Selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun
Akan ada dewa tampil berbadan manusia.

Jongko Joyoboyo bait 159.

Istilah Dewa sepertinya bukan hal baru bagi kita orang Indonesia meskipun sosoknya tidak diketahui ada atau tidak. Bagi beberapa kalangan Dewa diartikan sebagai sosok yang lebih tinggi dari manusia dalam hal kemampuan. Apabila ditelusuri lebih lanjut, dewa bukanlah sejenis manusia juga bukan sejenis Jin. Yang lebih cocok dan mendekati adalah dewa merupakan sejenis malaikat ciptaan Tuhan.

Konon katanya pada zaman dahulu kala dewa hidup berdampingan dengan manusia. Dewa hidup diantara manusia sebagai pelindung, pembantu, bahkan juga ada yang sebagai sosok yang jahat. Tapi saat ini bukanlah zamannya lagi, teknologi telah merubah kepercayaan manusia dari hal-hal yang tidak logis menjadi hal-hal yang logis dan masuk akal meskipun masih banyak juga dijumpai adanya kepercayaan itu.

Walaupun pada saat ini zaman telah beralih ke hal-hal yang logis, tetapi diakui bahwa masih banyak hal-hal yang tidak logis terjadi disekeliling kita. Di Indonesia misalnya dikabarkan akan terjadi hal yang sangat tidak logis yaitu munculnya Putra Batara Indra (Anak Dewa) yang oleh Joyoboyo disebut sebagai Dewa berbadan manusia. Joyoboyo dalam beberapa bait ramalannya juga menyebutkan akan perihal Dewa berbadan manusia itu.

1. Dewa berbadan manusia.
Membicarakan mengenai Dewa berbadan manusia, arah persepsi kita adalah munculnya sosok manusia yang sakti mandraguna dengan segala kemampuan yang tidak masuk akal. Berbeda dengan kesaktian yang dimiliki manusia pada umumnya, kesaktian anak dewa ini tentunya akan di atas segala jenis kesaktian yang ada di bumi. Namanya juga dewa ndak lucu kalo kesaktiannya sama dengan manusia pada umumnya.

Apakah memang permasalahan di Indonesia sudah tidak bisa lagi diatasi oleh manusia sehingga Tuhan harus menyuruh dewa/malaikat untuk hadir di Indonesia? Apabila memang demikian kehendak Tuhan, maka biarlah segala yang dikehendaki Sang Pencipta akan terjadi di muka bumi ini. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha dan pasrah. Segalanya milik Tuhan dan segalanyal Tuhan yang memutuskan.

Akan tetapi benarkah permasalahan di Indonesia juga di dunia harus diselesaikan oleh dewa/malaikat berbadan manusia?  Sepertinya ini merupakan hal yang berlebihan karena alam dewa sangatlah berbeda dengan alam manusia. Kondisi yang dialami Indonesia juga dunia Internasional masih terkendali dan apabila manusia mau serius menanganinya maka semua akan dapat diatasi.

Ketidakberesan yang terjadi di Indonesia juga ketidakberesan yang terjadi di Internasional akibat dari ulah manusia sendiri, maka itu lebih tepat bila manusia juga yang akan menyelesaikannya. Disisi lain kehidupan Dewa/malaikat dengan kehidupan manusia tidaklah sama. Malaikat akan menyelesaikan masalahnya sendiri dan manusia akan menyelesaikan masalahnya sendiri, namun tidak menutup kemungkinan manusia dan malaikat saling membantu.

Untuk itu kalimat dewa berbadan manusia kurang tepat diartikan sebagai dewa/malaikat yang muncul dalam wujud manusia, tetapi lebih tepat bila ditafsirkan sebagai munculnya sosok manusia yang sakti di zaman modern. Oleh karena kesaktiannya yang bisa dilihat orang itulah maka dia akan diibaratkan dewa padahal dia bukan dewa.

Senada dengan hal tersebut dalam bait 170 Jongko Joyoboyo disebutkan “disebut dewa namun manusia biasa”. Artinya memang si anak dewa meskipun sakti mandraguna tetapi dia bukan dewa/batara/malaikat ciptaan Tuhan. Anak dewa adalah manusia biasa yang karena kehendak Sang Pencipta maka dia dapat memiliki kesaktian yang kesaktian tersebut sangatlah susah diperoleh manusia biasa.

