Notonagoro
Sebagai daftar 5 nama presiden
Padahal merupakan pemberitahuan untuk menata negara.

Saat ini dapat kita lihat dan kita rasakan berbagai hal yang tidak menyenangkan terjadi di negeri tercinta Indonesia. Ketidakaturan, ketidakberesan, ketidakjelasan dan ketidak-ketidak lainnya mewarnai kehidupan disela-sela bencana alam, global warming dan gonjang ganjing krisis global. Sampe kapan peristiwa yang menyengsarakan ini akan terjadi, sampe kiamat kah ?

Peristiwa itu tidak akan lama terjadi, hal itu telah diberitahukan sebelumnya oleh para leluhur Nusantara. Semua yang terjadi inilah yang disebut dengan goro-goro, namun goro-goro yang terjadi di Nusantara berbeda dengan goro-goro yang terjadi di Internasional meskipun dampaknya juga akan sampe ke Indonesia. Tetapi jangan kawatir karena goro-goro Nusantara kelak akan bisa diselesaikan oleh Ratu Adil.

Goro-goro ini terjadi pada zaman Kalabendu yang sebelumnya didahului dengan memerintahnya 5 presiden notonagoro di Indonesia. Setelah kelima presiden notonagoro selesai memerintah negri ini maka terjadilah goro-goro itu melanda seluruh wilayah nusantara. Kebetulan saja pada saat goro-goro hadir presidennya adalah Susilo Bambang Yudoyono yang masih menjabat hingga saat ini.

Apabila mencermati lebih lanjut mengenai istilah notonagoro, maka istilah tersebut tidak hanya sebatas pada daftar 5 nama presiden yang memerintah negeri ini. Akan tetapi lebih jauh lagi merupakan pemberitahuan Tuhan pada rakyat Indonesia akan datangnya goro-goro. Pemberitahuan ini dimaksudkan agar rakyat dan pejabat Indonesia menata negara sebaik-baiknya agar selamat ketika menghadapi goro-goro.

1. Pemberitahuan Tuhan akan goro-goro.
Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia ini dalam kerangka sistem. Apapun itu berada dalam bagian sistem ciptaan Tuhan. Contohnya sistem tata surya, sistem galaksi, sistem pencernaan, sistem otak dan sebagainya. Karena sistem inilah maka apabila ada sesuatu yang akan terjadi, sebelumnya dapat diketahui melalui tanda-tanda yang ditimbulkan baik yang dapat dilihat maupun yang tidak terlihat.

Demikianlah goro-goro yang melanda Indonesia, sebelum terjadinya sudah ada tanda-tanda yang muncul sebagai pemberitahuan dari Tuhan kepada rakyat Indonesia. Akan tetapi tidak banyak yang mau mengerti akan tanda-tanda tersebut bahkan banyak yang justru mengartikannya sebagai hayalan atau ramalan tiada arti. Hasilnya ketika peristiwanya benar-benar terjadi, maka kita belum siap menghadapinya.

Ingatlah Prabu Joyoboyo pernah mengatakan bila nusantara kelak akan dipimpin oleh presiden dengan nama akhiran no to na go ro. Prabu Joyoboyo sepertinya mengetahui siapa saja pemimpin di negri ini. Namun apa yang disampaikan Joyoboyo tersebut sebenarnya merupakan ciptaan Tuhan yang bisa dijadikan ukuran bagi rakyat Indonesia akan terjadinya goro-goro. Joyoboyo hanya penyampai saja.

Apabila kita absen urutan presiden yang menjabat di Indonesia, maka notonagoro mengarah kepada presiden Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur dan Megawati. Dengan absen presiden notonagoro ini diketahui bahwa goro-goro terjadi setelah Megawati selesai menjabat sebagai presiden. Presiden setelah megawati yaitu SBY. Kita lihat saja apa yang terjadi ketika SBY menjadi presiden; ada sunami, luapan lumpur, gempa, rusuh pilkada, penggusuran dan lain sebagainya.

Peristiwa-peristiwa yang melanda Indonesia itu telah merubah negri ini menjadi negara hina dan sengsara. Rakyat banyak yang menderita, kematian terjadi dimana-mana dalam jumlah besar, dan masih banyak lagi yang terjadi, itulah goro-goro. Goro-goro itu terjadi tidak pada saat presiden notonagoro menjabat, tetapi goro-goro yang melanda Indonesia terjadi tepat sesudah presiden notonagoro selesai menjabat.

