kelak akan mendapatkan mukjizat/wahyu dari Tuhan. Maka dipastikan saat ini dia tidak menganggur sambil malas-malasan dan tidur-tiduran di rumah menunggu datangnya mukjizat. Tetapi sebaliknya saat ini dia dipastikan sedang beusaha keras dalam menjalani hidupnya sehingga dari usahnya tersebut kelak Tuhan akan memberikannya mukjizat.

4. Wahyu mengikuti pikiran dan sesuai zaman.
Semua telah sepakat bila Mukjizat diturunkan langsung dari Tuhan. Tuhan memberikan Mukjizat kepada manusia pilihan-Nya. Oleh karena pemberian Tuhan maka banyak yang berfikir bila Mukjizat tersebut cetakan Tuhan. Tuhan membentuk sedemikian rupa kemudian diberikan kepada manusia.

Apabila demikian bisa diartikan bahwa Tuhan bekerja untuk manusia. Jelas tidak mungkin, yang terjadi sebaliknya manusialah yang hidup menjadi hamba Tuhan. Manusia harus berusaha sedemikian rupa dan kelak Tuhan akan memutuskan hasilnya.

Oleh karena Tuhan tidak mencetak Mukjizat untuk manusia tetapi manusia sendiri yang harus berusaha memperolehnya, maka Mukjizat tersebut mengikuti pikiran manusia. Manusia berusaha keras mendapatkan kekuatan dengan segala cara, rencana, angan-angan, cita-cita dan lain-lain selanjutnya diperoleh Mukjizat dari Tuhan sehingga terwujudlah impiannya.

Mukjizat yang diperoleh tentunya akan dapat mewujudkan cita-cita si penerima. Karena Mukjizat tersebut mengikuti pikiran si penerima, maka antara Rosul satu dengan yang lainnya berbeda-beda Mukjizatnya tidak ada yang sama.

Coba anda pikirkan seandainya Mukjizat bisa menghidupkan orang mati diberikan kepada Adam as. Kira-kira apa yang akan dilakukan Adam? demikian juga Mukjizat nabi Daud yaitu dapat membuat baju perang dengan tangannya sendiri diberikan Tuhan pada Adam, kira-kira apa yang terjadi. Yang terjadi Mukjizat tersebut tidak akan terpakai dan sia-sia diberikan.

Untuk itulah maka Mukjizat disesuaikan dengan zaman sekaligus disesuaikan dengan pikiran si penerima. Sehingga Mukjizat akan sangat bermanfaat selain untuk si penerima juga bermanfaat untuk orang lain dan tidak akan sia-sia diturunkan Tuhan.

5. Wahyu disesuaikan dengan musuh yang dihadapi.
Selain Mukjizat disesuaikan dengan zaman dan pikiran manusia, Mukjizat diturunkan Tuhan disesuaikan dengan musuh atau kejahatan yang dihadapi si penerima. Dengan demikian ada keseimbangan kekuatan antara kejahatan dengan pihak yang menumpas kejahatan tersebut.

Contoh paling nampak yaitu kehadiran Dajjal dengan kemampuannya dapat menghidupkan orang mati. Maka manusia yang menghadapinya merupakan orang yang mendapat Mukjizat bisa menghidupkan orang mati pula. Dengan demikian kedua pihak sama-sama memiliki kekuatan yang sejenis.

Coba seandainya saja Mukjizat bisa menghidupkan orang mati diberikan kepada Nabi Adam as.Wow bisa anda bayangkan sendiri apa yang akan terjadi. Di satu sisi orang tidak ada yang dikubur, di sisi lain kelihatan salah tempat dan cenderung sia-sia saja Mukjizat tersebut diberikan.

Demikianlah Mukjizat diberikan Tuhan sesuai dengan musuh dan kejahatan yang terjadi serta dihadapi si penerima pada suatu zaman tertentu. Oleh karena harus menyesuaikan dengan zaman dan bentuk kejahatannya, maka Mukjizat para Rosul berbeda-beda dan tidak akan sama antara satu dengan yang lainnya.