Bukan dewa, bukan batara juga bukan malaikat namun manusia biasa. Apabila memang manusia biasa tentunya unsur-unsur yang ada dalam dirinya merupakan unsur manusia seperti terdapat darah, sel, kelenjar, nadi, tulang dan organ-organ tubuh lainnya yang itu semua sama dan tidak ada bedanya dengan manusia-manusia lain seperti kita-kita ini sehingga dia tetap berjenis manusia.

Bukti lain disebutkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi yang berbunyi “rumahnya di ujung sungai”, kemudian dilanjutkan dengan bait 161 Jongko Joyoboyo yang berbunyi “berumah seperti raden Gatotkaca”. Artinya anak dewa sebagaimana manusia pada umumnya memiliki keluarga lengkap terlahir dari pasangan ayah dan ibu juga terdapat paman, bibi, kakek, nenek juga bisa ditelusuri silsilah keluarganya.

Meskipun dalam bait 168 Jongko Joyoboyo disebutkan bila “satria itu yatim piatu” namun identitas sebagai sosok manusia yang memiliki silsilah keluarga berketurunan tetap ada. Kalo seandainya anak dewa bukan manusia tetapi dewa/malaikat yang berujud manusia, tentunya tidak akan memiliki silsilah keluarga dan tidak akan memiliki keturunan seperti manusia pada umumnya.

Dengan demikian kalimat dewa berbadan manusia yang ditujukan kepada Ratu Adil alias anak dewa, bukan berarti dia itu dewa atau malaikat yang muncul dan datang ke bumi dalam wujud manusia. Tetapi anak dewa merupakan manusia biasa yang tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya namun diberi kesaktian oleh Sang Pencipta ibarat sesosok dewa.

2. Bersenjatakan Trisula Weda.
Dalam beberapa bait yaitu bait 159, 162, 164, 168, 172 dan 173 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa anak dewa bersenjatakan Trisula Weda. Pada zaman dahulu kala ketika teknologi belum semodern pada saat ini, dewa dikenal memiliki senjata khusus. Wajarlah bila anak dewa juga memiliki senjata yang joyoboyo menyebutnya atau menamainya dengan senjata Trisula Weda. Kira-kira senjata apakah itu ?

Trisula Weda bisa jadi sebuah senjata berujud benda, tetapi tidak menutup kemungkinan bila senjata tersebut juga berujud yang lainnya. Dari kata Trisula sendiri mengingatkan kita akan sebuah senjata yang berbentuk seperi tombak yang ujungnya tajam bercabang tiga. Senjata-senjata ini dapat kita lihat contohnya dari peninggalan leluhur kita juga dalam film-film silat.

Seandainya saja anak dewa kelak membawa senjata seperti itu kemanapun dia pergi, maka kesan kita sebagai rakyat Indonesia sangatlah aneh. Apa mungkin Ratu Adil akan kemana-mana mengunjungi setiap wilayah di negeri ini dengan menenteng senjata seperti itu. Tidak akan salah bila akhirnya kita sebagai rakyat Indonesia akan menyindirnya dengan kata : mau perang yah!

Selain akan mendapatkan sindiran dari rakyat Indonesia, menenteng senjata Trisula macam itu sosok Ratu Adil akan nampak sebagai sosok yang seram dan menakutkan seakan-akan tiada waktu baginya kecuali tetap waspada akan kedatangan musuh setiap saat sehingga senjata harus selalu ada dan dekat dengannya. Meskipun juga tidak menutup kemungkinan kelak anak dewa akan menggunakan senjata Trisula seperti itu.

Begitulah apabila Trisula diartikan dalam wujud kebendaan. Apabila Trisula dalam wujud bukan benda, maka hal tersebut memiliki banyak kemungkinan. Kemungkinannya bisa jadi sikap, atau jurus, atau kekuatan, atau jenis yang lainnya yang bersifat bukan kebendaan. Oleh karena kemungkinannya banyak, sulit bagi kita untuk menentukan yang cocok disebut Trisula.

Sedangkan kata Weda dari senjata Trisula Weda bisa diartikan sebagai kitab atau pedoman hidup. Ini terkait dengan model pembelajaran yang berlangsung ketika masa Joyoboyo dulu. Pada zaman dahulu orang yang akan sekolah atau belajar harus membawa kitab Weda sebagai bahan pelajaran. Kitab Weda akan dipelajari terus menerus hingga tamat.