Dengan demikian keberadaan presiden notonagoro tepat sebelum terjadinya goro-goro merupakan pemberitahuan dari Tuhan kepada rakyat Indonesia melalui prabu Joyoboyo. Apabila kita mau mengerti dengan pemberitahuan itu maka sebelum terjadi goro-goro seharusnya kita mempersiapkan diri menata negara sebaik-baiknya, tapi sudah terlambat. Peristiwanya sudah terjadi dan kini rakyat banyak yang hidup menderita.

2. Peristiwa pada masa Nabi Yusuf as.
Nabi Yusuf as merupakan salah satu rosul Tuhan yang diutus untuk suatu umat di negara Mesir. Singkat cerita Nabi Yusuf as dipenjara di kerajaannya Fir’aun Mesir oleh karena masalah yang terjadi dengan istri Aziz bernama Zulaikha. Sebenarnya Nabi Yusuf berada dalam pihak yang benar, tetapi karena alasan nama baik Aziz dan Zulaikha akhirnya Yusufpun dipenjara. Waktu terus berlalu Nabi Yusuf as hidup dalam penjara.

Pada suatu ketika Raja Fir’aun bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya Raja Fir’aun melihat tujuh ekor lembu gemuk dimakan oleh tujuh ekor lembu yang kurus-kurus. Dia juga melihat dalam mimpinya tujuh tangkai gandum hijau di samping tujuh tangkai yang lain kering. Seluruh pembesar dan pejabat tidak ada satupun yang sanggup menafsirkan mimpi tersebut.

Justru Nabi Yusuf yang hidup di penjara akhirnya dapat menafsirkan mimpi Raja Fir’aun. Mimpi Fir’aun pertanda sebagai akan datangnya masa makmur dan masa paceklik menimpa negri Mesir. Oleh karena tafsir mimpi Nabi Yusuf akhirnya beliau diangkat sebagai bendahara negara. Ketika musim paceklik benar-benar menghampiri, semua dapat teratasi oleh kesigapan Nabi Yusuf as dalam mengantisipasi hal buruk yang ditimbulkan.

Peristiwa yang terjadi pada masa Nabi Yusuf as berbeda dengan goro-goro yang melanda Indonesia. Akan tetapi dalam beberapa hal peristiwa itu memiliki kesamaan yaitu adanya masa sulit yang akan menimpa dalam waktu tertentu. Baik peristiwa masa Nabi Yusuf as maupun goro-goro di Indonesia sama-sama didahului dengan pertanda, bedanya kalo tanda pada masa Nabi Yusuf as berupa mimpi sementara untuk goro-goro berupa presiden notonagoro.

Untuk peristiwa yang menimpa negri Mesir pada masa Nabi Yusuf as dapat teratasi oleh karena penafsiran yang tepat akan pertanda yang ditimbulkan sebelumnya. Tetapi sayangnya di Indonesia, pertanda itu tidak ditafsrikan dengan baik oleh rakyat Indonesia juga pejabat negara. Hasilnya umat nabi Yusuf as selamat menghadapi paceklik sedangkan rakyat Indonesia sengsara menghadapi goro-goro.

Seandainya saja naskah-naskah leluhur ditafsirkan dengan benar terutama hal-hal yang membicarakan mengenai kedatangan goro-goro, niscaya Indonesia tidak akan kelabakan menghadapi goro-goro ini. Namun kenyataannya justru sebaliknya banyak yang masih meributkan arti notonagoro, bahkan ada juga yang tidak percaya akan pemberitahuan itu dan menganggapnya sebagai ramalan kosong. Jadinya kita lihat sendiri, porak poranda dimana-mana.

3. Masa Kalabendu dan Kalasuba.
Zaman Kalabendu merupakan sebuah zaman dimana Indonesia akan mengalami berbagai hal yang tidak menyenangkan baik yang datang dari luar negri maupun dari dalam negri. Pada masa Kalabendu Indonesia dijajah oleh bangsa laen silih berganti untuk meraih apa yang ingin diraihnya dari Indonesia. Saat inipun Indonesia masih dijajah baik langsung maupun tidak langsung.

