Si anak dewa
Seperti manusia yang menggoda

Jongko Joyoboyo 161.

Anak dewa sebagaimana kita ketahui adalah manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan kita-kita ini sebagai manusia ciptaan Tuhan. Letak yang membedakan antara kita dengan dirinya adalah wahyu yang diberikan Tuhan kepadanya. Sekuat apapun sesakti apapun manusia dengan kesaktian dan kekuatannya tidak akan dapat melebihi kesaktian yang diturunkan Tuhan kepadanya.

Orang akan memiliki fersi sendiri-sendiri ketika ditanya mengenai anak dewa. Dalam hal ini anak dewa yang dimaksud adalah si Satrio Piningit sejati calon Ratu Adil sejati dan bukan yang lainnya. Orang bisa saja melihat sisi-sisi tentang dirinya apakah dari segi spiritualnya, kesaktiannya, kerja kerasnya, keluarganya dan lain-lainnya sesuai arah pemikiran dan perasaan masing-masing. Akan tetapi karena si anak dewa belum muncul maka membicarakan dirinya hanya bisa dari sumber naskah-naskah leluhur saja.

Dari naskah leluhur juga sama, ada point mengenai kesaktiannya, mengenai keluarganya, mengenai kerja kerasnya dan lain-lain tentang diri anak dewa. Kita akan segera mengetahui apakah yang dibicarakan dalam naskah sesuai dengan kenyataan diri si anak dewa ataukah tidak. Namun prasangka baik bahwa leluhur menyampaikan apa adanya mengenai anak dewa dan tidak dibuat-buat untuk mengecewakan rakyat Indonesia. Berikut beberapa sisi lain dari anak dewa :

1. Seperti manusia menggoda.
Joyoboyo dalam bait 161 menyebut anak dewa “seperti manusia yang menggoda”. Ntah apa maksud Joyoboyo dibalik kalimat tersebut. Mungkinkah mengandung pengertian yang negatif atau sebaliknya mengandung pengertian yang positif tentang anak dewa. Kata menggoda merupakan perbuatan yang dilakukan berhubungan dengan orang lain yang sifatnya mengusik perhatian. Tetapi tidak selamanya sifat mengusik perhatian orang tidak baik bagi yang bersangkutan.

Apabila menggoda yang dimaksudkan Joyoboyo terkait dengan hubungan lawan jenis dalam hal cinta, maka anak dewa bisa dikategorikan sebagai orang yang mudah jatuh hati pada setiap wanita. Bila dugaan ini benar berarti dia punya banyak pacar atau juga berarti dia suka berganti-ganti pacar. Kalo hal ini yang sebenarnya terjadi maka anak dewa dikategorikan sebagai tipe pemuda pecinta wanita.

Menggoda yang dimaksudkan Joyoboyo masih bisa ditafsirkan lain yaitu menggoda orang apa itu laki-laki atau wanita tanpa batas umur tetapi tidak ada hubungannya dengan cinta. Dugaan ini terkait dengan bait 169 yang berbunyi “senang menggoda dan meminta secara nista, ketahuilah bahwa itu hanya ujian jangan dihina, ada keuntungan bagi yang dihina artinya dilindungi anda sekeluarga”.

Kalimat pada bait 169 mengindikasikan bila si anak dewa suka menggoda orang lain hanya untuk menguji saja. Tentunya apabila dirasa sudah cukup mengujinya maka akan ada sesuatu hal yang dilakukannya terhadap orang yang diuji. Bisa jadi pemberian bantuan ataupun hal-hal lain yang sangat bermanfaat bagi pihak yang digoda.

Dari pengertian menggoda di atas membawa arah pikir kita akan anak dewa bahwa dia bukanlah sosok manusia dengan tipe suka menggoda yang sifatnya negatif. Akan tetapi sebaliknya menggoda yang dilakukannya sifatnya positif bagi orang lain, juga bagi rakyat Indonesia yang saat ini sedang dalam penderitaan diterpa berbagai bencana.

2. Sakti tanpa azimat.
Orang sakti adalah orang yang memiliki kekuatan pertahanan dan serangan supranantural baik yang diperoleh dengan bantuan guru maupun berlatih sendiri. Kesaktian yang dimiliki orang biasanya tidak masuk akal dan mustahil terjadi pada manusia normalnya. Contohnya bisa terbang atau melayang di udara. Sejak Adam hingga kiamat manusia tidak mungkin bisa terbang tetapi dengan kesaktian hal itu akan terjadi.