Apabila ada murid yang sudah tamat belajar kitab Weda maka dia akan dinyatakan lulus. Hal ini juga sudah disebutkan dalam bait 168 Jongko Joyoboyo anak dewa “sudah lulus weda jawa”. Bila dikaitkan dengan model pembelajaran saat ini, maka kata lulus weda jawa bisa diartikan sebagai telah lulus sekolah atau kuliah. Jadi anak dewa akan muncul kelak bukan dalam kondisi masih sekolah atau kuliah.

Kata Trisula dan kata Weda ketika digabungkan menjadi satu yaitu Trisula Weda, maka mengandung arti sebuah senjata yang digunakan anak dewa dengan berpedoman pada kitab yang diyakininya. Apabila anak dewa beragama islam maka berarti senjata Trisula yang digunakannya berpedoman pada kitab Al-Qur’an.

Dari pengertian ini maka Trisula Weda bisa berujud senjata apa saja tidak terikat bentuk dan wujudnya, akan tetapi senjata tersebut digunakan anak dewa berdasar pada kitab yang diyakininya sebagai pedoman hidup. Untuk itulah senjata Trisula Weda sepertinya tidak akan ditenteng atau tidak akan nampak oleh orang lain namun siap sedia sewaktu-waktu akan digunakan.

Penafsiran mengenai Trisula Weda yang berujud bukan benda atau sejenis senjata, bisa juga ditafsirkan sebagai Trisula bagian tengah adalah hati dan otak. Sedangkan Trisula bagian kanan dan kiri adalah tangan kanan dan tangan kiri anak dewa. Berbeda dengan wujud senjata, Trisula Weda dalam penafsiran ini cenderung menggunakan bagian tubuh anak dewa sendiri sebagai senjatanya.

Penggunaan hati dan otak menunjukkan segala pikiran dan perasaan anak dewa akan selalu berpedoman pada kitab yang diyakininya. Sementara penggunaan tangan kanan dan tangan kiri juga tidak ada bedanya dengan otak dan hatinya yaitu berpedoman pada kitab yang diyakininya. Sehingga senjata Trisula Weda dalam diri anak dewa akan digunakan tepat sasaran karena memiliki pedoman.

Kondisi ini terkait dengan bait 168 Jongko Joyoboyo “yang tengah pantang berbuat merugikan orang lain, yang di kiri dan kanan menolak pencurian dan kejahatan”. Artinya otak dan hati anak dewa tidak akan mendatangkan hal yang merugikan orang lain. Dan tangan kanan dan tangan kirinya untuk menolak segala bentuk kejahatan.

3. Mengendalikan makhluk halus.
Dalam bait 162 Jongko Joyoboyo disebutkan “pasukan makhluk halus sama-sama berbaris, berebut garis yang benar tak kelihatan, tak berbentuk yang memimpin adalah putra Batara Indra”. Joyoboyo memberitahukan bahwa dewa berbadan manusia rupanya memiliki pasukan dari kalangan makhluk halus. Kalimat ini kelihatan unik mengingat yang memimpin manusia sedangkan yang dipimpin bukan manusia.

Makhluk halus itu bisa mengandung beberapa arti, bisa berarti makhluk berjenis Jin, bisa juga malaikat atau juga lainnya yang halus dan tidak terlihat oleh mata fisik manusia. Keunikan ini bisa menjadi hal yang istimewa bagi anak dewa mengingat makhluk halus itu kan alamnya lebih luas dari alam manusia justru bersedia untuk menjadi anak buah manusia.

Orang akan berfikir bila makhluk halus tersebut merupakan makhluk jenis Jin ciptaan Tuhan. hal ini telah disebutkan dalam bait 164 Jongko Joyoboyo “mengerahkan jin dan setan, seluruh makhluk halus berada dibawah perintahnya bersatu padu membantu manusia Jawa”. Bila manusia bisa menjadi pemimpin dari golongan Jin, maka manusia itu dipastikan lebih kuat juga lebih sakti dari Jin yang dipimpinnya.

Tidak mungkin Jin akan mau dipimpin oleh orang yang lebih lemah dan lebih rendah darinya. Kesaktian si anak dewalah yang akan menjadikan golongan Jin akan tunduk dan bersedia menjadi pasukannya. Kesaktian disini bisa berarti anak dewa lebih kuat dan memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari Jin. Dan boleh jadi dengan kesaktiannya itu anak dewa bisa keluar masuk alam Jin dengan mudah.