Apabila ditengok dari ungkapan Joyoboyo bila Kalabendu berlangsung sejak tahun 1800 hingga tahun 2000. Selama masa ini rakyat Indonesia akan menderita dan susah untuk meraih kesejahteraan dan kemakmuran. Jangankan untuk meraih kesejahteraan dalam hidup, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari saja sangat sulit bahkan ada yang harus mempertaruhkan nyawanya.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa Kalabendu sangatlah banyak. Sejarah telah mencatat berbagai bentuk penjajahan asing di negeri ini. Adanya pemberontakan juga berbagai hal mewarnai kehidupan di Nusantara. Beberapa yang disebutkan dalam naskah-naskah leluhur menyebut adanya penjajahan seperti Belanda, Jepang juga menyebut tentang roda pemerintahan di Indonesia.

Masih dalam masa Kalabendu. pada masa ini Joyoboyo menyebutkan akan kehadiran 5 presiden notonagoro. Pada masa notonagoro ini penjajahan masih berlangsung dan perang masih terjadi namun pada saat itu Indonesia sudah memiliki presiden berbeda dengan masa sebelumnya yang tanpa presiden. Tetapi sama saja penjajahan masih ada hingga saat ini.

Setelah bergulirnya presiden notonagoro, zaman Kalabendu akan mencapai puncaknya yaitu terjadinya goro-goro tepat setelah presiden notonagoro selesai memerintah. Peristiwa itu diketahui berlangsung pada tahun 2006-2007 dan hingga 2008 ini goro-goro masih saja terjadi. Lihat saja gempa, rusuh pilkada, penggusuran, kekeringan, bahaya gunung api dan lain-lain belum juga berhenti.

Tapi jangan kawatir karena zaman Kalabendu akan segera berakhir. Sebagaimana hukum keseimbangan ada duka ada suka. Ada Kalabendu (sengsara) kelak akan ada Kalasuba (suka ria). Zamak Kalasuba akan segera hadir untuk menggantikan zaman Kalabendu di Indonesia. Semua penderitaan, tangis, duka dan lara akan terobati dengan bergulirnya zaman Kalasuba di Indonesia.

Yang perlu diingat bahwa bila rakyat terus hidup menderita hingga ada yang bertahun-tahun hidup di pengungsian, sementara pada saat yang sama pejabat tidak peduli akan penderitaan rakyat bahkan pejabat bikin ulah yang menambah rakyat sengsara maka sampe kapanpun semua ini tidak akan berakhir bila tidak diakhiri. Rakyat makin sengsara dan pejabat sudah tidak bisa dipercaya.

Satu-satunya jalan adalah keberanian dari pemimpin untuk melakukan perubahan. Tapi pemimpin yang mana yang bisa melakukan perubahan saat ini. Kondisi seperti inilah yang tepat bagi Satrio Piningit untuk tampil memperbaiki semuanya baik kerusakan alam, manusia dan yang lainnya. Hanya Ratu Adil yang mampu membawa Indonesia menuju ke zaman Kalasuba atas ijin Tuhan.

4. Istilah notonagoro.
Joyoboyo meramalkan bila Indonesia akan dipimpin oleh presiden dengan akhiran nama no to na go ro. Beberapa kalangan menafsirkan apa adanya dari sebutan notonagoro itu sehingga presiden yang sesuai dengan ungkapan itu adalah 5 presiden yang telah menjabat sejak pertama kali di Indonesia. Kelima nama presiden itu adalah Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur, dan Megawati.

Kalangan lain juga berpendapat lain. Dikatakan baru 2 presiden saja yang masuk ke dalam kategori notonagoro yaitu untuk kategori no dan to bagi presiden Sukarno dan presiden Suharto. Karena baru 2 presiden saja yang masuk dalam kategori tersebut, maka untuk kategori na, go dan ro belumlah dijabat. Kalangan ini memprediksi presiden 2009 inilah yang akan mengisi kata na dalam istilah notonagoro.

Masih ada juga kalangan yang menafsirkan berbeda. Kalangan yang satu ini cenderung meyakini bila kata na dalam rangkaian notonagoro itu menunjuk kepada Satrio Piningit yang akan menjabat sebagai presiden tahun 2009 nanti. Alasan yang diajukan yaitu bila setelah kata na dalam rangkaian notonagoro ada kata go dan ro yang mereka tafsirkan sebagai goro-goro. Jadi Ratu Adil akan datang sebelum terjadinya goro-goro.