Kesaktian itu bisa digunakan orang melalui 2 cara yaitu pertama dengan kekuatan dalam dirinya dan kedua dengan kekuatan dari luar dirinya. Untuk yang dari dalam dirinya bisa berbentuk tenaga dalam, ilmu putih atau hitam, energi statis dan sebagainya dengan menggunakan teknik khusus untuk memfungsikannya. Sementara yang dari luar diri bisa berbentuk energi dari jin, malaikat, senjata, mantra, ajimat, pusaka dan sebagainya yang bekerja ketika ada kemauan pemiliknya untuk memfungsikannya.

Di Indonesia banyak orang sakti pada zaman dahulu kala. Sejarah mencatat banyak nama seperti Walisongo, Prabu Brawijaya, Prabu Joyoboyo, Ki Ageng Pemanahan, Gajah Mada dan masih segudang nama orang sakti pernah hidup di Nusantara. Kesaktian yang mereka miliki berfareasi, ada yang dengan wahyu, ada yang dengan pusaka, azimat, atau bantuan jin dan sebagainya. Ada juga yang kesaktiannya memadukan antara kekuatan dari dalam dan luar dirinya.

Untuk anak dewa, kesaktian yang dimilikinya merupakan kesaktian yang tersimpan di dalam dirinya berbentuk wahyu/mukjizat yang diturunkan Tuhan kepadanya. Oleh karena kesaktian anak dewa berasal dari wahyu maka tidak salah kalo Joyoboyo dalam bait 162 menyebut anak dewa “sakti tanpa azimat”. Jelas tidak mungkin dia menggunakan azimat mengingat kekuatan dari wahyu berlipat-lipat lebih tinggi dari azimat.

3. Gelar pangeran perang.
Gelar pangeran merupakan sebuah gelar yang layak diberikan kepada seorang keturunan raja atau anak raja. Indonesia sebelum menjadi sebuah negara pada zaman dulu terdiri atas kerajaan-kerajaan tersebar di Nusantara. Banyak sekali keturunan raja-raja yang hidup saat ini dan dapat dilacak silsilahnya. Salah satunya adalah anak dewa yang konon merupakan keturunan Brawijaya raja Majapahit.

Sebagai keturunan raja di Nusantara yang kelak akan menjadi Ratu Adil maka anak dewa sangat cocok mendapat gelar pangeran. Hal ini didukung oleh usianya yang masih muda diperkirakan berada di bawah usia 40 tahun. Sebagai seorang keturunan raja yang bergelar pangeran maka dia memiliki kesempatan besar untuk menjadi raja yang kelak memimpin Nusantara. Akan tetapi diduga dia tidak akan mau menjadi presiden sehingga sebutan yang cocok adalah Ratu Adil dan bukan Raja Adil.

Keanehan terjadi, biasanya seorang pangeran dipersiapkan sedemikian rupa agar berhasil menduduki tahta kerajaan. Akan tetapi anak dewa tidak demikian, Joyoboyo dalam bait 163 menyebutnya “bergelar pangeran perang”. Pengertian kita dengan kalimat itu adalah bahwa anak dewa kerjanya hanya perang saja. Dia tidak memikirkan tentang tahta kerajaan yang seharusnya didudukinya. Mengapa bisa demikian ?

Hal ini terkait dengan kondisi Indonesia saat ini yang masih dirusak dan dijajah bangsa lain. Diperkirakan anak dewa akan menyerang negara mana saja yang telah menjajah Indonesia. Terkait dengan bait 162 dan 173 “menyerang tanpa pasukan”. Artinya dia kerjanya perang mulu sendirian menghadapi penjajah tanpa dibantu oleh rakyat Indonesia. Jadi wajar bila kelak si anak dewa akan diberi gelar oleh rakyat dengan gelar pangeran perang.

4. Pandai meramal seperti dewa.
Si anak dewa dilihat dari namanya berarti sosok yang ada kaitannya dengan dewa/batara/malaikat. Joyoboyo telah memberitahukan bila dia adalah manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya. Namun posisinya sebagai murid dewa atau bahkan anak angkat dewa maka sedikit banyak dia telah berubah menjadi sosok layaknya dewa yang memiliki sederet kemampuan dan kesaktian.

Dalam bait 167 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa anak dewa “pandai meramal seperti dewa”. Sepertinya ungkapan Joyoboyo tersebut tidak aneh karena dia kan anak dewa, jadi wajar kalo seperti dewa yang bisa meramal. Meramal sendiri bisa diartikan pemberitahuan akan sesuatu yang terjadi pada waktu lain terhadap obyek menggunakan metode penglihatan khusus. Metode penglihatan tersebut bisa menggunakan sarana atau benda tetapi juga bisa dengan kekuatan atau kesaktian selain itu juga bisa menggunakan mata di tubuh non fisik.