Lantas untuk apa anak dewa harus memiliki pasukan dari golongan Jin? apakah sebagai pasukan untuk berperang? Jawabnya kembali ke bait 164 Jongko Joyoboyo bahwa pasukan Jin yang akan dipimpin anak dewa tidak difungsikan untuk berperang melawan musuh, tetapi dikerahkan untuk membantu manusia Jawa. Dalam hal ini manusia Jawa berarti rakyat Indonesia.

Kata membantu manusia Jawa bisa ditafsirkan sebagai membantu rakyat Indonesia dalam merenofasi segala hal di Indonesia baik fisik maupun non fisik, karena sebelumnya Indonesia baru saja ditimpa huru hara dan segala kekacauan selama berlangsungnya zaman Kalabendu. Dengan adanya kerjasama antara manusia dan makhluk halus maka semua akan berhasil diperbaiki kembali.

Kemudia selain makhluk halus yang diartikan sebagai Jin ciptaan Tuhan, orang juga akan berfikir bila makhluk halus itu merupakan makhluk sejenis malaikat ciptaan Tuhan. Hal ini telah disebutkan dalam serat centhini pupuh 258 tembang ke 4 yaitu “tidak mengandalkan bala bantuan manusia, hanya sirullah prajuritnya”. Kata Sirullah menunjuk kepada malaikat cipataan Tuhan yang bisa diandalkan untuk membantu manusia.

Kesediaan malaikat untuk menjadi pasukan yang dipimpin manusia bisa berarti memang atas perintah Tuhan. Tetapi juga bisa berarti karena perintah malaikat lain yang derajatnya lebih tinggi. Ingatlah bahwa Batara Indra sebagai ayah dari anak dewa merupakan pemimpin para dewa/malaikat yang ada di alam semesta ini. Seluruh malaikat/dewa tunduk dan patuh dengannya.

Apabila Batara Indra sebagai pemimpinnya, maka apapun yang diperintahkannya pada malaikat lain akan dilaksanankan. Sementara anak dewa merupakan putra Batara Indra, maka itu tidak heran jika kelak kepemimpinan ayahnya akan turun kepada anaknya. Sehingga para malaikat bukan hanya tunduk pada Batara Indra sebagai pemimpinnya, namun juga tunduk pada anak dewa juga.

Dengan posisi Ratu Adil sebagai putra Batara Indra, maka mudah baginya untuk mendapatkan dukungan dari para malaikat yang tersebar di alam semesta. Posisinya sebagai anak dewa tentunya akan sama dengan ayahnya untuk memimpin sejumlah malaikat. Sehingga suatu kewajaran bila nantinya banyak malaikat yang akan tunduk padanya.

Keberadaan makhluk halus dari golongan Jin juga makhluk halus dari golongan malaikat yang bersedia bahkan ingin dipimpin oleh anak dewa tentunya akan sangat bermanfaat. Anak dewa dengan mudah akan memanfaatkannya untuk membantu orang-orang Indonesia dalam membangun kembali dan memperbaiki kembali segala kerusakan yang ada di negeri ini.

Tapi ingat! tidak semua makhluk halus itu baik. Sebagaimana manusia, makhluk halus juga ada yang jahat dan suka membuat kerusakan. Namun jangan kawatir akan hal tersebut, dengan kesaktiannya dipastikan anak dewa akan sanggup menangani makhluk halus yang jahat sesuai bait 171 Jongko Joyoboyo bahwa anak dewa “masih kuasa mengusir setan”.

4. Perang tanpa pasukan.
Dimana-mana yang namanya perang akan melibatkan banyak orang sebagai pasukan antara satu pihak dengan pihak lawannya. Contohnya adalah perang kemerdekaan Indonesia, banyak sekali prajurit yang terdiri atas orang-orang bersenjata berhadapan untuk saling menangkap bahkan membunuh. Hasilnya juga akan banyak yang tertangkap juga banyak yang terbunuh.

Lain halnya perang pada umumnya, anak dewa rupanya akan berperang tanpa melibatkan orang lain sebagai prajuritnya dalam menghadapi musuh Indonesia. Anak dewa akan maju ke medan perang seorang diri tanpa ada manusia lain yang akan menyertai atau membantu dirinya. Ini memang kelihatan aneh tetapi hal ini akan menjadi kenyataan.

Memangnya musuh seperti apa yang akan dihadapi anak dewa? begitu lemahnya pihak musuh atau mungkin jumlah musuh yang tidak banyak sehingga anak dewa akan menghadapinya sendirian. Sepertinya bukan musuh tipe itu yang akan dihadapi, tetapi musuhnya adalah semua pihak baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri yang menjajah dan merusak Indonesia.