Begitulah beberapa kalangan yang menafsirkan berbeda-beda tentang rangkaian kata notonagoro dari Prabu Joyoboyo. Diprediksi masih ada penafsiran lain lagi yang lebih unik dengan alasan yang cukup masuk akal beredar di sekitar kita. Ntah mana yang benar dan mana yang salah. Tidak mungkin semua benar dan juga tidak akan mungkin semua akan salah, pasti ada salah satu yang benar.

Apabila mau menelaah lebih dalam lagi di balik rangkaian kata notonagoro, maka kalimat itu menunjuk kepada 3 peristiwa. Peristiwa pertama yaitu Indonesia akan dipimpin oleh 5 presiden yang oleh Joyoboyo disebut namanya berakhiran dengan no to na go ro. Melihat 5 presiden yang telah menjabat di negri ini maka tidak lain dan tidak bukan mereka adalah Sukarno, Suharto, Habibi, Gusdur dan Megawati.

Peristiwa kedua yaitu Indonesia akan diterpa goro-goro yang kedatangannya tepat setelah 5 presiden notonagoro selesai menjabat, dalam hal ini tidak mempermasalahkan kelima presiden itu menjabat 1 atau 2 tahun saja ataukah penuh selama 5 tahun. Titik pusat perhatian peristiwa ini terarah kepada goro-goronya dan bukan kepada presiden notonagoronya.

Peristiwa ketiga yaitu Indonesia harus mempersiapkan diri dan melakukan usaha secara preventif (upaya pencegahan) dengan “menata negara” sedemikian rupa agar pada saat goro-goro menerjang negri ini telah siap baik rakyatnya maupun pejabatnya. Titik pusat perhatian pada peristiwa ini terarah kepada istilah notonagoro yang ditafsirkan sebagai menata negara oleh 5 presiden notonagoro (notonagoro = menata negara).

Begitulah adanya 3 peristiwa di atas yang sebenarnya terjadi di negri ini untuk menafsirkan rangkaian notonagoro. Sekarang kita lihat kenyataannya, goro-goro benar-benar terjadi dan waktunya persis setelah periode presiden notonagoro sudah tidak menjabat. Peristiwa itu terjadi pada tahun 2006-2007 dan sampe detik ini masih juga berlangsung. Untuk itu tidak salah bila notonagoro memang untuk 5 nama presiden tersebut, juga untuk pertanda akan datangnya goro-goro di Indonesia.

Akan tetapi hal yang paling penting adalah pemberitahuan Tuhan pada rakyat Indonesia melalui Joyoboyo dalam istilah notonagoro tersebut. Namun karena penafsiran notonagoro justru masih diperdebatkan padahal peristiwanya sudah terjadi, maka hasilnya ketika goro-goro menerjang negri ini, rakyat Indonesia benar-benar mengalami derita goro-goro hingga saat ini.

5. Goro-goro.
Indonesia dalam beberapa naskah peninggalan leluhur akan mengalami suatu masa dimana pada masa itu huru-hara dan bencana alam terjadi di seluruh wilayah Nusantara. Peristiwa itulah yang kelak disebut goro-goro. Memang tidak lama hanya sekitar 2 atau 3 tahun saja tetapi dampaknya akan sangat menyengsarakan sebagian besar rakyat Indonesia.

Dilihat dari waktu terjadinya, goro-goro terjadi tepat setelah presiden notonagoro selesai menjabat. Kita ketahui bila presiden setelah notonagoro adalah SBY yang menjabat sejak tahun 2004 hingga tahun 2009. Pada masa notonagoro, bebrapa peristiwa telah terjadi seperti perang, pemberontakan dll tetapi tidak akan sedahsyat goro-goro ketika SBY menjabat sebagai presiden.

Tahun 2006-2007 merupakan tahun dimana goro-goro melanda negri ini. Lihat saja peristiwanya ada sunami di Aceh, gunung meletus di Jogja, Luapan Lumpur di Sidoarjo, banjir dan gempa di mana-mana, kerusuhan pilkada dan penggusuran dimana-mana, kekeringan kelangkaan minyak dan lain sebagainya terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Dan masih banyak peristiwa lainnya terjadi beruntun di Nusantara.