Tidak aneh bila anak dewa bisa meramal karena Tuhan telah memberi kesaktian kepadanya. Dengan kesaktian itu dia dapat mengetahui apa saja baik yang di dalam dirinya maupun yang diluar dirinya juga di orang lain tanpa batas waktu apakah masa kini, masa lalu dan masa depan. Dengan mengetahui masa lalu, masa kini dan masa depan masalah di negri ini maka semua persoalan akan dapat diselesaikan nantinya tanpa beban berarti.

Masih di bait 167 Joyoboyo juga menyebutkan bila si anak dewa “dapat mengetahui lahirnya kakek, buyut dan canggah anda. Dapat membaca isi hati, mengerti sebelum sesuatu terjadi. Mengetahui leluhur anda, memahami putaran roda zaman Jawa, mengerti garis hidup setiap umat”. Tentunya masih banyak lagi yang diketahui dan dimengerti anak dewa bahkan mungkin juga semua hal yang ada di dunia ini.

5. Putra Batara Indra yang sulung.
Penyebutan anak dewa Indra telah memposisikan Ratu Adil sebagai anak dari dewa Indra dan Dewa Indra sebagai ayahnya. Apakah ada hubungan kandung diantara keduanya, sepertinya tidak mungkin karena manusia terlahir dari manusia dan tidak akan terlahir dari dewa. Kalo memang dewa bisa melahirkan maka yang terlahir murni anak dari dewa dan bukan sebutan anak dewa bagi sosok manusia yang diasuh dewa.

Ada yang beranggapan bila anak dewa berarti titisan dewa. Artinya ada seorang anak dari dewa yang menitis masuk ke dalam tubuh fisik manusia. Namun pendapat ini tidak bisa dibuktikan karena bila dewa Indra masuk ke dalam fisik manusia tentunya si anak dewa juga orang lain tidak bisa menemuinya. Ada juga yang menyebut dewa Indra berubah menjadi manusia, ini juga tidak terbukti karena anak dewa dan dewa Indra bisa saling bertemu.

Oleh karena anak dewa bisa bertemu dengan dewa Indra maka kedua sosok tersebut bukan satu fisik tetapi 2 sosok yang satu manusia dan yang satunya dewa Indra. Sementara dalam bait 171 Jongko Joyoboyo disebutkan bila anak dewa “itulah putra batara Indra yang sulung”. Kalimat ini menunjukkan bila putra batara Indra tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu dan untuk si anak dewa calon Ratu Adil posisinya sebagai putra tertua batara Indra.

Kata sulung dalam bait 171 membawa pengertian bahwa tidak hanya satu saja putra batara Indra maka mustahil bila anak dewa yang menitis atau berubah wujud menjadi manusia yang kelak kita kenal dengan Ratu Adil. Jelas tidak mungkin Batara Indra menitis pada beberapa manusia. Dengan demikian pengertian yang cocok adalah anak dewa merupakan murid sekaligus anak angkat Batara Indra yang paling tua dan kelak menjadi Ratu Adil.

6. Memakai lambang Ratu tanpa mahkota.
Sebutan raja atau ratu biasa disandangkan kepada orang yang menjadi raja/ratu dan memiliki rakyat di sebuah kerajaan. Contohnya dapat kita saksikan dalam film-film di televisi yang menceritakan tentang sebuah kerajaan yang di dalamnya terdapat raja, permaisuri, pangeran, abdi raja, juga ada rakyat. Contoh lain juga bisa kita ketahui dari sejarah Indonesia yang terdapat beberapa kerajaan di nusantara. Ada yang sudah hilang dan hanya tinggal nama saja. Tetapi ada juga yang masih berdiri hingga saat ini.

Kelak si anak dewa ketika sudah muncul otomatis dia akan menjadi Ratu Adil di Indonesia. Akan tetapi dimanakah kerajaan tempat singgasananya Ratu Adil? Disinilah letak keanehan tersebut. Ratu Adil rupanya tidak memiliki kerajaan, selain ayahnya diperkirakan bukan raja, disisi lain dia bukan pangeran atas sebuah kerajaan di Indonesia. Inilah keanehan dan kenyataannya Ratu Adil di Indonesia. Lantas mengapa Joyoboyo menyebutnya Ratu Adil bila tidak memiliki singgasana kerajaan?