Tentu saja jenis musuhnya bukan yang biasa dan lemah tetapi musuh yang tidak biasa dan kuat bahkan sangat kuat terutama yang dari Internasional. Musuh Indonesia yang dari luar negri dipastikan akan menggunakan senjata-senjata modern juga senjata-senjata canggih berteknologi tinggi dan mutakhir. Musuh jenis begini tidak mungkin akan dianggap remeh.

Meskipun musuh yang akan dihadapi cukuplah kuat, namun sesuai dengan bait 162 Jongko Joyoboyo bahwa anak dewa “bila berperang tanpa pasukan, sakti mandraguna tanpa azimat”. Itu berarti anak dewa tetep akan menghadapinya sendirian. Hal ini bisa jadi karena kesaktian yang diberikan Tuhan kepadanya sehingga menjadikannya sebagai sosok yang sangat kuat.

Ketahuilah bahwa yang namanya kesaktian atau kekuatan itu terdiri atas 2 bagian penting, yaitu serangan dan pertahanan. Suatu keharusan bila akan berperang terlebih dahulu memperhitungkan sisi serangan dan sisi pertahanan baik dari pihak sendiri maupun dari pihak lawan yang akan dihadapinya.

Dengan mengukur kekuatan serangan dan pertahanan dari kedua belah pihak maka akan dapat diprediksi seberapa besar kemenangan dan keberhasilan yang akan diraih. Perhitungan ini sangat penting mengingat perang bukan bercita-cita untuk mati, tetapi perang tentunya harus bercita-cita untuk menang.

Bagi anak dewa, kesaktian dan kekuatan yang diberikan Tuhan kepadanya sepertinya telah mencakup kedua sisi tersebut yaitu serangan juga pertahanan yang cukup bahkan lebih. Untuk itulah suatu kewajaran bila kelak dia akan menghadapi musuh-musuhnya seorang diri tanpa ada orang lain yang akan membantunya.

Selanjutnya pada bait 173 Jongko Joyoboyo juga disebutkan bila si anak dewa akan “ngulug tanpo bolo”. Kata “nglurug” dalam kalimat tersebut merupakan kata dalam bahasa Jawa yang dapat diartikan sebagai mendatangi musuh yang jauh bahkan sangat jauh jaraknya dari tempat si anak dewa berada yaitu Indonesia.

Artinya kata ini dalam Jongko Joyoboyo mengindikasikan bahwa si anak dewa kelak akan berkelana jauh meninggalkan Indonesia untuk sementara waktu guna berperang menghadapi musuh. Apabila musuh yang dihadapi cuma berada di wilayah Indonesia tanpa melihat di daerah mana letaknya, maka kata nglurug tidak perlu ada. Cukup dengan kata menghadapi musuh di Indonesia itu sudah mewakili.

Keberadaan kata “nglurug” itu tidak lain dan tidak bukan ditujukan untuk musuh Indonesia yang berada di luar negri. Musuh tersebut bisa berarti orang atau lembaga atau bahkan juga negara yang menjajah dan merusak Indonesia baik pada masa lalu maupun pada saat ini. Ini penting untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia dengan kemerdekaan yang sesungguhnya.

Buat apa ada renofasi dengan membangun kembali semua bentuk kerusakan yang terjadi dan menimpa selama zaman Kalabendu berlangsung apabila Indonesia masih juga dijajah oleh bangsa lain, itu sia-sia saja. Anak dewa tentunya tidak akan diam begitu saja membiarkan negara lain menjajah Indonesia. Dia pasti akan mengambil keputusan yang tepat untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Tidak peduli berapapun jaraknya penjajah dari Indonesia, anak dewa pasti akan mendatanginya seorang diri. Mungkin ini yang lebih cocok untuk menterjemahkan kalimat “nglurug tanpo bolo”. Lagian juga tidak seimbang kalo kesaktiannya cuma untuk menghadapi kejahatan tingkat nasional. Indonesia tetep saja akan terjajah. Maka itu kesaktian anak dewa akan bermanfaat juga untuk menghadapi kejahatan Internasional.