Apakah pada masa 5 presiden notonagoro pernah terjadi peristiwa yang bersamaan tersebut?  Apakah sebelum proklamasi kemerdekaan pernah terjadi peristiwa bersamaan itu?  Jawabnya adalah tidak. Semua peristiwa bersamaan itu baru kali ini terjadi di Indonesia, itulah goro-goro yang dimaksudkan dalam naskah-naskah leluhur.

Mungkin diantara anda ada yang berkeyakinan bahwa peristiwa yang terjadi pada tahun 2006-2007 bukanlah goro-goro. Seandainya anda meyakini demikian, trus goro-goro macam apa lagi yang akan terjadi di negri ini. Sepertinya banyak orang yang berlebihan dalam menafsirkan goro-goro. Belum lagi ada huru-hara Internasional sehingga banyak yang berfikir goro-goro belum terjadi.

Apabila goro-goro belum terjadi dan akan terjadi nanti ketika presiden 2009 memerintah, maka pemberitahuan Tuhan harusnya bukan notonagoro, tetapi notonagorosby. Ingatlah bahwa notonagoro bukan sekedar daftar nama presiden Indonesia saja, namun pemberitahuan Tuhan agar menata negara sebelum terjadinya goro-goro. Untuk itulah terjadinya goro-goro tepat setelah presiden Notonagoro selesai menjabat.

6. Puncak Goro-goro.
Dalam naskah-naskah leluhur disebutkan adanya beberapa peristiwa yang termasuk ke dalam puncak goro-goro yang melanda Nusantara. Diantara naskah-naskah tersebut seperti dalam Serat Darmogandul disebutkan bila Sabdo Palon akan datang kembali dan tandanya gunung merapi meletus laharnya ke barat daya. Peristiwa ini sudah terjadi yaitu pada bulan mei tahun 2006 disusul gempa 6,9 SL di Jogjakarta.

Kemudian dalam Kitab Musasar Joyoboyo disebutkan “Tan Kober Apepaes Tan Tinolih Sinjang Kemben”. Kalimat ini diterjemahkan untuk pemerintahan SBY-Kala. Setelah kalimat tersebut kemudian dilanjutkan dengan “Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. Orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.”

“Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua. Wanita hilang kehormatannya. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga”. Inilah peristiwa yang terjadi saat ini.

Sedangkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi menyebut beberapa kejadian goro-goro seperti perebutan tanah, penguasa jahat dll dan itu semua telah terjadi. Ada satu peristiwa lagi yaitu sebelum kemunculan Bocah Angon akan terjadi huru-hara dari satu daerah meluas ke seluruh daerah, peristiwa huru hara itu adalah penggusuran dan rusuh pilkada dimana-mana yang terjadi hingga saat ini.

Masih dari Ugo Wangsit Siliwangi juga disebutkan “Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung”. Peristiwa ini menunjuk kepada gunung merapi di jogja yang telah meletus pada mei 2006. Setelah itu disusul dengan meletusnya 7 gunung. Selain 7 gunung telah meletus masih ada puluhan gunung lainnya yang statusnya dinaikkan menjadi waspada dan awas, ini pertanda akan meletus juga.

7 Gunung Meletus
/ Nama Gunung Meletus Daerah
1 Batutara 17 Maret 2007 Nusa Tenggara Timur
2 Semeru 28 Maret 2007 Jawa Timur
3 Gamkonora 9 Juli 2007 Maluku Utara
4 Soputan 14 Agustus 2007 Minahasa Tenggara
5 Karangetan 20 Agustus 2007 Sulawesi Utara
6 Kelud 3 Nopember 2007 Jawa Timur
7 Krakatau 5 Mei 2008 Selat Sunda

Semua bentuk dan jenis goro-goro telah terjadi pada tahun 2006-2007 dan masih berlangsung hingga saat ini. Namu ada satu peristiwa yang disebut Sabdo Palon dengan “Lawon Sapta Ngesti Aji”. Kalimat ini menunjuk waktu paling sengsara bagi rakyat Indonesia. Dari tahun 2006 dan 2007, diketahui bulan desember 2007 itulah waktu paling sengsara karena pada saat itu banjir terjadi diseluruh wilayah negri ini bahkan didaerah yang tidak pernah banjir sebelumnya.