Dalam bait 171 Jongko Joyoboyo disebutkan kelak si anak dewa akan “memakai lambang ratu tanpa mahkota”. Kata “memakai lambang ratu” diartikan bahwa si anak dewa sebelumnya adalah manusia biasa yang hidup di tengah-tengah rakyat Indonesia dan tidak dibesarkan pada lingkungan kerajaan. Akan tetapi kelak dia akan terpilih untuk menjadi Ratu Adil sejati memimpin rakyat Indonesia. Beberapa kalangan menyebutkan memang si anak dewa ini keturunan raja zaman dulu di Nusantara.

Terpilihnya si anak dewa seorang yang hidup di lingkungan umum bukan kerajaan secara otomatis akan memakai lambang ratu tersebut, apalagi didukung oleh hasil karyanya menciptakan kemerdekaan dan kemakmuran negri tercinta Indonesia. Namun Joyoboyo setelah menyebut “memakai lambang ratu” dilanjutkan dengan kata “tanpa mahkota”. Ini mengindikasikan bila si anak dewa kelak tidak akan menduduki singgasana kerajaan juga tidak akan menduduki kursi di pemerintahan baik itu presiden maupun yang lainnya.

Melihat posisinya memakai lambang ratu tanpa mahkota yang diartikan sebagai menjadi Ratu Adil tanpa singgasana kerajaan atau kursi pemerintahan, maka si anak dewa akan tetap hidup di tengah-tengah rakyat dan bersama-sama rakyat memperbaiki negri ini, juga memantau kerja seluruh sistem pemerintahan di Indonesia. Kelebihan dari posisi ini yaitu bagi siapapun rakyat Indonesia dapat bertemu dengan Ratu Adil dengan mudah tidak sesulit menemui presiden sehingga keluhan rakyat apapun itu bentuknya akan dapat diatasi segera.

7. Para Pendeta juga pada menghormat.
Coba kita lihat para pejabat Indonesia saat ini, mereka lebih mementingkan jabatan, politik, uang dan sejenisnya dan tidak memperdulikan rakyat. Banyak sekali pejabat baik di pusat maupun di daerah terkena kasus korupsi. Pada saat yang sama rakyat Indonesia banyak yang hidup di pengungsian dengan berbagai penderitaan, bahkan ada kasus dana bantuan dikorupsi. Ini sebuah peristiwa yang terjadi saat ini dan kita sebagai rakyat tidak bisa apa-apa melihat kenyataan tersebut.

Dengan sederet kasus para pejabat di negri ini yang tidak berpihak pada rakyat maka wibawa pejabat hilang, karisma pemerintah lenyap, rakyat sudah tidak percaya lagi dengan kinerja pejabat. Apapun kebijakan yang dikeluarkan pasti akan dinilai setengah-setengah oleh rakyat. Pejabat juga pemerintah telah kehilangan kehormatan, rakyat tidak mau lagi menghormati, tokoh-tokoh dan pemuka agama juga tidak mau menghormati dan yang tersisa hanya pemerintahan yang berjalan ntah kemana, apa menuju menjadi baik atau sebaliknya.

Tapi biarlah semua ini terjadi saat ini. Segala kenyataan yang membuat rakyat menderita dan tidak jelas arahnya kemana, biarkan saja berlangsung mewarnai hari demi hari di negri ini. Kelak bila si anak dewa telah muncul untuk memperbaiki keadaan di Nusantara maka semua akan berubah. Kemerdekaan Indonesia akan dikembalikan, kemakmuran dan kesejahteraan rakyat akan tercipta dan tentunya roda pemerintahan akan baik kembali.

Kerja keras anak dewa tidaklah sia-sia bila pada akhirnya persatuan dan kesatuan Indonesia dapat diwujudkan. Sesama rakyat akan saling menghormati, pejabat dan rakyat juga saling menghormati dan semua baik rakyat, pejabat, tokoh-tokoh, pemuka agama akan menghormati si anak dewa. Dalam bait 173 Joyoboyo menyebut “para pendeta juga pada menghormat”. Hal ini akan terwujud setelah dia berhasil mengembalikan wibawa negri ini yang mengakibatkan dirinya akan dihormati oleh semua pihak, mungkin juga pihak musuh.

Demikianlah sisi lain tentang anak dewa. Masih banyak sisi-sisi lain lagi bagi anak dewa yang apabila dijabarkan maka akan panjang lebar penjelasannya di dalam ruang blog ini. Untuk itu alangkah baiknya kita melihat sendiri secara langsung sisi-sisi lainnya dari anak dewa tentunya kelak bila dia telah muncul untuk mengembalikan kemerdekaan, kemakmuran dan kesejahteraan Indonesia mengakhiri zaman Kalabendu di Indonesia.

Kontrofersi, Senin 17 Nopember 2008
Eddy Corret.

About these ads