5. Warisane Gatotkaca sejuta.
Siapa yang belum mengetahui Gatotkaca, sepertinya banyak yang telah mengetahui tentang Gatotokaca. Singkatnya Gatotokaca merupakan putra dari Bima atau Werkudoro. Bima adalah putra kunti tepatnya kakak dari Arjuna yang oleh karena pernikahannya dengan dewi Arimbi, maka dari pernikahan tersebut lahirlah Gatotkaca.

Gatotkaca dalam kisah Mahabarata disebutkan memiliki sejumlah kesaktian yang tidak dimiliki oleh ksatria lainnya. Diantara kesaktiannya tersebut yang paling nampak adalah kemampuannya untuk terbang di udara dan kemampuannya untuk merubah ukuran tubuh menjadi besar atau menjadi kecil dari ukuran sebelumnya. Dengan kesaktiannya itu Gatotkaca menjadi sosok ksatria yang ditakuti oleh kurawa.

Terkait dengan kesaktiannya yang dimiliki Gatotkaca, rupanya si anak dewa juga memiliki kesaktian yang sama dengannya. Dalam bait 165 Jongko Joyoboyo disebutkan yaitu “warisane Gatotkaca sejuta”. Kalimat tersebut mengandung arti bahwa kesaktian yang dimiliki Gatotkaca akan terwariskan ke anak dewa. Kekuatan yang dimiliki Gatotkaca juga akan dimiliki anak dewa.

Apabila ditelusuri menggunakan paham reinkarnasi, sebenarnya anak dewa bukanlah titisan dari Gatotkaca, tetapi titisan dari Arjuna. Tidak ada pengertian lain yang mengarah kepada sebuah sosok manusia dari kata putra Batara Indra yang disebutkan dalam Jongko Joyoboyo, melainkan kalimat tersebut ditujukan kepada Arjuna. Jadi anak dewa bukan titisan dari Gatotokaca namun titisannya Arjuna.

Dari arah jalannya penitisan dengan menggunakan paham reinkarnasi, maka kesaktian yang dimiliki anak dewa tentu saja kesaktian yang dahulu kala juga dimiliki Arjuna. Akan tetapi Joyoboyo menyebut warisannya Gatotkaca sejuta, ini menunjukkan bahwa kesaktian anak dewa bukan saja warisan dari Arjuna tetapi juga warisan dari Gatotkaca.

Keadaan ini sangat istimewa bagi anak dewa yang diberi Tuhan kesaktian tidak sebatas pada Arjuna sebagai sosok penitisannya, tetapi juga Gatotkaca yang bukan penitisannya. Dengan memadukan antara kesaktian yang turun dari Arjuna dengan kesaktian yang turun dari Gatotkaca, maka anak dewa akan mudah menghadapi musuh Indonesia tanpa kendala berarti.

Kembali mengenai warisane Gatotkaca sejuta, dalam hal ini akan diambil 2 contoh kesaktian yang dimiliki Gatotkaca, yaitu kemampuan terbang di udara dengan kemampuan dapat merubah ukuran tubuh menjadi besar atau kecil. Apabila diwariskan maka anak dewa kelak juga akan dapat terbang dan dapat menjadi besar atau kecil tubuhnya seperti yang dilakukan Gatotkaca.

Kemudian dihubungkan dengan bait 173 Jongko Joyoboyo “nglurug tanpo bolo (mendatangi musuh yang jauh tanpa teman)”. Maka diprediksi kelak anak dewa akan menghampiri musuhnya yang di luar negeri menggunakan jurus terbang di udara seperti burung. Keadaan ini akan lebih efektif karena dengan terbang sendiri sepertinya akan lebih cepat geraknya dari pesawat terbang bahkan pesawat tempur.

Senada dengan perihal tersebut, peramal dari Prancis bernama Nostradamus juga telah menyebutkan dalam Century 2 Kuantrin 29 :
L’Oriental sorrira de son siege, Passer les monts Apennins voir la Gaule :
Transpercera le ciel, les eaux et neige, Et un chacun frappera de sa gaule.

“seorang lelaki bangsa timur akan datang langsung dari tempat kediamannya dan melewati Appennina menuju Perancis :
Dia akan melintas melewati langit, laut dan salju. Dia akan mencambuk semua orang dengan cambuknya”.

Keberadaan Kuantrin 29 dalam Century 2 ini menguatkan posisi anak dewa yang akan menggunakan kemampuan terbangnya untuk mendatangi musuh Indonesia sejauh apapun bahkan di ujung dunia sekalipun. Keseriusannya dalam menumpas musuh-musuh yang telah merugikan Indonesia, niscaya akan dapat mewujudkan Indonesia menjadi mercusuar dunia.