Melihat semua peristiwa yang disebutkan dalam naskah leluhur telah terjadi semua maka yang tersisa adalah ujung dari zaman Kalabendu. Goro-goro ini bila tidak ditangani maka tidak akan pernah selesai sampe kapanpun. Saat ini pejabat sudah tidak dipercaya lagi akan serius dalam menangani masalah, sementara rakyat juga tidak berdaya menghadapi semuanya. Lantas selesainya dari mana.

Inilah ujung zaman Kalabendu dimana goro-goro dan puncaknya telah terjadi dan rakyat masih saja menderita bahkan bertahun-tahun ada yang hidup dipengungsian. Waktu saat ini adalah waktu yang tepat bagi Satrio Piningit untuk muncul mengakhiri Kalabendu yang telah berlarut-larut membuat sengsara rakyat Indonesia.

7. Kemunculan Ratu Adil.
Semua yang disebutkan dalam naskah-naskah leluhur tentang Goro-goro, Zaman Kalabendu, Huru hara dan segala peristiwa yang menyengsarakan rakyat Indonesia telah terjadi dan menimpa negri ini. Walaupun diakui masih banyak pihak yang tidak mempercayainya, namun lihat saja saat ini goro-goro masih terus saja terjadi dimana-mana di seluruh wilayah Indonesia.

Silahkan bila anda mau mencoba memeriksa kembali naskah-naskah leluhur mengenai goro-goro telah terjadi atau belum. Setelah diperiksa rupanya semua peristiwa zaman Kalabendu telah terjadi. Peristiwa goro-goro dan puncaknyapun juga telah kita alami. Bila semua telah terjadi maka kini saatnya bagi Indonesia untuk memasuki zaman Kalasuba / zaman suka ria. Zaman ini diawali dengan kemunculan Ratu Adil yang sebelumnya tersembunyi.

Banyak yang meyakini Ratu Adil akan muncul di atas tahun 2009 atau sekitar tahun 2014-2015. Apabila ini yang terjadi maka tidak sesuai dengan naskah leluhur yang memberitahukan kemunculan Ratu Adil. Ingatlah bahwa Ronggowarsito menyebutkan ada 7 satrio yang memimpin negri ini. Saat ini telah berjalan 6 satrio, maka tepatlah bila Ratu Adil akan segera muncul sebagai satrio yang ketujuh meskipun tidak menjadi presiden.

Ingatlah tentang daftar nama presiden di Indonesia sejak pertama kali dengan sebutan notonagoro. Goro-goro terjadi setelah 5 nama presiden itu selesai menjabat di negri ini. Apabila goro-goro belum terjadi maka nama presiden itu harusnya ditambah 1 yaitu SBY menjadi notonagorosby. Itu tidak mungkin lagian juga goro-goro sudah terjadi tahun 2006-2007 dan mustahil notonagoro akan diganti dengan notonagorosby.

Selanjutnya kira-kira kapan Satrio Piningit akan muncul?  Melihat bait 159 Jongko Joyoboyo yang menyebutkan “selambat-lambatnya kelak menjelang tutup tahun akan ada dewa tampil berbadan manusia”. Maka tidak salah lagi waktu tersebut adalah akhir Desember 2008. Karena bila akhir desember 2009 atau akhir desember 2014 atau yang lainnya maka akan bertentangan dengan 7 ksatria menurut Ronggowarsito.

Mungkin diantara anda akan menanyakan Ratu Adil pada akhir desember 2008 munculnya bagaimana? apa hanya suara tanpa rupa atau lewat website atau yang lainnya? Untuk menjawabnya telah disebutkan dalam bait 160 Jongko Joyoboyo “itulah tanda putra Batara Indra sudah nampak datang di bumi untuk membantu orang Jawa”. Kata nampak menunjukkan Satrio Piningit akan dilihat orang meskipun hanya dilihat saja dan belum diketahui nama dan tempat tinggalnya.

Inilah waktu yang sudah sangat dekat sekali dengan kemunculan Ratu Adil di Indonesia, untuk membawa Indonesia meninggalkan zaman Kalabendu dan menuju zaman Kalasuba. Sepertinya akan banyak yang tidak percaya akhir desember 2008 sebagai waktu kemunculan Ratu Adil, namun sebaiknya kita tunggu saja waktu tersebut karena tidak lama lagi dan bersiaplah untuk terkejut untuk kemunculannya yang tidak disangka-sangka alias diluar perhitungan orang.

Kontrofersi, Senin 27 Oktober 2008
Eddy Corret.

About these ads