6. Persamaan Wahyu dengan kesaktian.
Mukjizat/wahyu sebenarnya memiliki persamaan dengan kesaktian biasa. Pertama, orang yang sakti maupun orang yang mendapatkan mukjizat sama-sama memiliki pantangan atau hal-hal yang harus dihindari. Pantangan tersebut dapat berupa makanan maupun perkataan dan perbuatan. Pantangan tersebut wajib dihindari dan tidak boleh dilakukan, apabila dilanggar maka kekuatan yang dimilikinya bisa berkurang bahkan juga bisa hilang.

Kedua, baik Mukjizat maupun kesaktian dapat berwujud kebendaan. Contohnya seperti tongkat milik Nabi Musa as, tongkat tersebut dapat berubah menjadi ular bahkan dapat untuk membelah lautan. Sebenarnya letak kekuatan bukanlah pada benda/barang yang digunakan tetapi energi dalam benda itulah yang berfungsi sebagai kekuatan. Dengan kata lain benda tersebut hanya dijadikan sarana untuk mengeluarkan kekuatan yang dimilikinya.

Ketiga, baik Mukjizat maupun kesaktian diperoleh bukan sebagian-sebagian, artinya kedua-duanya diperoleh dalam satu paket. Satu paket disini maksudnya apabila sebuah kekuatan diperoleh, maka kekuatan pendukungnya juga akan diperoleh. Contohnya ilmu terbang, orang yang mendapatkan kekuatan tersebut dipastikan juga dapat kekuatan lainnya seperti melayang di udara, meringankan tubuh dan sebagainya.

Keempat, Mukjizat dan kesaktian sama-sama diperoleh dengan jalan usaha. Usaha tersebut bisa dalam bentuk yang bermacam-macam seperti puasa, olah batin, olah fisik, meditasi, semedi, bertapa dan sebagainya. Tanpa usaha untuk mendapatkannya maka tidak akan diperoleh hasilnya. dengan usaha sungguh-sungguh dan disiplin maka segala usaha akan ada hasilnya. Contoh Nabi SAW sebelum mendapat wahyu beliau bertahun-tahun berada di Gua Hiro hingga akhirnya wahyu diturunkan kepadanya.

Kelima, Mukjizat dan kesaktian sama-sama harus dilatih atau digunakan. Namanya ilmu pengetahuan atau ilmu kesaktian haruslah selalu dilatih sesering mungkin. Hal ini untuk menjaga agar ilmu tersebut tidak akan hilang bahkan lupa menggunakannya. Dengan selalu dilatih dan digunakan maka akan selalu terjaga dengan baik apalagi digunakan untuk hal yang bermanfaat bagi sesama maka akan lebih baik lagi.

7. Perbedaan Wahyu dengan kesaktian.
Mukjizat dengan kesaktian selain memiliki persamaa juga memiliki perbedaan. Pertama dari hasil mencarinya, baik Mukjizat maupun kesaktian boleh jadi diperoleh dengan cara-cara yang sama seperti puasa dll tetapi hasil yang diperoleh berbeda. Apabila kesaktian dapat diperoleh dari kekuatan-kekuatan yang ada di Alam Semesta, namun untuk Mukjizat hanya diperoleh dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kedua, Kesaktian yang dimiliki sesorang dapat diajarkan, ditularkan dan diturunkan kepada orang lain. Tetapi untuk Mukjizat tidak bisa diturunkan dan diberikan ke orang lain. Seandainya orang yang mendapat mukjizat meninggal dunia, maka mukjizat tersebut akan kembali kepada Tuhan yang telah memberikannya dahulu. Untuk orang sakti apabila meninggal, maka ilmu kesaktiannya dapat diberikan atau diturunkan ke orang lain sebelum meninggal.