Sebelum terlewati, masih ada satu kata yang menarik dalam kalimat warisane Gatotkaca sejuta, yaitu kata “sejuta”. Kata ini bisa mengandung arti bahwa kemampuan yang diturunkan Gatotkaca kepadanya tidak hanya sebatas kemampuan dapat terbang juga dapat merubah jadi besar atao kecil, tetapi juga fleksibel dalam penggunaannya. Terbang tidak hanya terbang begitu saja tetapi juga bisa meniru gaya terbang pesawat atau binatang atau yang lainnya.

Kemudian kemampuan merubah tubuh menjadi besar atau kecil juga tidak hanya merubah ukuran tubuh saja, tetapi bisa jadi juga merubah ukuran tubuh sekaligus merubah bentuk tubuh. Contohnya berubah menjadi gajah terbang, berubah menjadi kupu-kupu atau yang lainnya tidak terbatas. Namanya juga anak dewa harusnya bisa donk menjadi seperti itu.

6. Ludahnya ludah api.
Dalam bait 166 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa si anak dewa “ludahnya ludah api, sabdanya sakti (terbukti)”. Apabila kata ludah api dalam kalimat tersebut diartikan apa adanya, berarti ludahnya anak dewa bukan air seperti manusia pada umumnya, ludahnya api yang apabila meludah maka akan terbakar yang terkena ludahnya.

Dipandang dari segi kesaktian maka bisa jadi identitas anak dewa sebagai manusia biasa tetep ada, sehingga ludahnya ya tetep sama aja dengan manusia pada umumnya, tetapi ketika kesaktiannya akan dipergunakan maka ludahnya dapat berubah menjadi api yang membakar.

Kesaktian jenis ini sangat menarik terutama untuk menghadapi musuh yang banyak dalam peperangan. Anak dewa cukup menggunakan ludahnya saja dipastikan akan mampu mengalahkan pasukan musuh berapapun jumlahnya. Musuh akan terus menghitung peluru untuk isi ulang, tetapi anak dewa cukup dengan minum untuk isi ulangnya.

Ditambah lagi dengan kesaktian lain yang dimiliki anak dewa yaitu warisane Gatotkaca sejuta. Dengan menggunakan jurus terbang di udara, akan lebih bebas menghampiri musuh-musuhnya mondar mandir kesana kemari dengan leluasa. Pada saat yang sama dia akan melontarkan ludah api ke musuh. Wah jadi cepet selesai perangnya.

Selain diartikan apa adanya tanpa penafsiran, ludah api bisa juga diartikan sebagai kekuatan affirmasi. Mungkin kata affirmasi ini tidak asing lagi di dengar. Namun bagi anda yang belum mengetahuinya, kekuatan affirmasi merupakan sebuah teknik dengan menggunakan kalimat tertentu (bukan mantra) yang diucapkan untuk menciptakan sebuah peristiwa/kejadian.

Contohnya apabila ingin membakar sebuah lilin kecil, tidak perlu menggunakan korek api tetapi bisa menggunakan teknik affirmasi dengan mengucapkan “sumbu lilin terbakarlah”. Maka sumbu lilin tersebut lantas terbakar. Ini baru contoh sederhana, untuk contoh lain terdapat dalam proses penyembuhan.

Teknik affirmasi dalam penyembuhan akan memudahkan baik pihak pasien maupun penyembuhnya. Penyembuh tidak perlu banyak gerak, cukup duduk di kursi dan energi penyembuhan akan bekerja sesuai affirmasi yang diberikan. Sementara pasien duduk atau tiduran dengan nyaman.

Anak dewa dipastikan dapat menggunakan teknik affirmasi ini meskipun belum tentu dia akan menggunakannya untuk menghadapi musuh. Tetapi kata ludah api bila ditafsirkan sebagai penggunaan teknik affirmasi tentunya akan menjadi alternatif baginya untuk digunakan, apa untuk perang atau yang lainnya.

Sisi lain lagi untuk menafsirkan kata ludah api yaitu diartikan sebagai sabda yang sakti. Ini yang paling banyak diyakini orang sebagai penafsiran yang pas buat kata tersebut. Anak dewa sebagai Ratu Adil tentunya sabda yang dikeluarkan bukan cuma kata-kata manis saja tetapi kalimat yang mengandung kekuatan untuk bisa terwujud menjadi kenyataan.

Apabila dia mengeluarkan sabdanya, maka terwujudlah menjadi kenyataan. Sabda ini merupakan hal yang istimewa dimiliki oleh seorang raja. Kita ketahui di Indonesia banyak cerita raja-raja pada masa lalu yang sempat mengeluarkan sabdanya dan terwujud menjadi kenyataan.

Kita ketahui di Indonesia saat ini banyak sekali rakyat dan pejabat yang perilakunya tidak baik, jahat dan merugikan banyak pihak. Anak dewa tentunya kelak akan mengeluarkan sabda-sabdanya untuk meluruskan dan membenahi perilaku rakyat juga pejabat yang buruk agar menjadi baik dan berguna bagi bangsa dan negara.

7. Yang menghalangi akan sirna.
Kehadiran anak dewa di Indonesia bukan sebatas tamu atau wisatawan yang mampir sejenak untuk sekedar berkunjung di negeri ini. Tetapi kehadirannya tiada lain untuk mewujudkan kemerdekaan dan kemakmuran Indonesia. Dia terlahir dari keturunan rakyat bahkan raja di Indonesia, maka identitasnya adalah rakyat Indonesia.

Adalah suatu keharusan bagi anak dewa untuk melindungi negri ini dari kerusakan dan kejahatan yang ditimbulkan oleh banyak pihak baik dari dalam maupun dari luar negri. Apalagi ditambah kesaktian yang dimilikinya, kemerdekaan dan kemakmuran pasti akan dapat diwujudkan.

Demi kepentingan itulah apapun akan dilakukan, bahkan dengan mempertaruhkan nyawa sekalipun akan dilakukannya untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia. Bukan suatu hal yang aneh bila kelak ada pihak-pihak baik dari dalam maupun dari luar negri yang tidak suka dengan kehadiran dan perjuangan si anak dewa.

Dimana-mana suatu kebaikan akan diikuti oleh hal-hal yang akan menghalangi terwujudnya kebaikan itu. Tapi sayang sekali, kali ini bukan rakyat biasa tetapi anak dewa yang akan mewujudkan kemerdekaan dan kemakmuran Indonesia. Diprediksi semua pihak yang menghalanginya akan menyesal sendiri.

Kira-kira apa yang akan dilakukan si anak dewa bila perjuangannya akan dihalangi. Belum bisa dipastikan tindakan apa yang akan diambilnya. Dia bisa saja menggunakan cara halus atau cara yang kasar dalam menghadapi segala yang menghalangi langkahnya.

Namun dalam bait 172 Jongko Joyoboyo disebutkan bahwa “yang menghalangi akan sirna seluruh keluarga”. Kalimat ini bisa diterjemahkan si anak dewa akan menyingkirkan bahkan memusnahkan siap saja yang menghalangi langkahnya. Kata sirna berarti menghabisi riwayat hidup yang menghalanginya.

Nada kalimat ini memang rada serem dan menakutkan. Kesannya Ratu Adil adalah sosok yang kejam. Tetapi apakah tindakan membuat sirna itu berlaku bagi siapa saja yang menghalanginya tanpa memandang cara, jenis dan latar belakang pihak yang menghalangi. Belum diketahui pastinya.

Akan tetapi apabila semua diperlakukan sama itu tidak adil. Padahal dia kan Ratu Adil. Tentunya dalam menghadapi pihak yang menghalanginya harus dengan cara yang adil pula. Untuk itu kalimat tersebut lebih cocok ditujukan kepada pihak dari luar negri. Karena kita ketahui bila anak dewa akan “ngluruk tanpo bolo” ke negara-negara penjajah. Jadi mungkin disitu dia akan membuat sirna siap saja yang akan menghalanginya.

Anak Dewa Indra
Dewa Berbadan manusia
Bersenjata Trisula Weda
Memimpin Makhluk halus
Berperang Tanpa pasukan
Warisannya Gatokaca sejuta
Ludahnya Ludah api
Yang menghalangi Akan sirna

Demikianlah si anak dewa putra Batara Indra akan hadir di Indonesia tidak lama lagi di zaman yang begitu modern saat ini. Orang akan heran dan kaget ketika nyata-nyata melihat hal yang tidak masuk akal akan terjadi di Indonesia. Tapi begitulah bila Tuhan berkehendak sesuatu pasti akan terjadi sesuai yang dikehendaki-Nya.

Kontrofersi, Senin 13 Oktober 2008
Eddy Corret.

About these ads