Ketiga, kesaktian dapat diperoleh apabila yang mencarinya telah dewasa, artinya usia akan sangat mempengaruhi berhasil tidaknya kesaktian diperoleh. Apabila masih kecil tentunya akan kesulitan untuk mendapatkannya. Tetapi tidak untuk Mukjizat, Tuhan tidak mengukur usia manusia yang diberi-Nya Mukjizat, apakah masih remaja, atau sudah tua bahkan masih bayi sekalipun. Contohnya Nabi Isa as ketika bayi dia sudah dapat bicara yang itu mustahil bagi bayi normalnya.

Keempat, Kesaktian apapun itu bentuknya dan bagaimanapun cara mendapatkannya bisa jadi merupakan ilmu hitam karena tidak selamanya kesaktian itu ilmu putih. Sementara Mukjizat dipastikan bukan merupakan ilmu hitam karena mukjizat diturunkan langsung dari Tuhan jadi unsur kekuatannya adalah cahaya. Sehingga wahyu tidak dapat digunakan untuk kejahatan tetapi sebaliknya justru dapat digunakan untuk menumpas kejahatan.

Kelima, Orang yang memiliki kesaktian cenderung digunakan secara pribadi, diam-diam dan hanya untuk kepentingan sendiri. Seandainya digunakan untuk kepentingan orang lain biasanya akan dibatasi. Sedangkan Mukjizat diturunkan Tuhan untuk orang-orang yang berlatar belakang memiliki kepentingan untuk orang banyak/umat. Sehingga orang yang mendapat mukjizat akan menggunakan untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama atau bisa juga untuk menumpas kejahatan.

Mukjizat/Wahyu vs Kesaktian
Mukjizat/Wahyu Kesaktian
Persamaan 1. Memiliki Pantangan Memiliki Pantangan
2. Dapat berwujud benda Dapat berwujud benda
3. Dalam satu Paket Dalam satu Paket
4. Dengan usaha Dengan usaha
5. Harus dilatih Harus dilatih
Perbedaan 1. Dari Tuhan Dari Alam
2. Tidak bisa diturunkan Bisa diturunkan
3. Tidak kenal usia Harus sudah berumur
4. Unsurnya Cahaya Ilmu Hitam/ Ilmu Putih
5. Untuk Umat Pribadi

Beberapa point mengenai Mukjizat atau Wahyu di atas dapat dijadikan tolok ukur bahwa saat ini Satrio Piningit tidak sedang menganggur, suka melamun dan berhayal, malas-malasan, kerjanya tiduran dirumah dan sebagainya menunggu datangnya Mukjizat dari Tuhan. Dipastikan saat ini dia sedang beraktifitas mungkin olah batin dan olah fisik yang dengan aktifitasnya tersebut kelak nantinya Tuhan akan menurunkan Wahyu kepadanya.

Pengertian tersebut sangatlah penting karena banyak sekali pihak-pihak yang meyakini bila Satrio Piningit sedang menunggu Wahyu/Mukjizat tanpa usaha yang berarti. Kalo tanpa usah kok diberi Mukjizat artinya saat ini Tuhan sedang sibuk membuatkan Wahyu tersebut yang cocok buat Satrio Piningit. Jelas tidak mungkin Tuhan menjadi sibuk sementara manusia ciptaannya yang bermalasan.

Belum diketahui olah batin dan olah fisik apa yang sedang dilakukan Satrio Piningit sejati. Tidak ada pihak yang bisa mendapatkan informasi yang terpercaya mengenai hal tersebut. Namun yang pasti banyak pihak meyakini kelak Satrio Piningit akan diberi Mukjizat oleh Tuhan Sang Pencipta yang dengan Mukjizat tersebut dia dapat mengembalikan kemakmuran Indonesia. Sebaiknya ditunggu saja bila Mukjizat telah turun maka dia akan muncul juga di tengah-tengah kita.

Kontrofersi, Senin 28 Juli 2008
Eddy Corret.

About these ads